Propaganda, Dusta dan Perang

Perang Media
Perang Media

An-Najah.net – Ketika Jepang kalah perang, berbagai evaluasi dilakukan oleh pihak pemenang maupun pecundang. Salah satu poin yang jadi pusat perhatian adalah peran propaganda Jepang dalam memobilisasi seluruh rakyatnya untuk menyukseskan perang. Hasilnya terdapat dua sudut pandang yang berlawanan.

Amerika sebagai pemenang menyimpulkan bahwa  Jepang telah melakukan upaya luar biasa untuk menyeret seluruh rakyatnya dalam perang. Mesin propaganda Jepang sangat efektif, dan terutama didukung oleh kesetiaan luar biasa rakyat terhadap Kekaisaran Tenno Heika  yang diyakini sebagai titisan Dewa Matahari.

Pandangan itu diyakini oleh pihak Amerika yang mengalami betapa beratnya mengalahkan semangat tempur tentara Jepang. Termasuk menghadapi serangan maut para pilot pembom bunuh diri alias Kamikaze. Keberanian dan keneka dan tentara Jepang terkenal di mana-mana sepanjang Perang Dunia II.

Baca Juga : Perang Media, Tanggung Jawab Siapa?

Di sisi lain, di pihak Jepang, justru muncul analisis yang bertolak belakang. Analis Jepang justru mengeluhkan kurang efektifnya propaganda Jepang dibandingkan propaganda Sekutu yang berakibat kekalahan.

Seorang intelektual Jepang bernama Hasegawa Nyozeka pada tahun 1942 mengeluhkan lemahnya penguasaan Jepang terhadap propaganda. Terutama kurang dikuasainya propaganda melalui radio, film, pamflet dan media lainnya. Menurut Hasegawa itu lebih karena karakter nasionalis bangsa Jepang membuat mereka sulit menerima propaganda ala Barat.

Kyoka dan Senden

Bangsa Jepang membangun identitas nasionalnya melalui sebuah kampanye bertajuk Kyoka. Filosofi paduan Jepang-Cina ini bermakna bujukan moral. Tujuannya adalah  menciptakan identitas dan solidaritas nasional dalam masa krisis.

Kampanye Kyoka berlangsung dari  1880-an sampai 1930. Konsep ini diuji saat terjadi gempa bumi Kanto 1923 yang dahsyat dan meratakan Kota Tokyo. Bagaimana membangun solidaritas sosial di antara penduduk yang sedang merasakan bencana hebat, membangun ketegaran dan kesabaran di tengah situasi yang memicu keputusasaan.

Baca Juga : Rambu-tambu Islam Bergaul Media Sosial 

Kyoka sukses memunculkan karakter bangsa Jepang yang memiliki kebanggaan nasional, percaya diri dan tegar menghadapi kesulitan. Namun agaknya hal itu dianggap belum cukup menjadi modal Jepang menghadapi Perang Dunia II, maka mereka mencari metode baru.

Setelah 1930, konsep propaganda Jepang berubah. Istilah yang digunakan bukan lagi Kyoka melainkan Senden. Kata Senden makna dasarnya adalah iklan, menggunakan berbagai media massa modern untuk mengenalkan ide dan mempengaruhi publik dengannya.

Senden adalah hasil upaya Jepang mengkaji kesuksesan propaganda Inggris dalam Perang Dunia I. Jepang melihat kunci kejayaan Inggris adalah propaganda yang sistematis memanfaatkan berbagai media modern yang dimilikinya. Jepang pun mencoba menjiplak hal itu.

Namun, menurut Hasegawa, propaganda ala Barat banyak memanfaatkan dusta dan kebohongan. Nilai-nilai itu bertentangan dengan semangat ksatria bangsa Jepang.  Dusta adalah tindakan yang tidak ksatria, suatu hal yang menjadi aib bagi seorang samurai Jepang yang memiliki filosofi hidup Bushido.

