Perbedaan Tingkatan Manusia dalam Menerima Nasihat

TIngkatan mansia dalam menerima nasihat
TIngkatan mansia dalam menerima nasihat

An-Najah.net –  Ibnu al-Jauzi pernah berkata, “Tatkala nasihat diperdengarkan kepada seseorang, seringkali muncul dalam dirinya suatu kesadaran spontan. Namun, tatkala ia keluar dari majelis ilmu, hatinya kembali mengeras dan membatu.”

Saya merenungi sebabnya. Rupanya manusia berbeda-beda kondisinya ketika mendengarkan wejangan dan nasihat maupun setelah mendengarkannya. Renungan dan refleksi saya sampai pada dua kesimpulan.

Pertama, nasihat itu laksana cemeti. Ketika seseorang habis dipukuli dengan cemeti itu, ia seringkali tak merasa sakit.

Kedua, tatkala mendengar nasihat, kondisi jiwa dan pikirannya prima. Dia terlepas dari segala ikatan dunia. Diam dan menghadirkan hatinya. Namun, tatkala  kembali disibukkan dengan urusan dunia, penyakit lamanya kambuh.

Kondisi demikian dapat menimpa setiap orang. Hanya mereka yang memiliki kesadaran tinggilah yang bisa mengatasi pengaruh-pengaruh duniawi tersebut. Ada tiga kondisi manusia saat menerima nasehat:

Pertama, bertekad kuat untuk kukuh berpegang pada prinsip yang telah diyakininya. la akan memberontak jika perilakunya tidak Iagi sesuai dengan tabiat diri, seperti Hanzhalah yang pernah mengecam dirinya, “Hanzhalah telah munafik!”

Kedua, terkadang masih terseret kelalaian akibat pengaruh tabiat diri, namun pada saat yang sama nasihat itu masih memengaruhi dirinya untuk beramal. Laksana cabang-cabang pohon yang goyah diterpa embusan angin.

Ketiga, golongan manusia yang tak terpengaruh apa-apa. Sekadar mendengar. Mereka Iaksana batu yang diam. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber : Shaidul Khatir Karangan Ibnu al-Jauzi, (Madaral Watan: cet. I, hal. 52)

Editor    : Ibnu Alatas