Permusuhan Abadi Antara Muslim dan Kafir

Perang abadi
Perang abadi

An-najah. net – Siapapun yang menelaah Al-Qur’an pasti menyimpulkan bahwa sikap orang-orang kafir kepada Islam cenderung membenci dan memusuhi. Sikap lunak yang kadang ditunjukkan kepada umat Islam adalah bagian dari trik agar umat Islam mau mengikuti langkah dan propaganda.

Sejarah manusia penuh dengan episode pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Pada zaman Nabi Adam diciptakan, Iblis iri dan terusik dengan keberadaanya. Para nabi dan rasul berbenturan dengan para mala’; pejabat, penguasa dan pimpinan suku dan kabilah. Pada masa Rasulullah SAW berjuang di Makkah, musuh yang melawannya adalah para kepala suku dan tokoh-tokoh Quraisy.

Permusuhan abadi kelompok kafirin terus berlanjut dengan pion Romawi Salib dan Persia, beserta musuh dalam selimut yaitu Yahudi dan kaum munafikin. Hingga masuklah puncak keemasan Islam yang paling gemilang, orang-orang kafir bermata sipit di bawah komando jengis khan tidak mau ketinggalan ambil bagian sebagai musuh umat Islam. Dan tidak ketinggalan pula para penyembah sapi dan matahari di bagian tengah dan timur Asia ikut andil memusuhi Islam dan para pengikutnya.

Mereka sepakat bahwa Islam adalah musuh nomer wahid yang harus dienyahkan yang telah menghalangi banyak propaganda mereka untuk menggenggam dunia. Dan sisanya adalah barisan kaum munafikin yang menyusup dalam tubuh umat Islam, yang selalu ada setiap zaman dan tempat. Kalau dulu sentra kekuatan berporos pada Persia dan Romawi, kini adalah Iran, Amerika, Rusia dan Uni Eropa. Kalau dulu bermata sipitnya adalah tentara jengis khan, kini adalah China, Korea dan Jepang.  Kalau dulu Yahudi, kini Israel dan kelompok freemasonry. Al-kufru millatun wahidah, kekafiran adalah satu agama.

Akan tetapi sunnatullah selalu mengatakan, “Mereka punya tipu daya dan Allah pun memiliki tipu daya. Dan Allah adalah pemilik tipu daya yang terbaik, tak terkalahkan oleh siapapun.”

 Kenapa orang-orang kafir selalu membenci, menyudutkan dan menyalahkan kaum beriman?

Kita tidak perlu heran ketika Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar telah menguak segalanya dan punya seluruh jawaban atas segala peristiwa di langit dan di bumi. Diantaranya ada tiga ayat yang membuka kedok kebencian mereka atas umat Islam hingga hari ini, baik dari golongan ahlul kitab, musyrikin ataupun munafikin.

Pertama, Allah mengatakan tentang ahlul kitab dalam surat Al-Maidah: 59.

“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, apakah kalian sangat membenci kami, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?’.” (QS. Al-Maidah: 59)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’diy dalam tafsirnya mengatakan, “Apakah kami ini di mata kalian memiliki aib/kesalahan, kecuali hanya kami beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya dan nabi-nabi-Nya yang terdahulu dan sekarang. Dan hanya karena kami berkeyakinan barangsiapa yang tidak mengimani seperti iman kami ini, dia adalah kafir dan fasik?”

Imam al-Baghawi dalam tafsirnya menyebutkan, “Apakah kalian ini membenci kami hanya karena iman kami dan kefasikan (kejahatan) kalian. Sesungguhnya kalian telah membenci iman kami padahal kalian tahu kami ini diatas yang benar. Dikarenakan kalian telah berbuat fasik, dimana kalian menegakkan agama keyakinan kalian atas asas cinta kekuasaan dan cinta harta.”

Kedua, Allah mengabadikan pembantaian muslimin ashabul ukhdud dalam surat Al-Buruj: 1-9:

“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang. Dan hari yang dijanjikan. Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah pemilik parit; yang berapi-api. Ketika mereka (para pembesar Najran) duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Mereka tidak membenci orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruj: 1-9)

Ketiga, Allah beberkan kedok kebencian orang-orang munafik dalam ayat berikut:

“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (Nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kafir, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini sesuatu yang mereka tidak memperolehnya. Dan tidaklah membenci dan mengingkari kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka yang beriman. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka. Dan jika mereka berpaling, niscaya Allah mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.” (QS. At-Taubah: 74)

 

Bentuk kejahatan orang-orang kafir yang Allah abadikan.

