Perang Salib dan Hukum Islam Bagi Pasukan Koalisi Suriah, (1/2)

Ilustrasi

An-Najah.net. — Dunia tersentak. Revolusi Suriah yang diperkirakan hanya memakanwaktu  beberapa bulan ini, ternyata semakin tidak jelas ujungnya. Semula, revolusi ini ‘hanya’ face to face umat Islam –diwakili mujahidin Suriah- dengan Syi’ah –yang diwakili Rezim Suriah dan Iran-.

Kini lain lagi ceritanya, Amerika merasa terancam dengan perkembangan jihad yang semakin hari makin menarik simpati umat Islam. Muslimin dari berbagai Negara berbondong-bondong masuk Suriah, untuk ikut serta dalam jihad yang berbarokah ini. Badan intelijen Amerika mencatat, tiap bulan ada sekitar 1000 muslim yang masuk ke Suriah, bergabung dengan mujahidin.

Inilah yang membuat Amerika merasa terlibat. Dengan berbagai alasan, akhirnya Amerika mengkampanyekan perang melawan teroris ISIS (IS). Data pertanggal 12 november, ada sekitar 60 negara yang terlibat dalam koalis yang dibentuk Amerika ini.

Diantaranya terdapat Negara-negara Timur Tengah, misalnya: Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Mesir, Kuwait, Yordania, Maroko, Oman, dan Lebanon.

John Kerry, menlu AS, sebagaimana dikutip oleh Syaikh DR Iyadh al-Qunaibiy, dalam wawancaranya dengan TV Robi’ah, menyatakan, “Bahwa perang ini, yaitu melawan IS, adalah perang total. Kami akan mengejar IS di pelosok bumi manapun ia bersembunyi.”

“Makna dari pernyataan Kerry ini,” jelas Syaikh al-Qunaibiy,”Bahwa peperangan melawan IS atau yang mereka sebut teroris ini, tidak mengenal batas Negara maupun organisasi. Negera manapun yang mencoba memberikan perlindungan kepada IS maka ia akan dilibas, organisasi manapun yang membela dan memberikan perlindungan kepada IS, maka akan digilas.”

“Bahkan,” Jelas beliau lebih lanjut, “bukan sekedar pada tataran kelompok, bisa jadi pribadi yang dicurigai mendukung IS, juga akan dipukul.”

Penangkapan Syaikh Abu Muhammad al-Maqdese dan Syaikh Al-Arifi oleh pemerintah Saudi merupakan indikasi kuat berjalannya rencan Keryy di Negara-negara Timur Tengah. Karena kedua tokoh yang dihormati oleh umat Islam ini dilakukan atas penolakan mereka atas operasi Salib ini.

Jika al-Maqdese ditangkap karena mengeluarkan fatwa haramnya terlibat dalam koalisi salib ini, bahkan menganggap murtad setiap tentara Islam yang turut serta dalam pasukan koalisi ini, apapun andilnya. Sedangkan al-Arifi, dikabarkan ditangkap karena tidak ikut serta dalam kampanye mendukung pasukan koalisi.

Adapun Syaikh DR. Al-Mohaisini, ulama Timur Tengah yang bergabung dengan mujahidin Suriah menegaskan, bahwa peperangan yang dilancarkan oleh Amerikan dan koalisinya, pada hakekatnya adalah perang terhadap umat Islam Suriah secara keseluruhan, dan terkhusus mujahidin yang mencita-citakan tegakknya syari’at Islam.

Hal ini beliau simpulkan berdasarkan fakta sejarah, dan realitas di Suriah. Sebab, hingga tulisan ini dibuat, Syaikh al-Mohaisini masih berada di front jihad di Suriah. Melihat langsung fakta serangan pasukan koalisi. Dimana mereka menyerang seluruh pejuang, bukan sekedar IS, dan seluruh muslimin Suriah baik yang mengangkat senjata atau penduduk sipil.

“Jika ini perang melawan teroris, bukankah Bashar lebih layak disebut teroris? Ia membunuh ribuan umat Islam. Bukankah Netanyahu, Ariel Sharon dan Israel, lebih layak menyandang gelar teroris?. Kenapa serangan tidak diarahkan kepada mereka. Jika ini benar-benar melawan teroris.?” Tegas Syaikh yang rela meninggalkan kemewahan dunianya di Saudi untuk berjuang bersama muslimin Suriah ini.

