Qiyamul Lail, Bekal Seorang Mujahid

Qiyamul lail
Qiyamul lail

An-najah.net – Mata yang mengantuk mungkin dapat diobati dengan tidur. Namun hati yang resah, gelisah dan banyak masalah, tidak dapat diobati, kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Orang-orang shalih hatinya merindu untuk selalu bersama Allah. Seperti orang yang jatuh cinta, selalu terbayang wajah sang kekasih. Kerinduannya yang mendalam membetot dirinya masuk ke dalam lingkaran ibadah dan munajat yang hampir tidak terputus. Mereka sedikit sekali tidur. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُ‌وا بِهَا خَرُّ‌وا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَ‌بِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُ‌ونَ

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَ‌بَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَ‌زَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-nya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang Kami berikan.” (QS. as-Sajdah: 15-16).

Kata tatajaafa (jauh) berasal dari kata jafwah yang mengandung arti bahwa lambung mereka tidak menyukai tempat tidur. Mereka tidak tahan jika berada di tempat tidur. Karena, kerinduan kepada Allah Ta’ala menyebabkan mereka resah dan tidak tenang, di mana keresahan dan ketidaktenangan itu hanya dapat dihilangkan dengan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan berada di hadapan-Nya.

Di saat orang lain terlelap tidur, dia menangisi dosa-dosanya, meratap penuh belas kasihan akan ampunan dan rahmat Tuhannya. Berdiri shalat, membaca al-Quran dengan khusyu dan berdzikir dalam keheningan malam. Matanya sembab. Hatinya gerimis. Ia berusaha menahan tangis karena takut ada orang yang mendengarnya, tapi tidak bisa! Ia begitu takut sekaligus mencintai-Nya. Tangisannya meledak seperti halnya bendungan air yang jebol maka keluarlah air dengan deras. Suaranya tidak bisa lagi ditahan. Suaranya terdengar bukan lagi karena ingin mengharapkan pujian, tapi benar-benar larut dengan perasaan yang mendalam. Hanyut dalam air sungai mahabbah dan muhasabah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimahullah

Qiyamul lail adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kita. Ia merupakan perdagangan bagi orang-orang yang beriman yang tidak akan merugi. Pada qiyamul lail, seorang mukmin menyepi dengan Allah ta’ala di malam hari. Ia hadapkan wajahnya kepada pencipta alam semesta untuk diadukan seluruh persoalannya baik dunia dan akhirat.

Sungguh tidak pantas bagi kita untuk mengadukan berbagai permasalahan hidup kepada manusia, sementara kita tidak pernah mengadukannya kepada Allah ta’ala. Kesempitan rizki kita, jodoh yang tak kunjung datang, momongan yang tak kunjung diberi dan permasalahan-permasalahan lainnya. Padahal Allah ta’ala senang jika hambanya mengadukan seluruh permasalahan kepada-Nya. Ia pasti mengabulkan do’a seorang hamba, apa lagi dilakukan setelah tahajjud pada sepertiga malam akhir. Rasulullah SAW bersabda;

إِنَّ فِى اللَّيْلِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya.” (HR. Muslim no. 757)

Bahkan di sepertiga malam akhir, Allah ta’ala turun ke langit dunia untuk mendengarkan do’a hamba-hambanya yang mau tahjjud. Rasulullallah SAW sebutkan dalam hadist;

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’.” (HR. Bukhari no. 6321 dan Muslim no. 758).

Rasululah SAW melatih sahabat untuk qiyamullail

Jama’ah shalat jum’ah yang dirahmati Allah Ta’ala

Jika kita meneliti kembali kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat, akan kita dapatkan bahwa mereka adalah sebuah generasi yang tidak pernah meninggalkan qiyamullail. Bahkan beliau mengawasi dan memberi semangat para sahabatnya untuk melakukan hal tersebut. Tak hanya itu, beliau juga memerintahkan para suami ataupun istri untuk melakukan qiyamullail walaupun harus memercikkan air ke mukanya.

Diantara hadis yang menjelaskan hal tersebut adalah :

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya;”Rasulullah SAW bersabda;

يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Hai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si Fulan itu, dulu ia suka sekali bangun shalat di waktu malam, tetapi kini meninggalkan bangun shalat waktu malam.” (Muttafaqun ‘alaih).

Bahkan beliau memerintahkan untuk membangunkan istrinya dalam rangka melaksanakan qiyamullail.

