Pro Kontra Vaksinasi – Imunisasi

Ilustrasi Vaksinasi - Imunisasi
Ilustrasi Vaksinasi – Imunisasi
Ilustrasi Vaksinasi - Imunisasi
Ilustrasi Vaksinasi – Imunisasi

An-Najah.net – Ustadz, alhamdulillah saya baru saja dikaruniai seorang anak. Saya dan istri dihadapkan pada dilema. Sebagian teman menyarankan untuk memberikan imunisasi untuk bayi saya. Sebagian yang lain melarangnya, karena berbagai alasan. Salah satunya karena—katanya—tidak diperbolehkan oleh para ulama. Ketika saya browsing di internet, saya dapati pro kontra tentang imunisasi ini. Bagaimanakah sebenarnya Fiqh Islam memandang masalah imunisasi ini? (Ahmad—NTB)

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

Vaksinasi atau pemberian vaksin diberikan untuk merangsang sistem imunitas tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit.

Vaksin berasal dari bahasa latin vacca (sapi) dan vaccinia (cacar sapi). Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau liar.

Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif. (http://infoimunisasi.com/vaksin/definisi-vaksin/)

Vaksinasi atau imunisasi tidak dikenal dalam kedokteran Islam pada masa Salaf. Meskipun demikian, tidak semua yang baru tidak diperkenankan dalam Islam. Secara semangat, vaksinasi atau imunisasi sudah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW. Dalam hadits beliau,

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتِ عَجْوَةٍ لَمْ يَضُرَّ هُذَلِكَ الْيَوْمُ سُمٌّ وَلَا سِحْرٌ

“Barangsiapa makan tujuh butir kurma ajwa di pagi hari, niscya racun dan sihir tidak mempan padanya pada hari itu.” (HR. Imam al-Bukhari dan Muslim)

Hukum Asal

Hukum asal imunisasi atau vaksinasi kembali kepada hukum bahan-bahan yang digunakan untuk praktik keduanya. Apabila bahan bakunya mubah (dibolehkan), bukan najis, dan tidak mengandung najis, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu diperbolehkan.

Syaikh Sa’ad bin Nashir asy-Syatsriy berkata, “Di antara masalah yang berkenaan dengan wabah dan penyakit menular adalah hukum vaksinasi dalam rangka mencegah penyakit tersebut. Maka kami katakan, “Vaksinasi ada dua. Yakni yang dampak positifnya telah diketahui berdasarkan penelitian ilmiah, bahwa ia dapat membentengi tubuh dari penyakit tersebut dengan izin Allah. Vaksinasi yang seperti ini hukumnya sama dengan hukum pengobatan. Bahkan ia adalah salah satu bentuk pengobatan.

Praktik ini masuk ke dalam keumuman sabda Nabi SAW, ‘Berobatlah kalian!’. Kedua, imunisasi dengan bahan mubah untuk digunakan tetapi menyebabkan mudharat bagi badan. Vaksinasi yang seperti ini jelas tidak boleh. Ketiga, imunisasi dengan bahan yang haram atau najis, akan tetapi ia telah diproses secera biokimia, ditambahkan padanya bahan-bahan yang mengubahnya sehingga telah terjadi proses istihalah (perubahan zat dan sifat, seperti arak yang berubah menjadi cuka), dan kemudian mendatangkan manfaat. Yang demikian ini diperbolehkan dalam kondisi kebutuhan yang mendesak atau darurat.”

Fatwa MUI

 Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang hukum imunisasi. Fatwa dengan nomor 4 tahun 2016 itu menjawab hukum imunisasi yang selama ini menjadi perdebatan di tengah masyarakat.

Fatwa tersebut menyatakan bahwa pada dasarnya imunisasi dibolehkan (mubah), sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu.

Namun, vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci. Sementara, penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan atau najis hukumnya haram.

Imunisasi dengan vaksin yang haram dan atau najis tidak dibolehkan kecuali digunakan pada kondisi darurat, belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci, dan adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal.

Jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib.

Imunisasi tidak boleh dilakukan jika berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, menimbulkan dampak yang membahayakan.

Pijakan MUI

 Di antara pijakan MUI dalam mengeluarkan fatwa tersebut di atas adalah pernyataan Imam Nawawi. Beliau berkata, “Sahabat-sahabat kami—yakni pengikut madzhab Syafi’i—berpendapat. ‘Sesungguhnya berobat dengan menggunakan benda najis dibolehkan apabila belum ditemukan benda suci yang dapat menggantikannya. Apabila telah didapatkan—obat dengan benda suci—maka haram hukumnya berobat dengan benda-benda najis. Inilah maksud dari hadits, ‘Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesehatan kalian pada sesuatu yang diharamkan atas kalian.’ Maka berobat dengan benda najis menjadi haram apabila ada obat lain yang tidak mengandung najis dan tidak haram. Apabila belum ditemukan selain benda najis tersebut, sahabat-sahabat kami berpendapat, ‘Dibolehkannya berobat dengan benda najis apabila para ahli kesehatan menyatakan bahwa belum ada obat kecuali dengan  benda najis itu, atau obat –dengan benda najis itu—direkomendasikan oleh dokter muslim.” (Al-Majmu’, 9/55)

Wallahu a’lam.

Sumber : Dikutip dari Majalah An-Najah Edisi 140 Rubrik Konsultasi Islam hal : 56

Penulis : Ust. Imtihan Syafi’i Direktur Pondok Pesantren Ma’had Ali An Nur, Waru, Baki, Sukaharjo

Editor : Anwar