Persaudaraan Islam dengan Keimanan Bukan Kebangsaan

Persaudaraan islam Dengan Keimanan bukan Kebangsaan
Persaudaraan islam Dengan Keimanan bukan Kebangsaan

An-Najah.net –  Jangan mati di atas kematian jahiliah. Rasulullah Saw mempertautkan hati kaum Muhajirin dan Anshar dengan jalinan persaudaraan Islam, bukan dengan asas yang lain. Beliau telah mempersaudarakan Bilal bin Rabah dengan Khalid bin Ruwaihah Al-Khatsma’i, antara bekas budak beliau dengan paman beliau Al-Hamzah bin Abdul Mutalib, dan antara Ammar bin Yasir dengan Huzaifah bin Al-Yaman, antara Salman Al-Farisi (dari Persia) dengan Abu Darda

 

Bahaya ‘Ashobiyah

 

Ketika salah seorang dari kalangan kaum Anshar hendak mengunggulkan kaumnya dengan menyeru “Wahai kaum Anshar!” dan kaum Muhajirin juga hendak mengunggulkan kaumnya dengan menyeru “Wahai kaum Muhajirin”, Rasulullah Saw sangat marah dan bersabda, “Apakah kamu masih menyerukan seruan-seruan Jahiliah, padahal aku masih ada di tengah-tengah kamu?!” (HR. Muslim: 2584, Al-Bukhari: 4905)

Baca juga: Problematika Umat Dari Zaman Ke Zaman

 

Ucapan beliau itu diperkuat dengan hadis lain yang berbunyi, “Barang siapa berperang di bawah bendera kesesatan, ia marah karena kebangsaan, menyeru kepada kebangsaan (‘ashabiyyah), atau membela kebangsaan, kemudian ia mati, maka kematiannya adalah (seperti) mati jahiliah.” (HR. Muslim: 1848)

 

Pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, wilayah Islam lebih luas daripada dua imperator Romawi dan Persia. Maka tidaklah ada kelebihan bagi bangsa Arab atas bangsa Iain karena kebangsaannya, jenisnya, atau warna kulitnya, tetapi kelebihan itu hanya diperoleh dengan takwa dan amal shalih. Dan banyak fuqaha’ dan ulama yang menguasai ilmu-ilmu Islam dan cabang-cabangnya di negeri-negeri Islam yang ternyata tidak hanya berasal dari bangsa Arab.

 

Ide kebangsaan dipopulerkan melalui sejarah Eropa lalu berkembang sampai abad-18 atau abad-19. Propaganda mereka kepada paham kebangsaan merupakan seruan pada paham kuno (seperti sukuisme Jahiliah sebelum datangnya Islam). Tetapi sayang, kaum Muslim terperdaya dengan ide usang ini.

 

Indikasi Yang Berbahaya

 

Seruan kepada nasionalisme Arab, Indonesia, atau lainnya merupakan perbuatan orang jahil lagi batil. Ada empat hal yang mengindikasikannya;

 

Pertama, Nasionalisme memecah belah kaum Muslim. Menjadi pemisah antara kaum Muslim Arab dengan yang bukan Arab, Indonesia dengan yang bukan Indonesia. Bahkan antara sesama bangsa Arab sendiri, dan sesama orang Indonesia sendiri, sehingga mereka hidup terkotak-kotak. Padahal, firman Allah Ta’ala jelas dan tegas menyebut, Dan berpegang teguhlah kamu dengan tali Din Allah dan janganlah kamu berpecah-belah! (QS. Ali lmran: 103)

 

Kedua, ide nasionalisme adalah ide jahiliah karena menyerukan kepada selain Islam. Sedangkan seruan apa saja yang keluar dari dakwah Islam dan AI-Quran, baik yang didasarkan pada keturunan, negeri, ras, etnis, mazhab, ataupun lainnya, maka muaranya adalah perbuatan jahiliah.

 

Ketiga, karena asas kebangsaan ini, orangorang akan mengangkat pemimpin yang bukan muslim, dan menjadikannya panutan. Dengan asas kebangsaan ini pula orang akan saling menolong untuk berperang melawan bangsa lain, meskipun bangsa yang diperangi tersebut muslim.

 

Yang demikian itu jelas bertentangan dengan nash Al-Quran dan hadis. Firman Allah, Hai orang-orang yang beriman! janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang Iain. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.’ (QS Al-Maidah: 51)

 

Keempat, seruan kepada kebangsaan menghasut orang untuk meninggalkan hukumhukum Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Karena kaum kebangsaan yang bukan Islam tidak rela berhukum dengan Syariat Islam. Maka para pemimpin kebangsaan akan berpegang kepada hukum-hukum buatan manusia yang bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah demi menyamakan kedudukan bangsa di depan hukum.

Baca juga: Satu Asa Beda Suara

 

Saudaraku, Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Tidak pandang dari suku, warna, atau pun bangsa. Selama kalimat Laillah Illah Muhammad Rasulullah ada di dalam dadanya dengan menjalankan segala konsekuensinya, maka di adalah saudara kaum Muslimin. Wallahu Ta’ala ‘Alam

 

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 47, hal. 38, 39

 

Penulis             : Azhar

 

Editor              : Ibnu Alatas