Browse By

Radikalisme dan Takfiri Syiáh, Fakta Bukan Ilusi (Tanggapan Terhadap Haidar Bagir) Oleh: Masúd Izzul Mujahid*

An-Najah.net — Ketentraman beragama umat Islam Solo Raya terusik. Beberapa hari ini, tengah santer berita bedah buku “Islam Tuhan, Islam Manusia”, karya pemikir Syiáh, Haidar Bagir, di IAIN Surakarta. Inilah yang mengusik ketentraman ibadah umat Islam Solo Raya. Betapa tidak demikian, semua orang tahu tentang kesesatan dan kejahatan Syiáh. Namun segelintir manusia yang mengatasnamakan insan akademik di IAIN Surakarta menghendaki bedah buku dengan menghadirkan Haidar.

Ulama Syiah Menyemangati Militannya Menggempur Muslim Suriah

Ulama Syiah Menyemangati Militannya Menggempur Muslim Suriah

Di saat yang sama, umat Islam Solo Raya telah menyadari hakekat Syiáh. Banyak kalangan akademisi, tokoh agama, bisnisman, para aktifis Islam, dan masyarakat umumnya telah tercerahkan oleh para daí tentang kesesatan, kejahatan dan kebengisan Syiáh terhadap umat Islam (Ahlu Sunnah). Sebab sejarah, dan fakta kontemporer, seperti di Suriah, Iran, Ahwaz, dan Irak, menjadi bukti yang tak terbantahkan.

Menariknya, para insan akademi yang awam kajian akidah Islam dan tidak terbimbing dengan baik dalam mempelajari Islam, menganggap ini kajian ilmiyah.

Setelah menemui rektor IAIN, karena beliau berhalangan, kami diterima oleh Ketua Dewan Senat, Prof. DR. Utsman. Saya dikasih oleh kawan buku Haidar, yang hendak dibedah tersebut. Dan saya diminta untuk membacanya dengan seksama. Sebenarnya saya kurang begitu tertarik membaca buku-buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh yang membela kesesatan. Apalagi Syiáh. Menurut Kiyai saya, itu hanya sampah, yang sedikit sekali faedahnya. Namun, ketika saya diminta untuk membacanya. Saya pun membacanya. Buku ini terlalu sulit untuk dikatakan buku ilmiyah. Ia lontaran-lontaran pemikiran penulis, yang sulit untuk ditemukan nilai ilmiyahnya.

Di kesempatan kali ini, saya menanggapi salah satu poin dari tulisna Haidar Bagir, pada Bab V, Halaman 47-55. Tulisan yang berjudul, “Takfirisme: Asal-Usul dan Perkembangannya,” menggambarkan kebencian dan ketidaksukaan penulis terhadap sosok-sosok ulama yang telah diakui kapasitas keilmuan dan otoritasnya dalam berfatwa.

Dalam tulisan tersebut, Haidar, menuduh para ulama Islam (seperti: Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, dan Syaikh Islam Ibn Qayyim al-Jauziyah) sebagai penyebar takfiri. Karena para ulama tersebut –dalam pandangan Haidar-, mengkafirkan Syiáh dan beberapa sekte shufi menyimpang.

Entah dari mana tuduhan itu didapatkan oleh Haidar. Sebab, buku Haidar ini, tidak dilengkapi rujukan lengkap. Tidak ada footnote yang menjelaskan dari mana tulisan tersebut dinukil.

Andaikan Haidar membaca dan menelaah pemikiran Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim dan ulama-ulama yang dituduhnya, dengan sabar dan teliti, bisa jadi tuduhan ini tidak ada. Kecuali, jika tidak jujur dalam menyampaikan pemikiran mereka. Dalam tulisan-tulisannya Ibn Taimiyah, dan Ibn Qayyim muridnya melakukan klasifikasi kelompok yang tertuduh menyimpang, kemudian menjelaskan sebab-sebabnya.

Pun dalam takfir, sesungguhnya ulama tersebut tidak seserampang yang dituduhkan. Mereka membagi antara takfir Muthlak dan takfir Muáyyan. Penjelasan ini, banyak didapatkan dalam karya-karya beliau berdua.

Nuansa pembelaan terhadap Syiáh, sangat terasa dalam buku haidar. Adapun akal, nalar, dan beberapa ulama Islam yang dia pakai dalam menguatkan pendapatnya, hanya memperkuat pembelaannya terhadap Syiáh. Dalam beberapa catatannya, di buku tersebut, Haidar memposisikan Syiáh sebagai kelompok yang terdzalimi. Diantaranya, saat menggugat kriteria sesat menurut MUI Pusat, (Bab, XVI. Hallaman: 135-141).

Padahal tuduhan takfir yang dikarang-karang oleh Haidar, sejatinya ada pada Syiáh-Rofidhoh. Pemikiran takfiri dalam agama Syiáh bukanlah pendapat pribadi tokoh Syiáh tertentu. Seperti klaim Haidar, bahwa seakan-akan itu hanya fenomena pemikiran tokoh, seperti Yasir Habib, (ITIM, hal. 150).

