Puisi Sukmawati dan Kebangkitan Ummat Islam

Kebangkitan Islam

An-Najah.net – Ada  hikmah dibalik sebuah musibah. Puisi kontroversi dari sukmawati menuai gugatan. Dia mengatakan sari konde sangat indah, lebih baik dari pada cadar dirimu. Lantunan kidung sangatlah elok, lebih merdu dari pada adzan. Padahal sebelumnya ia mengaku “Aku tak tahu syari’at islam”.

Kenapa kalau dia tidak tahu dengan beraninya. Dia membanding-bandingkan sari konde dengan cadar, suara kidung dengan adzan. Padahal seharusnya al ilmu qabla qaul wal ‘amal, ilmu itu sebelum berkata dan beramal. Ketika berkata tanpa ilmu bukannya manfaat yang datang, tetapi bumerang yang didapatkan.

Puisi dari sukmawati ini, menuai berbagai macam reaksi. Ada yang membalas dengan jawaban atas puisi itu. Ada pula yang langsung melaporkan kekepolisian, agar kasus puisi kontroversi ini diusut tuntas. Bahkan ada juga yang melakukan aksi jihadu kalimah, menunut agar sukmawati diadili.

Meskipun Sukmawati sudah minta maaf sambil menangis. Akan tetapi berbagai macam tanggapan. Maaf memang sudah dilakukan, akan tetapi proses hukum tetap harus dijalankan. Bahkan ada yang mengatakan tangisan sukmawati adalah air mata buaya.

Ummat islam terus bergerak. Mereka bangkit untuk membela syari’at islam yang dinistakan. Pembelaan mereka merupakan bukti dari kecintaan kepada islam. Orang yang ngaku jatuh cinta maka tertuntut untuk membela ketika kekasihnya dilecehkan. Kalau tidak berarti cintanya adalah cinta palsu.

Sunnatullah terus berjalan. Gerakan islamophobia terus menerus menyudutkan islam dengan lisan-lisan mereka. Baik itu dengan puisi, nyanyian, pidato, face book, twitter atau juga parodi mereka.

Akan tetapi Islam akan tetap terjaga dan sempurna. Tugas ummat ini adalah menjadi Ansharullah ketika dinullah dilecehkan. Dengan jalan ini, Allah Swt akan memberikan pertolongan kepada ummatnya.

Akankah kasus Ahok akan terulang kembali. Dengan terjadinya aksi yang luar biasa, aksi 212. Yang menggerakkan tujuh juta kaum muslimin menuntut si penista dipenjarakan. Hanya waktulah yang akan menjawab.

Penulis : Anwar

Editor : Abu Mazaya