Problematika Umat Dari Zaman Ke Zaman

Problematika Umat
Problematika Umat

An-Najah.net – Hanya berislam secara kaffah seseorang mendapatkan kemulian dihadapan Allah Ta’ala dan manusia. Bila kita melihat kondisi umat Islam di era ini, maka ada beberapa hal yang patut kita cermati.

Ma’asyiral muslimin, sidang sholat jum’ah rakhimakumullah.

Persoalan pertama, hilangnya sumber kekuatan umat Islam.

Baca juga: Khutbah Jumat, Ketika Ilmu menjadi Langka dan Kebodohan Meralalela

Sumber kekuatan tersebut adalah din Islam. Maka benar yang dikatakan oleh Umar bin Khattab:

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلَامِ فَمُتَى ابْتِغَيْنَا بِغَيْرِ الإِسْلاَمِ أَذَلَّنَا اللهُ

“Kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka setiap kami mengharapkan kemuliaan di luar Islam, Allah menghinakan kami.” (At-Tobari, Jami’ul Bayan, jilid 13, hal. 478)

Karena itu, seorang muslim, tidaklah akan mendapatkan kemuliaan bila ia mencarinya di luar Islam. Seorang muslim yang mencari kekuatan di luar Islam, pada hakikatnya ia Iemah, meskipun merasa dirinya kuat. Ia fakir, meskipun merasa dirinya kaya.

Islam adalah sumber kekuatan. Bila kaum muslimin berpegang teguh dengan lslamnya, niscaya ia akan mengalami kejayaan. Namun bila tidak, ia akan dihinakan oleh Allah Ta’ala dan dijadikan sebagai hidangan bagi anjing-anjing Barat.

Banyak dari generasi Islam hari ini, yang berbangga dengan mengikuti budaya Barat. Mereka bangga ketika istri-istri mereka melepas jilbab. Berdandan dengan dandanan yang diharamkan Islam. Bangga dengan berpakaian merangsang yang mereka pakai di tempat-tempat keramaian.

Baca juga: Khutbah Jumat: Dahsyatnya Gelombang Penghancur Iman dan Akhlak

Bangga ketika melakukan kemaksiatan dan kefasikan. Sebaliknya mereka malu ketika melakukan ketaatan pada Allah Ta’ala. Malu ketika menegakkan shalat jamaah di masjid. Malu ketika memakai pakaian muslim atau muslimah. Padahal kebanggaan yang bertentangan dengan Islam hanya akan menghinakan ia di hadapan Allah Ta’ala.

Ma’asyiral muslimin, sidang sholat jum’ah rakhimakumullah.

Persoalan kedua, ikatan Islam terurai sedikit demi sedikit.

Dari Abi Umamah Bahili Rasululah Saw bersabda,

لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا، وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

Ikatan Islam betul betul akan terurai satu persatu. Dan setiap kali terlepas satu ikatan, maka manusia akan bergantung dengan ikatan berikutnya. Yang pertama adalah terlepasnya hukum dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad: 22160)

Dalam hadis di atas, Rasulullah Saw sampaikan bahwa yang pertama kali terlepas adalah hukum. Hukum ini, beserta ruang lingkupnya, mulai terlepas satu demi satu, semenjak masa khalifatur rasyidin berakhir.

Apa yang dahulu ada di kekhilafahan ini, seperti majlis syura, penjagaan harta, dan penyampaian hak-hak mulai hilang satu persatu. Dan berubahlah kekhilafahan yang berbentuk syura kepada raja yang menggigit. Mewariskan secara turun-temurun dari bapak kepada anaknya. Perkara hukum mulai diserahkan kepada bukan ahlinya dan amanah mulai disepelekan.

Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang menyerahkan (perkara) kaum muslimin ini kepada seseorang, padahal ada orang yang Iebih baik darinya, maka ia telah menipu Allah, Rasul dan orang-orang mukmin.

Baca juga: Khutbah Jumat: Saat Kebohongan Dan Kemunafikan Merajalela

Bukankah nubuwah nabi di atas sudah banyak terjadi di era ini. Seseorang yang menyerahkan kekuasaan kepada seseorang, padahal ia tahu ada orang yang lebih ahli dan baik darinya dalam membawa kekuasaan itu, maka ia telah menipu Allah, Rasul dan orang-orang mukmin.

Ma’asyiral muslimin, sidang sholat jum’ah rakhimakumullah.

Bila kita melihat fenomena hari ini, maka kita dapati hukum Islam telah terurai satu persatu. Hukum Islam telah digantikan dengan hukum yang lain. Aturannya diubah dan pemahamannya dikaburkan. Kebodohan, bid’ah, khurafat, gambaran yang rusak dan pemikiran yang membawa kepada kekafiran, telah tersebar luas di tengah kaum Muslimin.

lni semua adalah hasil dari perbuatan pemimpin Islam yang menyebarkan kebodohan, meremehkan ilmu dan memerangi dakwah di berbagai belahan dunia. Setiap ada dakwah yang bersungguh-sungguh untuk mengajarkan kepada manusia bahwa Allah Ta’ala itu satu, Allah Ta’ala adalah pemilik hukum dan kemuliaan umat Islam terletak pada Islam, maka ia akan dihancurkan, pelakunya dijebloskan ke penjara atau dihukum mati.