Namun, hakekatnya, pemikiran takfiri Syiáh adalah akidah yang sudah mengakar dalam jiwa mereka, teriwayatkan dalam buku-buku hadits Syiáh. (–Syiáh memiliki buku hadits sendiri, berbeda dengan kitab2 hadits umat Islam, mereka tidak mengakui Bukhari, Muslim, dll. Kalaupun mengakuinya, itu hanya taqiyyah dalam mengelabui umat Islam-).

Doktrin Anarkis Dalam Ajaran Syi’ah

Banyak ulama yang mengabadikan kejahatan Syi’ah terhadap Islam dan umat Islam. Di antara mereka adalah DR. Muhammad Abdah, dalam bukunya, ‘Aya’idu at-Tarikhu Nafsahu’, diterjemahkan ke Indonesia dengan judul ‘Akankah Sejarah Terulang’. Sedangkan Syaikh DR. Imad Ali Abdu As-Sami, membukukan dalam dua jilid buku. yaitu, “Khiyanats asy-Syi’ah wa Atsaruha fi Haza’im alUmmah al Islamiyah,”.

Ibnu Katsier dalam buku sejarahnya, ‘al-Bidayah wan Nihayah’, mencatat kekejaman Syi’ah Qaramithah;

“Pada tahun 312 H bulan Muharram, Abu Thahir Al Husain bin Abu Sa’id Al Janabi –semoga Allah melaknatnya- menyerang para jemaah haji yang tengah dalam perjalanan pulang dari baitullah dan telah menunaikan kewajiban haji. Mereka merampok dan membunuh mereka. Korban pun berjatuhan dengan jumlah yang sangat banyak –hanya Allah yang mengetahuinya. Mereka juga menawan para wanita dan anak-anak mereka sekehendaknya dan merampas harta mereka yang mereka inginkan.

Pada tahun 317 H, orang-orang Syi’ah Qaramithah mencuri hajar aswad dari Baitullah. Qubbah Zamzam dihancurkan, pintu Ka’bah dicopot dan kiswahnya dilepaskan kemudian dirobek-robek. Mereka pun mengambil hajar aswad dan membawanya pergi ke negara mereka. Selama dua puluh dua tahun.” (Al Bidayah wa Al Nihayah, 11/149).”

Inilah sekelumit kejahatan Syi’ah terhadap umat Islam. Jika masih ada orang yang meragukan sejarah kejahatan Syi’ah, maka apa yang terjadi di Suriah, Bahrain, Iran, Irak dan Yaman, menjadi bukti terkini atas kejahatan Syi’ah. Kejadian kontemporer ini tidak bisa dielakkan. Bukti nyata kejahatan Syi’ah.

Dendam Sejarah Persia

Akidah Syi’ah berbahan dasar doktrin Yahudi yang dengki dan iri kepada umat Islam, terutama pasca terusirnya Yahudi dari Madinah. Kemudian ditambah dengan kebencian dendam Persia Majusi terhadap umat Islam, khususnya muslimin Arab, yang telah memporak-porandakan imperium termegah Majusi, yaitu imperium Syi’ah.

Aroma dendam ini sangat terasa sekali. Misalnya, klaim mereka bahwa Kisra (mantan raja Persia) yang merobek-robek surat Rasulullah SAW dan mati dalam keadaan kafir, adalah penduduk surga. Syi’ah meyakini, neraka diharamkan bagi Kisra (Biharul Anwar, 4/41).

Demikian juga, kebencian mereka kepada Umar bin Khattab yang menitahkan kepada mujahidin untuk menaklukkan imperium Persia Raya. Juga pengkultusan Syi’ah terhadap Abu Lu’luah, seorang pemeluk majusi yang membunuh Umar bin Khattab RA. Bahkan menganggap Abu Lu’Luah sebagai baba syuja’ diin, bapak agama sejati.

Seorang ulama hadits yang bernama Abu Rabi’ mengisahkan, bahwa beliau memiliki seorang tetangga Rafidhah, namun tiba-tiba ia berubah. Abu Rabi’ tertarik menanyakan sebabnya. “Dulu anda mengklaim diri sebagai orang Rafidhah. Kenapa Anda berubah?. Tetangganya menjawab, “Sesugguhnya seluruh kaum zindiq telah melakukan perenungan yang mendalam tentang bagaimana menghancurkan Islam dan memerangi pemeluknya. Dan kami berkesimpulan, satu-satunya jalan ke sana hanya dengan masuk Syi’ah. Karena mereka adalah orang-orang bodoh.”

Ideologi Takfir Ekstrim

Ternyata salah satu sebab kekejian dan kekejaman oleh Syi’ah adalah ideology takfir yang ada dalam ajaran Syi’ah. Yang dimaksud dengan ideology takfir di sini, mereka mengkafirkan umat Islam selain orang Syi’ah. Bahkan dalam dogma Syi’ah, umat Islam selain Syi’ah adalah anak-anak lacur yang kekal di neraka (Ar-Raudhoh minal Al-kaafi, 8/227).