Karena berpijak dari asas kebencian dan permusuhan kepada orang-orang beriman, inilah seringkali perlakuan mereka kepada setiap umat bertauhid yang tetap menjaga Laa Ilaaha illallaah. Dimana Allah telah mengabadikannya dalam beberapa ayat.

Pertama, Mengusir orang-orang beriman dari kampung halamannya sebagaimana kisah kaum Nabi Syu’aib.

“Orang-orang besar yang tabiatnya menyombongkan diri dari kaum (Nabi Syu’aib) itu berkata, “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. Syu’aib berkata, “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), karena kami tidak menyukai ajakan kalian?” (QS. Al-A’raaf: 88)

Kedua, Menghina, atau bahkan menangkap, menyiksa, memerangi dan membunuh. Dan ini telah menjadi sunnatullah yang Allah gariskan atas pengikut Nabi dan Rasul, dan diabadikan Al-Qur’an:

“Jika mereka menang atas kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu secara keji; dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.” (QS. Al-Mumtahanah : 2)

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya berkata, “Dan jikalau mereka berjumpa denganmu, atau menang dan berkuasa atas kamu. Mereka akan leluasa menggunakan tangan mereka untuk menyiksa dan membunuhmu. Dan mulut mereka untuk menghina kamu. Dan mereka berharap agar kamu kafir kepada Muhammad. Maka dari itu janganlah bersikap baik kepada mereka, karena sesungguhnya mereka tidak akan bersikap baik kepada kalian.”

 

Status orang kafir di sisi Allah

Pertama, makhluk terburuk di muka bumi.

“Sesungguhnya orang-orang kafir yaitu golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya; mereka itulah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6-7)

Kedua, makhluk hina yang haram untuk dimuliakan.

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, tidak seorangpun yang patut memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)

Imam al-Baghawi dalam tafsirnya mengatakan, “Barangsiapa yang dihinakan oleh Allah, tidak boleh seorangpun untuk memuliakannya.”

Ketiga, tidak boleh belasungkawa atau merasa sedih dengan kematian dan musibah yang menimpa mereka.

“Kemudian mereka (kaum Syuaib yang kafir itu) ditimpa gempa, jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di perkampungan mereka. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Nabi Syu’aib, dan seolah-olah mereka itu belum pernah ada di perkampungan tersebut. Orang-orang yang mendustakan Nabi Syu’aib, mereka itulah orang-orang yang merugi.

Maka Nabi Syu’aib meninggalkan mereka (yang ditimpa azab tersebut) seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu risalah-risalah Rabbku dan aku telah memberikan nasehat kepadamu; maka bagaimana mungkin aku bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?” (QS. Al-A’raaf: 91-93)

Keempat, jenazah orang kafir najis dan tidak layak dimandikan.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini (yaitu tahun ke-9 hijriyah). Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Allah nantinya yang memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 28)

Menurut jumhur ulama’, orang-orang kafir itu ketika masih hidup adalah najis aqidahnya dan kotor jiwanya, bukan najis badannya. (Tafsir al-Manar, 10/241,243)

Dan setelah matinya, menurut sebagian ulama’ dalam pendapat terkuat mengatakan bahwa masalah ini dikembalikan kepada hukum asal bangkai seluruh makhluk hidup. Hukum asal bangkai adalah najis kecuali jika ada dalil yang merubah hukumnya. Contohnya; bangkai hewan laut adalah suci dan halal karena ada hadits, “(Laut) itu suci airnya dan halal bangkainya.” Dan bangkai orang beriman adalah suci tidak najis karena ada hadits, “Sesungguhnya orang beriman itu tidak najis”, sifatnya umum, hidup ataupun matinya. Dan tafsiran Ibnu ‘Abbas, “Janganlah kalian katakan mayat-mayat kalian itu na,jis, sesungguhnya orang Mukmin itu tidak najis, baik hidup ataupun mati.”

Maka selain yang telah disebutkan, harus dikembalikan kepada hukum asalnya bangkai adalah najis. Dan diantaranya adalah bangkai orang kafir dan musyrik. (Syaikh Muhammad Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithi dalam Syarh Zaad al-Mustaqni’, 1/371).

Syaikh Muhammad Shalih al-’Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’, 5/270 menjelaskan, “Jika menyalatkan orang kafir saja dilarang padahal itu adalah perbuatan paling mulia bagi si mayit dan paling mendatangkan manfaat; maka perbuatan yang lebih ringan dari shalat tentunya lebih dilarang. Karena bangkai orang kafir adalah najis, memandikannya adalah haram, karena diantara syarat sahnya mandi adalah Islam.” Wallaahu a’lam.

Penulis :Abu Muslim Zarkasyi

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 138 Rubrik Makalah

Editor : Anwar