Puisi Taufik Ismail dan kebangkitan Neo PKI

Taufik Ismail, membacakan kekejaman PKI
Taufik Ismail, membacakan kekejaman PKI
Taufik Ismail, membacakan kekejaman PKI

Surakarta (An-Najah.net) – “Bacakan Puisi Kekejaman Komunis, Taufik Ismail Diusir Di Forum ‘Membedah Tragedi 1965’”. Judul yang memprihatinkan ini diambil dari berita portalpiyungan.com, Rabu (20/4).

Padahal forum ini bukan acara biasa. Acara ini diselenggarakan Pemerintah Jokowi melalui Dewan Pertimbangan Presiden dan Kantor Koordinator Politik Hukum dan Keamanan menggelar simposium nasional bertajuk ‘Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan’, yang diadakan di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (18/4).

Benarkah PKI (Partai Komunis Indonesia) gaya baru bangkit? Atau istilah yang dikenal dengan Neo PKI bangkit. Pertanyaan ini wajar pasalnya saja. Dimana seorang penyair ini baru saja membacakan puisi berisikan kekejaman komunis membunuh masyarakat disejumlah negera didunia. Ketika ia memulai puisinya sebagian hadirin langsung riuh dan beberapa mereka meneriakkan ketidaksukaan kepada dirinya.

Teriakan dan cemoohan dari sebagian peserta tidak dihiraukan. Ibarat anjing mengongong kafilah tetap berlalu. Tanpa menghiraukan mereka, ia tetap melanjutkan pembacaan puisinya. Walau suasana sudah riuh dengan suara-suara protes.

“Berhenti! Itu provokator, itu provokator!” teriak seorang peserta melalui pengeras suara. “Biar saya selesaikan puisinya…” ujar Taufik yang langsung dihentikan oleh salah seorang panitia simposium, demi menyudahi kegaduhan yang terjadi.

Tanpa sepatah kata, Taufik pun akhirnya pergi diiringi riuh sorakan dan teriakan dari peserta simposium yang mencemoohnya dengan berbagai kalimat cemoohan.

Fenomena ini menambahkan daftar kebangkitan Neo PKI. Ketika ada orang berusaha menyuarakan kebenaran tentang kezaliman komunis dimasa lalu malah dicemooh, bahkan terjadi pengusiran.

Kalau mereka bukan neo PKI mengapa mereka harus sakit hati, kemudian terlontar perkataan yang tidak mengenakkan. Akhirnya terjadi pengusiran terhadap sang pujangga.

Sebagai umat Islam yang cerdas tentu tidak ingin terjerumus kedalam lubang kedua kalinya. Kekejaman Komunis dimasa lalu harus dijadikan pelajaran. Jangan sampai peristiwa itu terulang kembali kedalam umat ini.

Edukasi kepada generasi muda perlu dilakukan. Pewarisan sejarah perjuangan umat Islam harus juga ikut digulirkan. Dengan mengetahui sejarah PKI secara benar generasi muda akan tahu apa yang harus diperbuat. Bukannya mengikuti komunis yang akhirnya malah menjadi batu sandungan memperjuangkan Islam.

Allah Swt telah mengingatkan ketika kebenaran itu disuarakan, kebathilan itu akan sirna. Para da’i, sastrawan, sejarawan harus berani menjelaskan kejahatan PKI. Dengan begitu PKI tidak akan bisa bangkit lagi.  (Abu Mazaya, Aktivis dakwah surakarta).