Mirza Muhammad Taqi, ulama Syi’ah, berkata, Selain orang Syi’ah akan masuk neraka selama-lamanya. Meskipun semua malaikat, semua nabi, semua syuhada dan semua shiddiq menolongnya, tetap tidak bisa keluar dari neraka, (Shahifatul Abrar, 342).

Al-Kulaini menambahkan, “Bermaksiat kepada Ali adalah kufur, dan mempercayai orang lebih utama dan berhak dari beliau dalam imamah –kepemimpinan- adalah Syirik.” (Al-Kaafi, 1/232)

Muhaddits Syi’ah, Al-Majlisi, menukil ijma’ Syi’ah atas kekafiran umat Islam, “Kelompok Imamiyah bersepakat bahwa sungguh orang yang mengingkari imamah salah satu dari imam kami dan menolak kewajiban dari Allah untuk mentaatinya adalah kafir, pasti kekal dalam neraka,” (Biharul Anwar, 8/366).

Khumaini, berkata, “Dasar kenajisan mereka –umat Islam- adalah banyak diantaranya; riwayat-riwayat yang banyak yang menunjukkan kekafiran mereka.” ( Kitab ath-Thaharah, 3/326)

Dari dogma takfiriy ekstrim ini, Syi’ah menghalalkan darah dan harta umat Islam. Yusuf al-Bahrani, pakar hadits Syi’ah kontemporer mengakui hal ini. Ia berkata, “Dan pendapat inilah yang benar, yang betul-betul sesuai dengan riwayat-riwayat yang banyak tentang kekafiran mukhalif –orang yang berbeda dengan Syi’ah-, kekurang ajaran, dan kesyirikan mereka, serta kehalalan darah maupun harta mereka. Sebagaimana yang telah kami paparkan dalam beberapa riwayat sebelumnya.”, (Al-Hada’iq An-Nadziroh, 5/175).

Hasungan Para Imam Untuk Membunuh Umat Islam

Ada sebab lain yang tidak kalah berpengaruhnya bagi kejiwaan orang Syi’ah. Yaitu anjuran para imam untuk membunuh ahlu Sunnah, yaitu umat Islam selain Syi’ah.

Abu Abdillah, salah seorang imam Syi’ah, pernah mengatakan, “Ambillah harta para nashib –ahlu sunnah- dimanapun kalian mendapatinya, dan bayarkan kepada kami seperlima-nya.” (Jami’ul Ahadits Syi’ah, 8/532)

Sangat mungkin jika kesulitan mendapatkan harta umat Islam dengan jalan mencuri, tidak segan-segannya mereka merampok atau membunuh muslimin tadi. Toh, dalam keyakinan mereka, darah umat Islam halal.

Hal ini juga dianjurkan dalam hadits Syi’ah yang diriwayatkan oleh Husain al-Bahrani, dalam kitabnya, alMahasin an-Nafsaniyah (hal. 166). Ia meriwayatkan dari salah seorang imam Syi’ah, bahwa imam itu berkata, “Sebenarnya kami para imam hendak memerintahkan kalian untuk membunuh mereka –umat Islam.  Namun kami mengkhawatirkan kalian, kami khawatir salah seorang dari kalian terbunuh disebabkan membunuh mereka. Karena satu nyawa kalian, sungguh lebih berharga daripada seribu nyawa mereka.”

Jadi yang menghalangi mereka untuk tidak membunuh umat Islam adalah kekhawatiran perlawanan dari umat Islam, sehingga ada korban dari pihak Syi’ah. Maknanya, jika tidak mengkhawatirkan hal itu, maka Syi’ah akan membunuh umat Islam kapanpun dan dimana pun, apalagi dengan iming-imingan pahala dan rampasan harta yang halal.

Selain tiga alasan di atas, pertentangan akidah dan fikih juga menjadi sebab utama kebencian Syi’ah terhadap umat Islam. Umat Islam-lah yang menjadi penghalang utama praktek syirik, bid’ah dan perzinahan yang dihasung Syi’ah. Sebagaimana dipahami dalam buku-buku mereka, kesyirikan, kebid’ahan dan perzinahan merupakan komoditi utama ajaran Syi’ah.

Oleh karena itu, sebagian pemuda Syi’ah yang ikut berjihad di Suriah, didoktrin membunuh dan memerangi ahlu sunnah di Suriah, dan dimana pun tentunya, adalah suatu jihad yang berpahala. Matinya pun mati syahid. Sebab, mereka adalah musuh para imam Syi’ah, penghalang utama tegaknya Syi’ar para imam Syi’ah.

Hal ini diakui oleh para algojo Syi’ah yang menyiksa tawanan muslim di Suriah. Kisah ini, banyak penulis dengar selama bertugas mewarta di Suriah. Terutama dari mantan tahanan yang berhasil lolos dari penjara-penjara kejam rezim Syi’ah Nushairiyah. Syubhat dan syahwat telah berpadu dalam jiwa penganut Syi’ah.*

 

*Penulis adalah, Pimpinan Redaksi Majalah Islam An-Najah, Sekjen ANNAS dan Anggota Dewas Syariáh Kota Surakarta (DSKS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *