Perempuan Keguguran Tak Selalu Nifas

Janin dalam rahim
Janin dalam rahim

(An-najah.net) – Ustadz, apa hukum darah yang keluar pasca keguguran yang dialami oleh seorang perempuan; darah nifas atau darah istihadhah? Jazakumullah atas jawabannya. (‘Abidah—Sukoharjo)

Alhamdulillah. Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan oleh Allah kepada uswah hasanah, Muhammad Rasulullah.

Apabila seorang perempuan mengalami keguguran, hukum darah yang keluar mengikuti hukum apa yang keluar dari isi kandungannya. Jika yang keluar gumpalan darah—umumnya sebelum kehamilan berumur tiga bulan—maka darah yang keluar dihukumi darah istihadhah. Sedangkan jika yang keluar berwujud janin yang sudah berbentuk manusia meskipun kecil, maka darah yang keluar dihukumi darah nifas. Pembentukan manusia ini tidak terjadi kecuali setelah kehamilan berumur 80 hari. Hal ini berdasarkan firman Allah,

“Sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna…” (Al-Hajj: 5)

Dan sabda Nabi saw,

“Sesungguhnya penciptaan setiap kalian di perut ibunya dikumpulkan selama 40 hari, kemudian menjadi ‘alaqah (sesuatu yang menggantung) selama itu pula (40 hari), kemudian menjadi mudhghah (seperti daging yang terkunyah; lembek) selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat dengan empat kalimat.” (HR. al-Bukhari)

Allah menyifati mudhghah dengan “ada yang tercipta” dan “ada yang tidak tercipta”. Maksud tercipta adalah terbentuknya kepala dan anggota badan. Dan itu terjadi—sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw—setelah janin berusia 80 hari.

Oleh karena itulah, apabila seorang perempuan keguguran setelah janin di kandungannya berusia kurang dari 80 hari, maka darah yang keluar tidak dihukumi sebagai darah nifas, tetapi darah istihadhah. Ia tetap wajib shalat—dengan membersihkannya dan memakai pembalut atau sejenisnya—dan pada bulan Ramadhan ia tetap wajib melaksanakan puasa.

Sedangkan jika seseorang keguguran setelah usia kandungannya lebih dari 80 hari, maka mesti dilihat, apakah yang keluar berwujud manusia atau tidak. Jika sudah berbentuk manusia—ada kepala dan anggota tubuh lainnya—maka darah yang keluar dihukumi darah nifas. Dalam keadaan ini seorang perempuan tidak diperbolehkan mengerjakan shalat—tanpa perlu mengqadha`nya dan tidak boleh mengerjakan puasa—dengan harus mengqadha`nya pada hari lain.

Perlu dicatat bahwa mungkin lama nifas pasca keguguran tidak selama masa nifas pasca persalinan sembilan bulan. Yang demikian ini tidak mengapa, sebab para ulama tidak membatasi masa minimal nifas. Yang mereka batasi lama maksimalnya. Demikian, wallahu a’lam. (Anwar/dikutip dari majalah annajah edisi 78 rubrik konsultasi Islam)