Rahasia Dibalik Adzan, Mencakup Kandungan Aqidah

Sukmawati
Sukmawati

An-Najah.net – Al-Qodhi bin Iyadh mengatakan Lafazd adzan mencakup kandungan aqidah seorang muslim. Adzan adalah seruan untuk berkumpulknya kaum muslimin melaksanakan shalat. yang mana di sejarahnya kaum muslimin berselisih masalah seruan tersebut. Ada yang menyarankan dengan lonceng, namun lonceng adalah seruan kaum Nasrani untuk melaksanakan ibadah mereka. Ada pula yang menyarankan dengan terompet, namun terompet adalah seruan kaum Yahudi untuk melaksanakan ibadah mereka. Dan Rasulullah melarang ber-tasyabuh­ kepada orang-orang kafir.

Berlomba Untuk Adzan

Adzan memiliki keutamaan yang besar sehingga andai saja orang-orang tahu keutamaan pahala yang didapat dari mengumandangkan adzan, pastilah orang-orang akan berebutan. Bahkan kalau perlu mereka melakukan undian untuk sekedar bisa mendapatkan kemuliaan itu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فيِ الآذَانِ وَالصَّفِ الأَوَّلِ ثُمَّ لمَ ْيَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا

Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya orang-orang tahu keutamaan adzan dan berdiri di barisan pertama shalat (shaff), dimana mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali harus mengundi, pastilah mereka mengundinya di antara mereka.”(HR. Bukhari)

Kanduangan-Kandungan Lafadz Adzan

Lafazd adzan mencakup kandungan aqidah seorang muslim, sehingga Imam Al Qadhi bin Iyadh berpendapat: “Ketahuilah, bahwa adzan adalah kalimat yang berisi aqidah iman yang mencakup jenis-jenisnya.”

Pertama, menetapkan Dzat dan yang seharusnya dimiliki Dzat Allah dari kesempurnaan dan pensucian dari lawan kesempurnaan. Dan itu terkandung pada ucapan Allahu Akbar. Lafadz ini, walaupun sangat ringkas, namun lafadz tersebut mengandung kesempurnaan dan kesucian Allah Ta’ala.

Kedua, penetapan tauhid dan menafikan syirik. Ini merupakan dasar dan tonggak iman, dan tauhid yang didahulukan ada di atas segala tugas agama lainnya. Kandungan ini terdapat dalam lafadz ‘أشهد ألا إله إلا الله’

Ketiga, menegaskan penetapan kenabian dan persakisan akan kebenaran risalah (kerasulan) bagi Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini merupakan kaidah agung setelah syahadat tentang keesaaan Allah. Kandungan ini terdapat dalam lafadz ‘أشهد أن محمد الرسول الله’

Keempat, Kemudian mengajak kepada ibadah yang diperintahkan, yaitu shalat dan menjadikannya setelah penetapan kenabian, karena kewajibannya diketahui melalui Nabi SAW, bukan melalui akal. Kandungan ini terdapat dalam lafadz ‘حي على الصلاح’

Kelima, Kemudian mengajak kapada kemenangan, yaitu kekal di dalam kenikmatan yang abadi. Disini terdapat isyarat untuk perkara-perkara akhirat dalam hal kebangkitan dan pembalasan yang merupakan akhir masalah aqidah Islam. ‘حي على الفلاح’

lalu diulang-ulang sebagai penegasan. Sehingga dari adzan didapatkanlah pemberitahuan tentang masuk waktu shalat, ajakan berjamaah dan menampakkan syiar Islam. (Majmu Syarhu Al Muhadzdzab, Imam Al Nawawi, hlm. 81)

Tak Paham Kandungan Adzan

Namun, belakangan ini ada sesosok perempuan putri Soekarno yang mengaku sebagai ibu Indonesia yang menjadi sorotan di Indonesia, khususnya kaum Muslimin. Sorotan tersebut dimulai seusai membacakan puisi Kamis (29/03/2018) yang berjudul ‘Ibu Indonesia’ dalam sebuah acara peragaan busana. Namun, puisi yang dibacanya menyinggung syariat Islam, di antara pengalan puisinya, “kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok. Lebih merdu dari alunan adzan mu”

Dari pengalan puisi di atas terlihat sekali pelecehan terhadap syaria’at Islam. Jika dia mengaku beragama Islam tapi menolak seruan adzan dan menolak melaksanakan sholat dihukum sebagai manusia fasiq atau durhaka. Tapi jika dia sengaja menolak ajaran Islam seperti adzan padahal itu adalah syari’at Islam yang dianutnya, maka orang itu menjadi murtad secara otomatis.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Hukuman bagi penghina Allah Ta’ala jika ia muslim maka wajib dibunuh menurut ijma’ karena perbuatannya menjadikannya kafir murtad dan kedudukannya lebih buruk dari orang kafir asli”. (Sharimu al-maslul, Ibnu Taimiyyah, 226)

Oleh karenanya siapa saja yang tidak mengerti syariat Islam tapi mengaku beragama Islam, wajib belajar syariat Islam. Agar bisa menjalankan ajaran Islam dengan baik pada dirinya dan keluarganya. Wallahu ‘alam.

Penulis : Ibnu Jihad

Editor : Abu Mazaya