Pertarungan Antara Al Haq dan Al Bathil

pertarungan
Pertarungan Al haq dan al bathil

An-najah.net – Pertarungan antara keimanan dan kebathilan telah ditaqdirkan sejak dahulu kala. Sejak Iblis laknatullah ‘alaihi bersumpah dihadapan Allah swt untuk melestarikan peperangan dengan hamba-hamba Allah dengan dirinya. Sumpah ini tetap lestari sepanjang zaman. Tidak akan berubah selama langit tidak berubah.

pertarungan
Pertarungan Al haq dan al bathil

Allah Swt berfirman :

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Ketika Iblis putus asa dari rahmat Allah swt, dan ia dijauhkan dari rahmatNya, maka ia bersumpah untuk melanjutkan permusuhannya dengan anak-anak Adam as. Ia bersumpah untuk sekuat tenaga menghalangi mereka dari jalan kebenaran.” (Ibnu Katisr, 3/383 dan as-Sa’di, hlm. 284)

Medan Pertarungan

Karakter Pertarungan Antara Kebenaran dan Kebatilan

Sifat peperangan antara kebenaran dan kebathilan adalah saling mengalahkan, menguasai dan menundukkan. Sehingga dunia ini hanya ada di dua kondisi; dikendalikan oleh al-Islam sebagai symbol kebenaran (alhaq) dan kebathilan tersingkirkan, bertekuk lutut dibawah al-Haq, atau dunia ini dikendalikan oleh kebathilan untuk sementara waktu. Karena sunnatullah menegaskan, kebatilan pasti lenyap dan kebenaran akan tegak.

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (al-Isra’: 18)

Syaikh Abu Qatadah al-Filastini menerangkan, Al Qur’an banyak memuat gambaran dan cara al-Bathil (thgohut) memerangi al-Haq (kebenaran/Islam). Seringkali cara yang dipergunakan adalah sihir. Kebathilan menyihir manusia bahwa seakan-akan apa yang disuarakan dan diusungnya adalah kebaikan.

Kenapa dengan sihir..? Karena pada diri kebathilan seperti ideologi syirik demokrasi, nasionalisme, atheis ataupaun tawaran lain dari kebathilan tidak memiliki daya tawar di hadapan manusia. Semua yang ditawarkan oleh kebathilan adalah rongsokan, sampah yang tidak sesuai dengan fitroh manusia. Baik ideologi, etika maupun akhlaknya.

Maka untuk membungkus kebusukan dan kerusakan ini, mereka menerapkan cara sihir dalam memerangi kebenaran. Memperindah kebathilan dengan berbagai macam cara.

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ

“Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka.” (al-Anfal:48)

زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“(Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (at-Taubah:37)

Dalam ayat lain Allah swt menegaskan takdir permusuhan antara kebenaran versus kebathilan.

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ

“Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.” (Al-Anbiya’: 81)

Permusuhan Hingga Akhir Zaman

Ada sebuah kisah pada zaman rasulullah saw yang menegaskan bahwa hubungan yang ditakdirkan antara kebenaran dan kebathilan adalah permusuhan. Sahabat Amru bin ‘Ash ra bertutur,

“Saya belum pernah melihat kebengisan orang-orang quraisy untuk membunuh nabi Muhammad saw, melebihi apa yang telah aku saksikan. (Kisahnya) Suatu saat, pemuka-pemuka Quraisy berkumpul dibawah naungan Ka’bah bermusyawarah untuk menghabisi nabi Muhammad saw, diwaktu yang bersamaan rasulullah saw sedang melaksanakan sholat di Maqom . Uqbah bin Abi Mu’ith berjalan menuju rasulullah saw yang sedang sholat. Kemudian ia mengikat selendangnya ke  leher rasulullah saw. Lalu ia menyeret beliau dengan kasar. Hingga rasulullah saw jatuh terjerembab. Orang-orang disekitar itu berteriak mengira nabi saw meninggal. Datanglah Abu Bakar ra menyibak kerumunan manusia. Lalu beliau mengangkat lengan rasulullah saw, seraya berteriak (kenapa kalian membunuh orang ini hanya lantaran mengucapkan lailaha illallah, tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah swt..?).

Beberapa saat kemudian, orang-orang membubarkan diri, termasuk si Uqbah –la’anahullah-. Lalu rasulullah saw bangun melaksanakan sholat. Setelah sholat, beliau lewat dihadapan pemuka Quraisy yang sedari duduk di dekat Ka’bah. Dengan lantang beliau berseru, “Wahai segenap orang Quraisy, sungguh demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku tidak datang kepada kalian kecuali dengan untuk menyembelih.” Sambil menunjuk kea rah leher beliau saw. “Wahai Muhammad aku bukan manusia tolol.” Teriak Abu Jahl yang menanggapi seruan rasulullah saw. Beliau saw menjawab, “Engkau, wahai Abu Jahl, bagian dari mereka (yang akan disembelih).” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Demikian taqdir antara kebenaran dan kebathilan selalu ingin menguasai dan mengalahkan. Rasulullah saw bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Saya diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga mereka bersaksi, ‘tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah.’ Dan ‘Muhammad adalah rasulNya.” Serta mendirikan sholat, menunaikan zakat. Jika mereka sudah melaksanakan itu semua maka darah dan harta mereka terjaga. Tidak halal ditumpahkan, kecuali karena haknya. Dan hisab mereka ada pada Allah swt.” (HR. Muslim)

Ya kebenaran harus mengalahkan kebathilan, harus menundukkan para thoghut yang mengusung madzhab bathil.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (al-Anfal: 39)

Dan kebatilan pun tidak akan diam. Ia akan berusaha menghancurkan kebenaran. Tentu kebenaran yang dimaksud adalah al-Islam.

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat.” (al-Baqarah: 217)

Salah satu buktinya adalah peperangan melawan orang-orang Persia, yang –wallahu a’lam- dalam hal ini adalah orag-orang syi’ah yang kini sudah mulai menampakkan kekuatannya di jazerah arab. Baca juga artikel (Tanpa Jihad, Indonesia Tiada)

Dikuti dari Majalah An-Najah edisi 68 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar