Puasanya Si Pencuri

pencuri

An-Najah.net – Puasa-puasa itulah rekonsiliasi saya dengan Allah Ta’ala. Suatu hari Abu Bakar ‎Shibli bepergian ke Suriah bersama kelompok wisatawan lain. Ketika di jalan, dia bersama ‎rombongannya dijarah oleh sekelompok pencuri, mereka mengambil semua harta milik dia dan ‎mengumpulkan harta tersebut di depan pemimpin mereka. Di anatara barang-barang itu ada ‎sekarung gula dan almond. Ketika para pencuri mulai makan, pemimpin mereka tidak bergabung ‎dengan mereka.‎

Beliau pun bertanya, mengapa anggotamu makan, sedangkan engkau tidak?. Ia menjawab, “Saya ‎puasa”. Aku pun bertanya keheranan, “Bagaimana mungkin kau mencuri dari orang-orang dan ‎berpuasa pada saat yang sama?”‎
Dia menjawab, “Seorang harus melakukan sesuatu untuk menjaga pintu pertobatan tetap ‎terbuka!”‎

Beberapa waktu kemudian saya melihat pemimpin geng pencuri itu mengenakan pakaian ihram ‎melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah. Wajahnya bersinar dengan cahaya ibadah dan ‎merendahkan diri melalui amal-amal shalih. Saya bertanya keheranan lagi, “Apakah engkau orang ‎yang waktu itu ?”‎

Dia menjawab, “Ya, itu saya. Mari ku beritahu, puasa-puasa itulah rekonsiliasi (perbuatan untuk ‎memulihkan hubungan baik seperti semula ) saya dengan Allah Ta’ala”. (Abdullah bin ‎Abdurrahman, Golden Stories, cet. 1, hal. 71-72)‎

‎Jangan Berhenti Untuk Berbuat Baik

Pelajaran moral dari cerita di atas adalah: lakukan sebanyak mungkin kebaikan yang Anda bisa! ‎Jangan berpikir, “Saya ini hina, pencuri, pezina, pemabok, pejudi yang tidak ada gunanya beramal ‎dan berdoa!” Atau “Saya telah berbuat kejahatan kepada orang lain, sehingga tidak ada gunanya ‎beramal”‎

Saudaraku, kita semua adalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan lupa, kita bukanlah ‎Malaikat yang tidak pernah durhaka kepada pencipta-Nya. Lakukanlah sebanyak mungkin ‎perbuatan baik yang Anda bisa. Bisa jadi, Allah Ta’ala akan memberi taufiq dan hidayah-Nya ‎karena perbuatan baik Anda di masa lalu.‎

Allah Ta’ala memiliki sifat At-Tauwwab yang bermakna selalu memberi taubat kepada hamba-‎Nya yang meminta ampun kepada-Nya. ‎

Saudaraku, segala dosa yang kita perbuat mintalah ampun kepada Allah Ta’ala bukankah Allah ‎Ta’ala berfirman,‎

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

‎“…Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha ‎Pengampun lagi Maha Penyayang..” (Az-Zumar: 53)


Bila ada yang mengatakan, “Tapi dosa saya banyak banget Ya Allah, saya pernah syirik Ya ‎Allah, aku sering berzina, orang tua sering kudurhakai, saya pernah mencuri Ya Allah! ingatlah ‎saudaraku, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya” tanpa terkecuali. ‎

Imbangilah Dosamu Dengan Amal Kebaikanmu

Saudaraku, imbangilah dosa-dosa kita dengan amal kebaikan ketika kita berbuat dosa. Alangkah ‎indahnya jika kita amalkan sabda Rasulullah Saw:‎

 ‎وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا

‎“…dan iringilah (balaslah) keburukan dengan kebaikan niscaya dia akan menghapusnya” (At-‎Turmudzi no. 1987)‎

Saudaraku, ayat di atas menunjukkan agar bersegera menutupi dosa-dosa dengan taubat dan amal ‎saleh. Jangan menunda-menunda. Karena dosa yang mengendap lama dalam diri, akan sangat ‎berbahaya. Dosa yang tidak segera ditaubati dikhawatirkan akan melahirkan dosa lain. Semakin ‎banyak dosa, hati akan semakin gelap dan mengeras dikarenakan tertutup noda-noda dosa. Dan ‎imbasnya mengakibatkan sulitnya cahaya hidayah Allah Ta’ala masuk ke dalam hatinya. Wallahu ‎‎‘alam

Penulis: Ibnu Jihad

Editor: Abu Mazaya