Propaganda

Boeing 777 ER itu dilengkapi monitor layar sentuh untuk setiap penumpang. Tak hanya tissue hangat yang disajikakan pramugari standart Internasional itu. Ratusan channel radio dan televisi juga disiapkan. Tak terkecuali, movie-movie lama dan terbaru pabrikan Hollywood. Saya mengklik ‘Green Zone’; sebuah movie kategori action dengan latar belakang invasi Amerika ke Irak. Letnan AD Amerika bernama Miller itu kecewa saat ia memimpin operasi pencarian senjata pemusnah massal di kota Diwana dan hanya menemukan kotoran burung. Ia bahkan menaksir ruangan itu tidak dihuni selama 10 tahun. Padahal ia dan pasukannya dibekali data-data intelejen tingkat tinggi.

Miller kemudian mempertanyakan validitas informasi intelejen dalam sebuah briefing terbuka. Soalan-nya terasa sebagai tamparan buat bosnya dan hanya bisa menyatakan ‘rumit’. Dan ia tak menemukan jawaban memuaskan kecuali bahwa ‘Laksanakan’ dan ‘Siap Pak’. Di akhir cerita, Miller berjaya membuktikan bahwa isu senjata pemusnah massal hanyalah isapan jempol belaka. Ia tak lebih sebagai alat propaganda Amerika untuk mendapat justifikasi atas pendudukan Irak. Clark, sang bos hanya menjawab singkat, ‘Yang penting perang telah selesai dan kita menang’. Miller marah dan manampar Clark yang Jenderal itu. Ia meng-email hasil investigasinya kepada pers yang selama ini menipu publik dengan pesan, ‘Kali ini tulis berita yang betul.’

Saya tidak hendak meresensi film ini. Saya juga tidak menjadikan dasar kebenaran pengambilan data dari film ini. Pesan-pesan moral dari film itu sudahlah menjadi kesimpulan umum, bahkan rilis resmi Amerika. Produsen film dari yang biasa berciri propagandis dan kemudian mengalir mengikuti perspektif umum, hanyalah upaya menambah kredit di mata publik untuk tidak disebut ‘kehilangan obyektifitas’. Ini serupa pernyataan Sidney John bahwa Densus 88 harus diawasi pasca insiden penembakan Nur Iman. Sidney sangat cerdas menumpang momentum saat masyarakat sudah mulai tidak percaya omongan polisi. Dan karena peneliti harus ada ‘syarat masuk pasar’ bernama ‘obyektifitas’, maka sesekali bersikap obyektif itu baik karena menyangkut eksistensi. Paling tidak, ‘baik’ dalam imajinasinya.

Meski demikian, film tersebut bisa memberikan sebuah gambaran tentang sebuah modus propaganda. Bahwa dalih untuk sebuah tindakan militerisme, pendudukan, penindasan dalam negeri, penanganan ekstrimisme, penolakan isu syariat Islam, haruslah ada logikanya dan bisa diterima publik. Tak jarang, untuk sebuah propaganda, sebuah Negara melakukan false flag. ‘Operasi bendera palsu’ menjadi sangat penting untuk membuktikan bahwa apa yang disebut ‘bahaya’ atau ‘musuh’ bukanlah fiktif. Hantu itu harus nyata; terbaca, tersentuh, terpegang, terlihat. Tak peduli bahwa hantu itu harus dibuat, langsung atau tak langsung.

Suasana itulah yang banyak dirasakan aktifis Islam terutama menjelang agenda mengesahan RUU Intelejen yang dijadwalkan Juli. Banyak kejanggalan di negeri ini yang ‘tak tersentuh’ untuk sekadar dipertanyakan apalagi diselesaikan. Serupa kesulitan Miller dalam Green Zone yang ‘tak berdaya’. Kalau di Film, Miller akhirnya menyerah dan sadar bahwa ia bukanlah ‘pembuat keputusan’. Ada dalang yang sangat perkasa disana yang sedang menjalankan skenario.

Jika di sebuah pulau yang jauh dari Jawa Dwipa, beredar berita bahwa komunitas aktifis militan kedatangan tamu seorang napi teroris yang belum lama ditangkap; ia datang dengan mengobarkan semangat perjuangan.., Di saat sebagian orang bertanya-tanya, ‘Dipenjara kok bisa kelayapan?’… tak lama kemudian ada insiden penembakan polisi di wilayah itu… Tidakkah patut jika kemudian aktifis bertanya-tanya, ‘Ada permainan apa ini?’ Meski mereka yakin bahwa tamu tersebut betul-betul napi yang proses hukumnya belum selesai, tapi saya tetap berharap, ‘semoga mereka salah orang.’

Jika tiba-tiba ada penjelasan bahwa bom Serpong dirancang oleh mantan sutradara film dokumenter, dan ia punya maksud membuat film dokumenter yang menggambarkan sebuah kepanikan massa, bukankan hal semacam ini aneh jika ditilik dari niat dan motif agama? Saya kira guru TPA di masjid-masjid pun fasih menjelaskan bab niat. Apalagi kalau ditelusur bahwa sanad ngaji ‘para pelaku’ ini terputus dan konon gurunya adalah Kyai Google. Jadi apakah tidak patut jika ini memunculkan tanda tanya besar ‘Ada permainan apa ini?’

Misteri senjata di Hutan Aceh tak pernah diungkap. Info-info kuat yang mengarah kepada oknum-oknum dari institusi negara ini sebagai pensuplai, ternyata hanya menguap dan tak ada pendalaman yang transparan? Juga aktor bom buku, yang ternyata istri tersangka adalah pekerja di BNN pimpinan Gories Merre… semua lenyap bak di telan bumi. Tidakkah logis kemudian orang bertanya-nyata, ‘Ada permainan apa ini?’

Jika hari ini banjir provokasi ‘amaliyat’ via SMS dan juga blog, dan terkirim secara segmented ke ustadz-ustadz pesantren tertentu, komunitas tertentu, dengan berusaha menyentuh emosi dengan menyoal keimanan bahkan dengan pengkafiran… bukankah yang seperti ini aneh? Kata-kata yang digunakan jauh dari sopan dan jauh dari akhlaq Islam. Ada ruh atau jiwa bahasa kaum yang tidak nyambung kendati telah menggunakan kata Ana, Antum, Akhi…. Tidakkah logis jika ada yang bertanya, ‘Siapa lagi yang main?’

Sudara-sudara… jika negeri ini penuh skenario yang merugikan umat Islam, dan mereka tak kuasa membela.. maka jangan lupa Yang di Atas. Aktifis Islam hari ini tak memiliki kemampuan untuk mendeligitimasi penguasa negeri ini. Tapi siapa sangka, dibalik hiruk pikuk kenakalan penguasa dalam penanganan teroris, para penguasa kini juga sibuk menghadapi ragam skandal korupsi. Saya membayangkan para penguasa negeri ini tidak bisa tidur nyeyak karena tabungan dosa yang mulai meletus satu persatu. Siapa sangka keluarga Husni Mubarok pun akhirnya bisa dipenjarakan? Gusti Allah Mboten Sare.

Buat sampeyan para aktifis.. waspadalah..!