Oleh karena itu, dalam penjelasan lisan berdurasi 17 menit yang diunggah oleh chanel resmi mujahidin Suriah ini, Syaikh tidak meragukan kekafiran orang-orang yang terlibat dalam pasukan koalisi Amerika. “Berdasarkan apa yang kami sampaikan tadi, maka sungguh koalisi ini bertujuan memenangkan  panji Salib. Maka terlibat dalam pasukan kolaisi ini adalah riddah (murtad) dari Islam yang sangat gamblang.” Tegas Syaikh al-Mohaisini.

Islamic State (IS) Hanya Millestone

Jika menilisik Serangan koalisi kepada muslimin Suriah, sebenarnya sudah direncanakan jauh-jauh hari. Amerika sudah mencari berbagai macam jalan untuk bisa ikut campur dalam menyerang muslimin Suriah.

Beberapa tahun lalu, Amerika mencoba memasuki kancah perang Suriah dengan memasukkan mujahidin Jabhah Nushroh dalam daftar teroris. Tujuannya, Amerika bisa masuk ke Suriah dengan dalih berburu para teroris dari Jabhah Nushroh.

Namun, makar negara Salib ini gagal. Sebab, diluar perkiraan Amerika, seluruh pejuang ­hatta pejuang sekuler dan seluruh rakyat Suriah, di dalam atau di luar negeri, di medan jihad dan di kamp-kamp pengungsian, mendukung Jabhah Nushroh. Bahkan dengan serempak mereka melakukan aksi dukungan terhadap mujahidin Jabhah Nusroh. Saat itu, Amerika harus gigit jari. Kampanye busuknya terbongkar.

Stigma buruk yang distempelkan kepada ISISI (IS) menjadi ‘anugerah’ bagi Amerika dan sekutunya. Dengan liciknya Amerika menjadikan isu ‘kebrutalan’ dan ‘kekejaman’ IS sebagai batu loncatan untuk merealisasikan tujuannya. Yaitu, membumi hanguskan jihad Suriah dan membunuh setiap orang yang bercita-cita penegakkan Syari’at Islam di Suriah.

Dalam sebuah rekaman video yang diunggah oleh sayap media Jabhah  Nushroh, Syaikh Abu Firasy, jubir resmi mujahidin Jabhah Nushroh, menjelaskan bahwa serangan Amerikan ini tidak sekedar ditujukan kepada mujahidin Jabhah Nusroh, tetapi bagi seluruh faksi jihad dan umat Islam Suriah. Hal ini, terbukti dalam serangan-serangan koalisi yang menargetkan rumah dan kamp-kamp pengungsian penduduk sipil.

Hukum Keterlibatan  Muslimin Dalam Koalisi

Dasar dari kajian ini sudah dijelaskan di atas bahwa perang yang dilancarkan oleh Barat adalah perang melawan umat Islam, pada umumnya dan terkhusus setiap kalangan yang punya keinginan untuk menegakkan syari’at Islam. Dan boleh dikata, serangan ini adalah babak baru perang salib melawan Islam.

Adapun IS (Islamic State), Jabhah Nushroh dan beberapa kelompok pejuang di Suriah hanya batu loncatan untuk merealisasikan tujuannya ini. Dan sebagai legitimasi atas penindasan terhadap Islam-muslimin,

Sementara stigma bahwa ini perang melawan teroris adalah upaya untuk meninanbobokan umat Islam lainnya, yang bukan menjadi target prioritas dari serangan Barat. Sehingga, Barat, terkhusus Amerika bisa mengurangi perlawanan dan resistensi massal dari umat Islam.

Seperti kesimpulan penasehat Gedung Putih Amerika, Huntington bahwa musuh terbesar peradaban Barat adalah Islam. Lebih tepatnya Islam militant. Lebih defenitif lagi, yang mereka maksud Islam militant adalah mereka yang memiliki gagasan menegakkan Islamic Law –syariat Islam-.