Baca Juga : Siapa Usung Media Jihad di Indonesia

Akibatnya, Jepang gagal menciptakan propaganda yang efektif karena paradoks moral dan kebohongan. Di sisi lain, Sekutu dengan leluasa meramu kebohongan menjadi propaganda yang luar biasa. Akibatnya, Jepang kalah dan Sekutu menang.

Propaganda Jihadi

Belajar dari pengalaman Jepang dalam Perang Dunia II, akan terlihat bahwa pergeseran pola propaganda Jepang mirip dengan yang terjadi di dunia jihad. Sejak runtuhnya khilafah tahun 1924, wacana jihad seolah lumpuh.

Meskipun demikian, ada upaya serius untuk menyatukan potensi umat yang sebenarnya bak raksasa pingsan. Yaitu dakwah yang mengusung nilai-nilai moral dan identitas keislaman. Halaqah ilmiah, jamaah minal muslimin dan dakwah terbuka menjadi ajang menumbuhkan moral umat Islam yang terpuruk. Fase ini mirip dengan era Kyoka dalam propaganda Jepang, termasuk dalam prosesnya yang relatif lamban.

Meskipun berjalan lamban dan kerap dihadapi secara represif oleh kekuatan kafir dan bonekanya, upaya dakwah yang bersifat moral ini menuai hasilnya. Muncullah  segelintir pemuda yang mengenal Islam dan memiliki ghirah menegakkan Islam dengan manhaj Islami.

Baca Juga : Mengapa Alergi Jihad ?

Generasi pemuda itu menemukan momentum yang tepat pada tahun 1979. Jihad internasional pun hidup kembali dari kematian dengan pecahnya jihad Afghanistan. Teori dan konsep jihad yang tadinya hanya dikaji di ruang-ruang halaqah mendapat ruang praktek di lapangan tempur.

Setelah Futuh Afghanistan, dunia bergerak dengan dinamika yang sangat cepat. Kaum jihadis pun mengikutinya, kemajuan teknologi internet yang memintas jarak dan waktu menjadi media modern yang menyebarluaskan propaganda dan ilmu jihad ke seluruh dunia.

Fase ini mirip dengan fase Senden dalam propaganda Jepang. Pemanfaatan propaganda agresif melalui teknologi melahirkan generasi baru mujahidin yang kenal jihad dari internet kemudian mengaplikasikannya dalam realita. Aksi-aksi lone wolf pun merebak di mana-mana.

Sayangnya kemudian, problem yang hampir sama dengan Jepang terjadi di dunia jihad. Mujahidin menyerap ilmu Senden dari Barat, namun belum sukses membangun propaganda di kalangan umat Islam secara menyeluruh. Apalagi musuh mengimbanginya dengan kontra propaganda yang gencar dengan isu terorisme.

Lalu, akankah jihad Islami menemui nasib sama dengan Jepang, sama-sama kalah dilibas Barat dengan keperkasaannya? Meminjam analisis Hasegawa, agaknya tidak. Jepang kalah dalam sisi propaganda karena menutup diri dari nilai Barat akibat nasionalisme fanatik.

Baca Juga : Memburukkan Citra Islam, Strategi Musuh

Islam tak pernah menolak nilai lain dari peradaban lain sepanjang tak bertentangan dengan aqidahnya. Kemajuan teknologi Cina dahulu diserap dengan sukses oleh dunia Islam tanpa terjadi masalah aqidah. Di era sekarang, internet pun dimanfaatkan dengan baik oleh Mujahidin tanpa kebingungan ideologis.

Bagaimana dengan sisi dusta dalam propaganda yang membuat samurai Jepang emoh menekuninya? Islam menjawabnya dengan sabda Rasulullah tentang perang, “Perang adalah tipu daya.” Maka, propaganda jihad Islami tak perlu gagal seperti propaganda perang Jepang. Insya Allah.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 123 Rubrik Sekitar Kita

Penulis : Togar

Editor : Miqdad