Ramadhan, Jum’atan dan Soekarno

Ramadhan Karim

An-Najah.net – Mengapa Indonesia seolah tak bisa bebas dari aneka kemaksiatan? Padahal Ramadhan begitu semarak dengan ibadah Penduduknya. Shalat Jum’at pun masjid-masjid selalu penuh bahkan luber dengan jama’ah.

Kalau Anda menyangka saya akan berteori tentang tidak tegaknya syariat Islam di negeri ini sebagai penyebab, Anda keliru. Saya hanya ingin berkisah tentang puasa Ramadhan dan Jumatan pendiri negara ini, Soekarno.

Mari kita kilas balik sejarah, 17 Agustus 1945 bertepatan dengan hari Jumat 9 Ramadhan 1364 H. Negeri ini diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta. Dua-duanya Muslim.

Soekarno yang bapaknya penganut Teosofi pernah menjadi murid, bahkan menantu, Haji Oemar Said Tjokroaminoto pendiri dan pemimpin Sarekat Islam.

Namun agaknya hanya mata kuliah orasi politik yang diambil Soekarno dari guru dan mantan mertuanya itu. Ia memang menjadi aktor politik terkemuka kelak, namun pandangan politiijokro yang berbasis Pan-Islam tak membekas dalam benak Soekarno.

Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di hari Jumat, di tengah suasana puasa Ramadhan. Namun tak pernah diceritakan dalam sejarah, apakah selepas Proklamasi pukul 10 itu kemudian dilanjutkan dengan Shalat Jumat.

Soekarno bahkan berkisah aneh terkait Ramadhan dalam biograhnya yang ditulis Cindy Adams, Penyambung Lidah Rakyat. Menurutnya, sehari selepas Proklamasi, lewat seorang tukang sate ayam.

Soekarno yang belum sarapan memanggilnya dan memesan lima puluh tusuk sate ayam. Setelahnya ia memakannya dengan lahap di pinggir sebuah selokan yang kotor.

Kisah ini banyak dinukil oleh media sebagai ”perintah kepresidenan pertama Soekarno adalah ‘Pesan sate lima puluh tusuk’“.

Catatan tambahan buat umat Islam, perintah itu keluar di hari kesepuluh Ramadhan setelah menghapus syariat islam dari Konstitusi negara!

Pertanyaannya kemudian, apakah Soekarno tidak berpuasa? Penulis kisah-kisah Soekarno yang bernama Roso Daras mencoba berargumen bahwa saat Itu beliau sedang sakit malaria sehingga mungkin tidak berpuasa karena alasan sakit. Namun Perlu dicatat bahwa hari itu ia masih sempat mengikuti sidang PPKI yang memilihnya menjadi presiden.

Bahkan Soekarno masih sempat, bersama Hatta, melobi dan meyakinkan tokoh Islam dalam PPKI untuk menghapus tujuh kata dalam pembukaan UUD 1945.

Juga menghapus pasal bahwa presiden haruslah orang Indonesia asli yang beragama Islam. Entah apakah ia juga masih sakit saat menyelesaikan agenda-agenda besar bagi kaum sekuler itu.

Soal shalat Jumat, kelak Mahbub Djunaidi yang ketua PWI sekaligus aktihs NU bercerita pertemuan Soekarno dengan para ulama NU di Istana Cipanas pada tahun 1954.

Para ulama diminta memberi legitimasi pada Soekarno sebagai waliyul amri yang sah bagi umat Islam Indonesia. Saat itu, kedudukan Soekarno sebagai Presiden RI digugat sebagian umat Islam yang memilih Darul Islam sebagai negaranya dengan Kartosoewirjo sebagai Imam mereka.

Setelah membuka beraneka kitab politik Islam, para kiai-kiai itu hampir sepakat bahwa Soekarno layakjadi waliyul amri. Namun ada satu poin yang tersisa.

Apakah Soekarno biasa Jumatan? Jika ya di masjid mana? Agaknya para kiai pun mafhum dengan kebiasaan Jumatan Soekarno.

Segera setelah itu, Soekarno menyatakan akan memerintahkan pembangunan masjid Baiturrahim di istana. Di sanalah ia akan melakukan shalat Jumat.

Setelahnya, para kiai pun sepakat, ia diberi gelar Waliyul Amri Dharuri Bisy Syaukatin. Waliyul amri darurat namun memiliki kekuatan.

Dengan fatwa itu kemudian Soekarno memiliki “legitimasi dari ulama” untuk melibas Darul Islam dan menghukum mati Kartosoewirjo.

Jadi puasa Ramadhan dan shalat Jumat penduduk negeri ini sepertinya tak bisa jadi ukuran tegaknya syariat Islam. Mengapa bisa begitu? Tengok saja kisah pendirinya. Anda pahamkan sekarang?

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 115 Rubrik Renungan

Penulis : Ibnu

Editor : Helmi Alfian