Salah satu saran Huntington dalam buku fenomenalnya “The Clash of Civilization” –benturan peradaban-, adalah meminta kepada Negara-negara Barat untuk melakukan serangan dini bagi setiap tempat dan kelompok yang dianggap basis militant.

Pasalnya, konflik antara Islam dan Kristen-Barat adalah konflik yang sebenarnya. Adapun konflik antara Kapitalis dan Marxis, hanyalah sesaat dan bersifat dangkal, (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hlm. 133)

Dalam banyak ayat dan hadits, terdapat banyak penjelasan tentang permusuhan orang-orangkafr terhadap umat Islam. Bahkan bentuk intimidasi dan siksaan yang telah dan akan dilakukan oleh mereka terhadap Islam pun telah dijelaskan secara global oleh Allah SWT.

Allah berfirman

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. “(Qs. Al-Anfaal: 30)

Permasahannya, terkadang umat Islam kurang bisa menghayati pesan-pesan al-Qur’an, dan kurang cakap mengkaitkan pesan-pesan tersebut dengan alam realita.

Ringkasnya begini; Seseorang, kelompok, bangsa atau Negara yang memberikan bantuan kepada orang-orang kafir yang memerangi umat Islam, bagaimanapun bentuk bantuannya berpotensi terjatuh dalam empat jenis pembatal iman: Mudhoharul Kuffar ala’ Muslimin, Muwalatul Kuffar, Menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT, dan Mentaati Orang-Orang Kafir Dalam Kemaksiatan.

Mudhoharotul Kuffar ‘Ala Muslimin

Yaitu menolong orang-orang kafir memusuhi umat Islam. Ini adalah salah satu pembatal keimanan yang disepakati oleh para ulama. Bahkan salah seorang ulama yang berjasa membangun kerajaan Saudi Arabi pun telah menjelaskan pembatal keimanan.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, nama ulama tersebut. Dalam risalah pembatal keislaman beliau menyebutkan, “Pembatal ke-8 yaitu membantu orang-orang kafir dalam memusuhi muslimin. Dalilnya adalah firman Allah SWT,

Syaikh DR. al-Barrok menjelaskan, “Pembatal keimanan yang ke-8 ini adalah membantu orang-orang kafir untuk memusuhi umat Islam, dalam berbagai macam bentuk bantuan. Dan yang paling buruk adalah membantu mereka dalam memerangi umat Islam..yang nampak dari ucapan Syaikh Muhammad adalah semua bentuk bantuan, dan sesungguhnya membantu orang kafir dalam berbagai bentuk bantuan merupakan perbuatan kufur dan riddah (murtad), yang membatalkan keislaman.” (Syarh Nawaqidh, Syaikh Barrok, hlm. 35)

Adapun jika jika bantuan ini disertai dengan rasa benci terhadap Islam, dan keinginan untuk menghinakan umat Islam yang diperanginya. Maka ia terjatuh dalam kekufuran dan kenifakan bersamaan. Hukumannya di sisi Allah SWT semakin berat.

Syaikh al-Barrok, menjelaskan, “Adapun jika pertolongannya kepada orang-orang kafir lahir dari rasa benci terhadap Islam dan umat Islam, serta keinginan untuk menghinakan umat Islam, maka ini adalah perbuatan orang-orang munafik. Allah SWT berfirman

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir[1467] di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu.

” Dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.  Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang; kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (Qs, al-Hasyr: 11-13)

Sedangkan bantuan terhadap orang kafir selain dalam urusan perang, bisa ditakwilkan macam-macam. Terkadang bisa sebagai bentuk kekufuran, kemaksiatan atau bahkan dibolehkan.

Pakar akidah kontemporer, Syaikh DR. Abdul Aziz al-Lathif, menulis, “Adapun menolong orang-orang kafir memusuhi umat Islam, maksudnya adalah menjadi penolong, pembantu, dan sekutu orang-orang kafir dalam memusuhi umat Islam; bergabung dalam barisan kafir, membela orang-orang kafir, baik dengan lisan, maupun pedang. Ini adalah perbuatan yang membatalkan iman.”

