Perang Salib Fakta Bukan Ilusi

Perang Salib
Perang Salib

An-Najah.net – Penyebab utama meletusnya perang Salib adalah kedengkian orang-orang Kristen kepada Islam dan umat Islam. Umat Islam berhasil merebut wilayah-wilayah strategis yang dulu di bawah penguasa nasrani, membebaskan budak yang mereka tawan dan mengambil kerajaan yang tadinya mereka genggam.

Akibat kedengkian mengalir dalam dada mereka dan api permusuhan yang memanas dalam hati, mereka menunggu kesempatan yang tepat untuk meraih kembali apa yang hilang dari tangannya, balas dendam terhadap umat yang mengalahkannya dan merobek-robek kerajaannya. (Wajah Dunia Islam, Dr. Muhammad Sayyid Al Wakil, Hal 165)

Kesempatan yang ditunggu-tunggu datang ketika umat Islam lemah dan kehilangan jati diri. Juga setelah umat Islam terpecah dan tidak satu langkah. Para agamawan Kristen bangkit menyerukan pembersihan tanah-tanah suci di Palestina dari tangan-tangan kaum muslimin dan membangun gereja dan pemerintahan di dunia Timur.

Peperangan mereka melawan kaum muslimin dinamakan perang Salib karena tentara-tentara Kristen menjadikan Salib sebagai simbol obsesi suci mereka dan melekatkannya di pundak mereka.

Narasi Paus Urbanus II

November 1095 terjadi sebuah pertemuan besar di Clermont, Perancis. Ribuan orang dari berbagai daerah di Prancis berbondong-bondong menghadiri pertemuan ini. Mereka menunggu pidato Paus Urbanus II. Di tengah lautan manusia, Urbanus menyampaikan pidato berapi-api untuk membakar emosi umat Kristen:

“Wahai rakyat Frank! Rakyat Tuhan yang tercinta dan terpilih! Telah datang kabar memilukan dari Palestina dan Konstantinopel, bahwa suatu bangsa terlaknat yang jauh dari Tuhan telah merampas negara tersebut, negara umat Kristen,” ungkapnya.

Paus Gereja Katolik Roma ini menambahkan, “Mereka hancurkan negara itu dengan perampokan dan pembakaran. Mereka bawa para tawanan ke negara mereka. Dan sebagian lain mereka bunuh dengan disiksa secara sadis. Mereka hancurkan gereja-gereja setelah sebelumnya mereka kotori dan mereka nodai. Mereka taklukkan kerajaan Yunani (Byzantium) dan mereka rampas wilayahnya yang sebegitu luasnya hingga seorang musafir tidak akan selesai mengelilingi wilayah itu dalam waktu dua bulan penuh.”

Dari pidato Urbanus ini, pertama-tama ia ingin menciptakan Common enemy (musuh bersama) bagi Kristen barat. Ia membagi dua kelompok yang berkonotasi baik dan buruk. Pertama, kalimat “Rakyat Tuhan yang tercinta dan terpilih”. Penyebutan ini digunakan untuk menimbulkan rasa bangga bagi komunikan.

Kedua kalimat “Bangsa terlaknat yang jauh dari Tuhan”. Penyebutan ini digunakan untuk menimbulkan rasa benci dan antipati terhadap musuh. Dengan penyebutan dua penyebutan ini terciptalah garis demarkrasi yang tegas antara “Kita” orang baik dengan “Mereka” orang jahat yang menjadi musuh bersama.

Selanjutnya pidato itu melakukan tebang pilih fakta untuk menguatkan kesan kejahatan dan kebrutalan musuh bersama. Para peziarah makam suci dari Eropa mendapat gangguan keamanan dari penguasa Seljuk. Tetapi fakta lain menunjukkan bahwa selama Palestina berada di bawah kekuasaan Islam, umat Kristiani yang berdomisili atau yang berkunjung untuk melaksanakan ziarah mendapatkan perlakuan yang baik.

Kemudian isu pencaplokan wilayah Byzantium oleh pasukan Islam untuk menanamkan kesan bahwa Eropa adalah bangsa yang teraniaya. Kesan ini memberikan legitimasi bagi kemungkinan tindakan perang yang diambil Eropa terhadap umat Islam.

Sejatinya isu pencaplokan bukan hal baru. Sudah sejak abad ketujuh, kekaisaran Romawi terus menerus kehilangan wilayahnya oleh perluasan yang dilakukan pasukan Islam. Yerusalem pun sudah berada di bawah kekuasaan Kekhilafahan Islam sejak masa kepemimpinan Umar bin Khattab.

Bahkan, jika ditarik ke belakang, perebutan wilayah sudah terjadi sejak sebelum Islam, ketika dua negara Romawi di barat dan Persia di timur, saling bertukar kemenangan dalam serangkaian peperangan.

Setelah menyampaikan kondisi kezaliman yang dialami kaum Kristiani, Paus Urbanus melanjutkan propaganda terhadap umatnya untuk mengadakan perang salib dengan mengatakan:

“..Tuhan, bukan saya, yang mendorong kalian, wahai tentara Almasih apapun derajat sosialnya, para ksatria maupun serdadu, kaya ataupun miskin, untuk bergegas memusnahkan bangsa hina ini dari tanah kita dan memberikan pertolongan kepada penduduk Kristen sebelum terlambat.”

Mendengar pidato Paus Urbanus II ini para peserta berteriak “Deus vult! Deus vult! (itu kehendak Tuhan),”. Kemudian ungkapan itu telah menjadi slogan perang pasukan Perang Salib.

Urbanus melali khotbahnya sukses menggelorakan semangat perang demi dan atas nama agama. Kesan sebagai perang agama semakin kuat ketika Paus Urbanus menyelipkan simbol-simbol agama. Pekik “Deus Vult” (Itu kehendak Tuhan) ditetapkan Paus Urbanus sebagai yel-yel perang. “Exercitus Dei” (Tentara Tuhan) menjadi nama bagi pasukan salib. Atas perintah Paus Urbanus simbol agama yang paling menonjol adalah penggunaan Salib di bahu dan di dada.

Tidak hanya itu, Paus Urbanus juga memberikan justifikasi bagi tindakan kekerasan yang akan terjadi dalam pertempuran. Perang yang dikobarkannya disebut sebagai “Tebusan Kekerasan” yang patut mendapat pujian.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perang salib pertama-tama dan terutama digerakkan oleh propaganda Urbanus II yang merepresentasikan Gereja Romawi Barat dan diintifikasi sebagai perang suci atau perang demi agama. Namun, Pada akhirnya perang salib yang dipresentasikan sebagai perang suci ternoda oleh tindak kriminal dan pembantaian yang dilakukan pasukan Salib.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 137 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar