Waspadai Jahiliah Modern Di Zaman Ini!

islam dan jahiliyah
islam dan jahiliyah

An-Najah.net – Orang Jahiliah zaman dahulu paham arti tauhid, tetapi tidak mau mengucapkannya, dan orang jahiliah sekarang pandai mengucapkan tauhid, tetapi tidak paham apa maksud dan isinya. Inilah yang dinamakan orang pada zaman ini dengan ‘jahiliah modern (kutipan Buya Hamka, Kesepaduan Iman dan Amal Saleh, hlm. 37)

Dalam Al-Quran, kata Jahiliah disebutkan Allah Ta’ala sebanyak empat kali. Masing- masing disebutkan dalam arti sebuah keyakinan (zhann al-jahiliyyah), sistem hukum (hukm al-jahiliyyah), prilaku gaya hidup seperti orang jahiliyyah (tabarruj al-jahiliyyah) dan watak kesombongan (hamiyyah al-jahiliyyah) .

Menurut Al-Maududi, Jahiliah adalah setiap cara pandang yang tidak sesuai dengan cara pandang Islam, yang dari cara pandang yang tidak islami tersebut lahirlah perbuatan-perbuatan jahiliah. (Abu A’la Al-Maududui, Islam dan Jahiliyah, tt, hlm. 22-23)

Sayyid Qutb menegaskan bahwa Jahiliah adalah segala sesuatu yang merenggut dan mengambil hak prerogatif (kekuasaan berhukum) Allah Ta’ala dalam membuat dan menetapkan suatu hukum, aturan, dan undang-undang.

Dalam pandangan Sayyid Qutb masyarakat Islam bukanlah sebuah perkumpulan atau kelompok manusia yang menamakan diri mereka ‘Muslim’ sedangkan syariat Islam tidak dijadikan undang-undang masyarakat tersebut, walaupun mereka patuh melaksanakan shalat, mengerjakan puasa, dan menunaikan haji ke Mekah. Masyarakat Islam juga bukan perkumpulan atau kelompok manusia yang membuat ‘Islam’ versi mereka sendiri; bukan Islam yang ditetapkan oleh Allah SWT dan yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW. (Sayyid Qutb, Ma’alim fi al-Tariq (Kairo: Darusy Syuruq, 1979), hlm. 149-150)

Muhammad Qutb menekankan bahwa Jahiliyah adalah menolak untuk menjadikan syariat Allah sebagai pedoman hidup, dan membuat suatu aturan, adat, tradisi dan undang-undang yang menolak hukum Allah. (Muhammad Qutb, Jahiliyyah al-Qarn al-‘Isyrin, (Cet XII, Kairo: Darusy Syuruq, 1992), hlm.22)

Masyarakat Islam Vs Jahiliah

Dari pemaparan di atas bisa dikatakan ‘jahiliah’ adalah kata untuk seluruh perkara yang bertentangan dengan ajaran Islam, baik pelanggaran besar yang berakibat kekafiran atau pelanggaran kecil yang tidak berakibat kekafiran. Semuanya dikatakan Jahiliah karena seluruh pelanggaran atau perkara yang bertentangan dengan ajaran Islam tidak mungkin bersumber dari ilmu, melainkan dari kebodohan. Baik pelanggaran itu disebabkan karena ketidaktahuan atau karena dominasi hawa nafsu yang mengalahkan dorongan keimanan.

Banyak sekali kasus di Indonesia belakangan ini, yang mengarah kepada penistaan agama, sebagaimana perkataan gubernur Jakarta, “Kalian di bohongi dengan Al-Maidah 51”.

Ada pula menista dengan puisi “Kau suruh aku bertaqwa, khutbah keagamaanmu membuat aku sakit jiwa”,  “Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara setiap saat”.

Atau yang masih hangat di telinga kita, “Aku tak tahu syari’at Islam, yang ku tahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah, lebih cantik dari cadar dirimu. Aku tak tahu syariat Islam, yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok, lebih merdu dari alunan azan mu”.

Atau mengatakan kitab suci adalah fiksi dengan berbagai dalih untuk menguatkan pendapatnya, padahal kita meyakini bahwa Al-Quran adalah kalamullah Ta’ala, yang tiada keraguan di dalamnya.

Dan masih banyak penista agama dikarenakan kebodohannya, yang didominasi oleh hawa nafsu belaka, bukan dilandasi dengan ilmu, iman dan takwa.

Ibarat air dan minyak, Islam dan Jahiliah tidak akan pernah bisa menyatu dan hidup rukun berdampingan. Islam tetaplah Islam; yang tidak boleh tercampur sedikitpun dengan kejahiliahan. Dan Jahiliyah tetaplah jahiliah, meski ia diberi label keislaman apa pun yang dilekatkan padanya. Hanya ada satu penyelesaiannya, Islam yang menang dan Jahiliah yang hancur berkecai; atau sebaliknya. Tidak ada penyelesaian yang setengah-setengah; setengah Islam dan setengah jahiliah. Pilihan yang ada hanyalah: Islam saja; atau jahiliah.

Oleh itu, agar bisa mengarungi hidup secara islami, seorang Muslim — mau tidak mau — dituntut untuk melawan sistem Jahiliah yang senantiasa menghalangi kokoh dan kembalinya sistem Islam yang dijunjung tinggi olehnya. Wallahu ‘alam

Penulis : Ibnu Jihad

Editor : Abu Mazaya