Beliau melanjutkan, “Sebagian para ulama menyebut perbuatan ini sebagai tawalli (التولي) . Hanya saja, para mufassirin tidak membedakan antara tawalli dan muwalah (الموالاة). Bagi mereka, keduanya sama saja.” Jelas Syaikh al-Lathif, (Nawaqidul Iman, hlm. 381, penjelasan yang sama bisa dilihat di Tafsir ath-Thobary, 3/140, Majmu’atu Tauhid hlm. 38 & Addurar Assinniyah, 7/201).

Setelah menjelaskan perbedaan pendapat ulama tentang makna tawalli dan muwalah, Syaikh al-Lathif menyimpulkan, “Bagaimanapun kondisinya, yang jelas kedua istilah ini tidak ada yang salah, maupun kontradiktif di kedua istilah itu. Dan yang penting, bahwa membantu, menolong dan membela orang-orang kafir dalam memerangi umat Islam -sama saja, perbuatan ini disebut tawalli atau muwalah- adalah membatalkan keimanan.” (Nawaqidul Iman, hlm. 382)

Menolong orang-orang kafir dalam memusuhi umat Islam, apalagi terlibat langsung dalam memerangi umat Islam, adalah pengkhianatan terhadap Allah, Rasul maupun muslimin. Allah SWT berfirman,

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Al-Maidah: 80-81)

Perbuatan ini jelas-jelas mengundang kemurkaan Allah SWT, dan menjadikan seseorang diadzab di neraka selama-lamanya. Pasalnya, jika keimanan kepada Allah SWT benar dan jujur, tentunya mereka tidak akan menolong (tawalli) orang-orang kafir, (ath-Thobari, 10/498, Ibn Katsier, 3/165)

Syaikh Prof. DR. Abdullah al-Jibrin, salah seorang ulama senior Timur Tengah, menyebutkan ijma’ kekafiran siapa saja yang menolong orang kafir dalam memerangi umat Islam.

“Ketujuh,” jelas beliau, “membantu orang-orang kafir memusuhi umat Islam. Hal ini bisa dengan menolong dan membantu mereka, baik dengan badan, ikut bertempur bersama orang-orang kafir, memberikan senjata, mendanai, mendukung dengan lisan, maupun pena atau selainnya adalah riddah dan mengeluarkan seseorang dari Islam berdasarkan ijma’ kaum muslimin” (Tashilil al-Aqidah al-Islamiyah, hlm. 564).

Dalam penjelasan pembatal keimanan yang kedelapan, pakar hadits kontemporer Syaikh  DR. Abdul Aziz ath-Thuraifi, menjelaskan, siapa yang menolong orang-orang kafir dalam memusuhi umat Islam adalah kekafiran yang sangat nyata. Juga, merupakan bentuk pengkhianatan terhadap Allah, Rasul-Nya dan kaum muslimin. Orang tersebut sangat layak mendapatkan kemurkaan dan hukuman pedih dari Allah, dan ia dihukumi sebagaimana orang kafir yang ia tolong (dikafirkan dan diperangi). Sama saja, bantuan ini bersifat sembunyi-sembunyi atau lebih-lebih dilakukan dengan terang-terangan, (al-I’lam bi Taudihi Nawaqidhil Iman, hlm. 63-64)

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah RHM menghukumi orang-orang yang mengaku Islam tetapi berada bersama tentara Tatar dalam memerangi uatm Islam sebagai orang murtad. Beliau RHM berkata, “Siapa yang bergabung dengan tentara Tatar, memperbanyak jumlah mereka, maka darah dan hartanya halal.” (Addurar, 8/338)

Ketika pasukan Salib menjajah Afrika, sebagian raja kecil muslimin membantu orang-orang Salib ini memerangi kerajaan Islam lainnya. Maka Syaikh al-Allamah al-Wansyarisyi –ulama Malikiyah- menfatwakan, “Adapun orang-orang yang memerangi saudaranya yang beragama Islam dengan bantuan teman-temannya (orang kafir), baik bantuan itu berupa jiwa (tentara) maupun harta, maka pada saat itu ia telah menjadi harbiyin (layak diperangi) seperti orang-orang musyrikin. Cukuplah ini menjadi bukti kekafiran dan kesesatannya.” (an-Nawazil al-Kubro, 1/94-95)* (Mas’ud Izzul Mujahid)

— Makalah ini pernah dimuat di Majalah An-Najah, Edisi 109 —