Sementara dalam waktu bersamaan, ia memberi kesempatan kepada khurafat dan bid’ah untuk berkembang, kemaksiatan merajalela. Maka yang tersebar di tengah manusia adalah kebodohan dan kerusakan. Sehingga Allah Ta’ala mengirimkan berbagai bencana karena murka kepada hamba-Nya.

Ma’asyiral muslimin, sidang sholat jum’ah rakhimakumullah.

Persoalan ketiga, meninggalkan jihad.

Jihad adalah bentuk kekuatan kaum muslimin dan sebab kemuliaannya. Dengan jihad kaum muslimin menjadi kuat di hadapan musuh-musuhnya. Hari ini kaum muslimin telah meninggalkan jihad, mencintai dunia dan takut mati. Maka benarlah apa yang telah diprediksikan oleh Rasulullah Saw, 14 abad silam. Beliau pernah bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ»

Apabila kalian telah melakukan penjualan secara kredit beserta tambahan harga mengikuti ekor sapi, suka terhadap pertanian: dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak dilepaskan dari kalian sampai kalian kembali kepada dien kalian.” (HR. Abu Dawud: 3462)

Baca juga: Khutbah Jumat, Terapi Penyakit Futur Bagi Aktivis

Ketika kaum musimm meninggalkan jihad, maka Allah Ta’ala menimpakan kehinaan kepada mereka. Dahulu, Islam berada dalam satu kekhilafahan. Simbol persatuan dan kesatuan. Semua kaum muslimin tunduk pada kekhilafahan ini. Namun setelah kekhilafahan ini runtuh pada tahun 1924, disebabkan meninggalkan jihad. Umat Islam berada di bawah kekuasaan orang kafir. Wilayahnya pun direbut dan dibagi-bagi di antara mereka.

Maka muncullah ltalia, Perancis, lnggris, Belanda, Spanyol, dan Portugal. Sebagian umat Islam saat itu berada di bawah kekuasaan Perancis. Sebagian yang lain dibawah kekuasan lnggris. Hukum Islam diberangus dan digantikan dengan hukum mereka. jihad disingkirkan dan kaum muslimin disibukkan dengan perkara-perkara yang remeh.

Ma’asyiral muslimin, sidang sholat jum’ah rakhimakumullah.

Wilayah Islam yang dahulu merupakan wilayah yang luas, oleh mereka kemudian dipecah-pecah menjadi negara-negara kecil, yang jumlahnya Iebih dari 80 buah. Setiap negara di dalamnya dimunculkan masalah-masalah, di samping dibuat bergantung kepada dirinya.

Dimunculkan fitnah dan konspirasi untuk mengadu domba satu dengan yang Iainnya. Iran diadu dengan lrak, Yaman dengan Oman, Mesir dengan Sudan, dan sebagainya. lni semua tentunya menjadikan kaum muslimin semakin Iemah.

Di samping mengadu domba, mereka juga menanamkan pengaruh-pengaruhnya. Diantaranya adalah hukum jahiliyah, pendidikan sekuler, perilaku buruk, bahasa dan adat istiadat yang menyimpang jauh dari ajaran Islam. Waliyadzu billah

Akibatnya, kaum muslimim tumbuh tidak pada gambaran jernihnya. Sebagaimana telah diwariskan oleh para pendahulunya. Maka yang muncul adalah perpecahan, perselisihan pandangan dan kekacauan, yang itu semua berujung kepada kehinaan diri.

Baca juga: Khutbah Jumat ; Menjadi Manusia Terasing di Akhir Zaman

Itulah beberapa persoalan umat yang menjadi keprihatinan kita bersama. Sémoga AIIah Ta’ala memberikan jalan keluar yang terbaik bagi kita semua. Dan menguatkan kita untuk menempuh jalan tersebut.

Ma’asyiral muslimin, sidang sholat jum’ah rakhimakumullah.

Islam adalah din yang sempurna. Memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan dengan jalan yang logis dan sesuai dengan fitrah manusia. Termasuk permasalahan-permasalah yang kami jelaskan di depan.

Islam memberikan konsep dakwah, amar ma’ruf nahyu munkar dan jihad fi sabilillah dalam menghadapi realita ummat hari ini. Dengan dakwah kita pahamkan ummat bahwa kemuliaan hanya dengan Islam. Hanya berislam secara kaffah seseorang mendapat kemuliaan di hadapan Allah Ta’ala dan manusia.

Dan dengan amar ma’ruf nahyu munkar serta jihad fi sabilillah kita akan hadapai orang-orang yang menghalang-halangi dakwah dan kebenaran ini. Semoga umat ini senantiasa dibimbing Allah Ta’ala berjalan di atas kebenaran.

Demikian khotbah jum’ah yang kami sampaikan. Semoga meningkatkan iman dan takwa kita pada Allah Ta’ala. Dan semoga kita di istiqomahkan dijalan-Nya yang mulia hingga kita menemui ajal. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Marilah kita tutup khotbah ini dengan berdo’a kepada Allah Ta’ala.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

أللهم اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ حُكَّامًا وَمَحْكُوْمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَانَا وَأَسْرَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَاهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمنًا مُطْمَئِنًّا قَائِمًا بِشَرِيْعَتِكَ وَحُكْمِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمّ ارْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ، وَالْوَبَاءَ، وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً ( Palu، Sulawesi و حله) وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

Penulis: Ibnu Jihad

Editor  : Ibnu Alatas