Pertarungan Wali Allah dengan Wali Syaitan

Pertarungan wali allah dan syaitan
Pertarungan wali allah dan syaitan

An-Najah.net – Bagi orang beriman, Al-Quran dan As-Sunnah adalah pedoman hidup yang utama. Keduanya menjadi patokan dalam menata keyakinan, perkataan dan perbuatan. Keduanya juga menjadi  panduan dalam memetakan sikap manusia dan menilai keberpihakan seseorang.

Al-Qur’an dan As-Sunnah menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua kelompok. Ada manusia yang menjadi wali Allah. Ada pula yang menjadi wali syaitan. Masing-masing kelompok memiliki kriteria jelas sehingga seorang muslim bisa memilah antara wali Allah dengan wali syaithan.

Seorang muslim perlu mempelajari kriteria wali Allah agar dapat masuk dalam golongan tersebut. Tetapi yang tidak kalah penting, memahami karakter dan seluk beluk wali-wali syaitan. Supaya dapat memahami kebenaran dengan utuh dari dua sisi.

Allah SWT berfirman:

اللهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ  هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257)

Secara garis besar, ayat di atas menegaskan bahwa kelompok manusia yang menyambut dakwah para rasul, beriman kepada kitab-kitab Allah SWT sebagai auliyaur rahman atau wali Allah. Sedangkan kelompok yang menolak arahan para nabi lalu congkak sebagai wali syaitan.

Salah satu literatur klasik yang mengkaji tentang wali Allah dan wali Syaitan ialah buku Al-Furqan bayna Awliyaur Rahman wa Awliyaus Syaithan karya Ibnu Taimiyyah RHM. Menurut beliau, wali syaitan adalah manusia yang mengikuti dan melanggar perintah Allah SWT. Keyakinan, perkataan dan perbuatan mereka bertentangan dengan perintah Allah SWT dan sunnah rasul-Nya. Mereka tersesat jalan akibat tertipu beragam manipulasi, bisikan dan janji-janji syaitan.

Dari sudut pandang di atas, personifikasi wali syaitan adalah orang-orang kafir, orang-orang musyrik, kaum munafikin hingga ahlu maksiat yang melalaikan Allah SWT. Kadar kesesatan mereka berbeda-beda sesuai tingkat pengingkaran terhadap aturan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Menurut Syaikh Safar Hawali, ada satu pesan menarik dari ayat di atas dari sudut pandang bahasa. Ketika menjelaskan wali Allah, Al-Qur’an menggunakan bentuk mufrad atau tunggal. Ini diwakili dengan kata “Allah” dan An-Nuur (cahaya) yang berarti Islam. Namun, ketika mengupas wali-wali syaitan, Al-Qur’an membahasakannya dengan kata plural atau jama’ berupa at-thaghut (para thaghut) dan adz-dzulumat (kegelapan-kegelapan). Hal itu menunjukkan bahwa tuhan dan rujukan orang-orang kafir beragam. Ada thagut dalam urusan syahwat, politik, undang-undang, ibadah dan lain-lain. Kadang thagut dipersonifikasikan dengan manusia, seperti Firaun, Haman dan Namrudz . Di zaman modern, berhala-berhala yang dituhankan berubah menjadi beragam ideologi yang berlawanan dengan Islam.

Menurut Ibnu Taimiyyah, sebab utama manusia menjadi wali syaitan ialah tidak mengikuti bimbingan para rasul. Orang-orang kafir maupun musyrik dari berbagai peradaban di bumi ini telah mencapai keunggulan di berbagai bidang. Baik ilmu pengetahuan, teknologi hingga kebaikan sosial kepada sesama manusia. Namun sayangnya mereka tidak beriman kepada para rasul sehingga tidak menjadi wali-wali Allah.

Manusia yang tidak masuk golongan wali Allah rentan mendapat bisikan syaitan dengan beragam cara. Karena itu, meski telah mencapai peradaban tinggi, orang-orang kafir cenderung percaya ramalan kuno, mendewakan hal-hal magis, menuhankan logika, menjadi budak nafsu hingga melanggengkan praktik syirik, kezaliman, perbuatan cabul dan bidah. Karena itu, syaitan turun kepada mereka dan menjadi teman mereka. Mereka menjadi wali syaitan dan bukan wali Ar-Rahman.

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ . تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ  . يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ .

Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. (QS. As-Syu’ara: 221-223)

Dalam dunia nyata hubungan antara wali Allah dan wali syaitan tidak pernah harmonis. Keyakinan dan narasi antara kedua kubu selalu berbenturan. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-An’am: 121)

Ketika friksi semakin meruncing, para pengikut thagut tersebut meningkatkan kadar permusuhan dengan memerangi wali-wali Allah.  Al-Quran dengan tegas menyebut mereka sebagai wali syaitan:

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa: 76)

Tujuan Wali Syaitan

Menurut Imam Al-Baghawi dalam tafsir Maalimu Tanzil, wali-wali syetan membuat segala makar untuk mengeluarkan  wali Allah dari kondisi terang menuju kegelapan. Cahaya dan kegelapan adalah kiasan untuk Islam dan kekufuran. Allah SWT sebagai wali orang beriman membimbing manusia dari gelapnya kekufuran menuju cahaya iman. Sedangkan syaitan yang menjadi thagut memiliki misi sebaliknya; mengeluarkan manusia sebanyak-banyaknya dari keimanan menuju kekufuran.

Para pengikut syaitan pun memiliki kecenderungan yang sama. Sejak rasul pertama hingga akhir zaman nanti, para wali syaitan konsisten dengan prisip dan misi tersebut. Salah satu contohnya ialah para tetua yahudi pada zaman Nabi. Meski mereka mengetahui kebenaran, namun para tokoh Yahudi seperti Kaab bin Asyraf dan Huyay bin Akhtab berupaya menggiring umatnya menjauhi cayaha Islam. Ketika Rasulullah SAW mengajak kaum Quraisy beriman, Abu Jahal, Abu Lahab dan para tetua musyrik Makkah lainnya berupaya meredam dakwah dengan segala cara.

Allah SWT berfiman:

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir,” (QS. AN-Nisa: 89)

Dari ayat ini menyimpulkan bahwa tidak akan pernah ada titik temu antara wali Allah dan wali syaitan baik di dunia maupun di akhirat. Meski demikian sunnatullah yang pasti terjadi memihak para wali Allah. Allah SWT berkehendak memenangkan agama ini di hadapan para penentangnya. Kebenaran akan tegak hingga kebatilan akan lenyap dan benar-benar sirna.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi Rubrik Tema Utama

Editor : Abu Mazaya