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

Dari Abu Hurairah juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati seorang pria yang bangun malam kemudian dia shalat dan membangunkan istrinya juga untuk shalat. Jika istrinya enggan bangun, dia memerciki air ke wajah istrinya. Semoga Allah juga merahmati seorang wanita yang bangun malam kemudian dia shalat dan membangunkan suaminya juga untuk shalat. Jika suaminya enggan bangun, dia memerciki air di wajah suaminya.”(HR. Abu Daud no. 1308, An Nasa’i no. 1610, dan Ibnu Majah no. 1336. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if At Targib wa At Tarhib no. 625 mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Sudah seharusnya para ihwan selalu membangunkan saudaranya untuk bersama-sama melakukan qiyamullail walaupun lewat HP. Apalagi jika dia sebagai seorang ustadz memiliki tanggung jawab untuk membentuk generasi tangguh, tidak mungkin didapatkan tanpa qiyamullail. Kita bisa melatih qiyamullail dengan acara-acara bersama seperti mabit dan yang lainnya.

Qiyamul lail bekal wajib bagi juru dakwah

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kita banyak saksikan para da’i dan aktivis yang meninggalkan kebiasaan qiyamul lail. Mampukah mereka menyeimbangkan antara kegiatan fisiknya dengan ruhiyahnya? Dan jika keseimbangan tidak mereka jalani, kefuturan akan menimpanya. Sudah banyak para aktivis yang gugur di tengah jalan karena tidak menjaga ruhiyah dan qiyamul lail mereka.

Jika qiyamullail saja sangat dibutuhkan oleh setiap muslim, bahkan menjadi tren hari ini untuk mendapatkan kesuksesan duniawi, lebih lagi para aktivis yang telah menghabiskan waktunya dalam berdakwah pada ummat serta amar ma’ruf nahyu munkar.

Seorang hamba tidak akan mampu menghadapi syirik dan para pelakunya, dan tidak akan kuat untuk bara’ dan bersikap oposisi dari mereka serta menampakkan permusuhan terhadap kebatilan mereka kecuali beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ibadah. Sungguh Allah Subhanahu Wa Ta‘ala telah memerintahkan Nabi-Nya Muhammad SAW untuk membaca Al-Qur’an dan qiyamullail di Makkah. Dan Dia memberitahukan kepadanya bahwa hal itu adalah bekal yang membantunya untuk memikul beban dakwah yang amat berat, dan perintah itu sebelum firman-Nya:

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلاً ثَقِيلاً

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (Al Muzammil,73:5)

dimana Dia berfirman :

يَآأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ. قُمِ الَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً. نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً. أَوْزِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلاً.

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (Al Muzammil, 73: 1-4)

Maka beliau SAW dan para sahabatnya melakukan qiyamullail sampai kaki-kaki mereka bengkak. Hingga Allah Subhanahu Wa Taala menurunkan keringanan di akhir ayat (surat ini). Sesungguhnya qiyamullail dengan membaca ayat-ayat Allah ‘Azza wa Jalla dan mentadabburi Firman-Nya adalah bekal terbaik dan yang membantu si da’i. Qiyamul lail meneguhkan dan membantunya untuk menghadapi tantangan dan liku-liku dakwah.

Dan sesungguhnya orang-orang yang mengira bahwa dirinya mampu memikul dakwah yang agung ini dengan beban-bebannya yang berat tanpa memurnikan seluruh ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan tanpa memanjangkan dzikir dan tasbih-Nya sungguh mereka sangat keliru dan terlalu mengkhayal. Meskipun mereka telah berjalan beberapa langkah ke depan, namun mereka tak akan mampu melanjutkan perjalanan yang benar lagi lurus tanpa bekal. Sedangkan sebaik-baiknya bekal adalah taqwa. Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah mensifati para pembawa dakwah ini, dan Dia telah memerintahkan Nabi-Nya SAW untuk bersabar bersama mereka. Mereka itu selalu menyeru Rab-nya di waktu pagi dan petang seraya mengharapkan wajah-Nya. Dan mereka itu sedikit tidur di malam hari. Badan mereka jauh dari tempat pembaringan seraya menyeru Rab-nya dengan penuh rasa takut dan pengharapan. Mereka merasa takut terhadap Rab-nya di suatu hari yang kelam nan mencekam, serta sifat-sifat lainnya yang mana tidak layak untuk mengemban dakwah ini dan memikul berbagai bebannya kecuali orang yang memiliki sifat-sifat ini. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala menjadikan kita bagian dari mereka.

Demikian khutbah jum’ah yang kami sampaikan. Jika ada benarnya datangnya dari Allah, dan jika ada salahnya datangnya dari diri saya sendiri. Kita berdo’a semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara hamba-ahambanya yang mudah untuk melaksanakan qiyamul lail. (Dikutip dari Majalah An-najah edisi 89 rubrik khutbah jum’at)