Ramadhan Madrasah Ilahi Sucikan Hati

Ramadhan madrasah ilahi
Ramadhan madrasah ilahi

إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَرَضَ لِي، فَقَالَ : بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ. قُلْتُ : آمِينَ

“Sesungguhnya Jibril ‘alaihis sholâtu was salam menghampiriku, dan berkata, “Mudah-mudahan dilaknat Allah orang yang berjumpa dengan Ramadhan tapi tidak mendapatkan ampunan.” Aku katakan, “Amin.”” (HR. Hakim)

***

An-Najah.net – Hadits di atas mengisyaratkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ada nilai filosofis di balik ibadah puasa. Seluruh ibadah pada hakekatnya aktivitas hati (jiwa) bukan fisik. Adapun fisik hanya pelengkap dan sarana untuk tergapainya ibadah ini.

Betapa banyak orang yang memiliki fisik prima, badan full atletis, mampu lari marathon sekian jam, ia tidak mampu melangkahkan kakinya ke masjid yang hanya berjarak 100 meter dari rumah.

Rasulullah SAW bersabda

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”. (HR. Muslim)

Hadits ini mengisyaratkan bahwa neraca kebaikan dan keburukan seorang hamba dalam penilaian Allah SWT adalah hatinya. Siapa yang memiliki hati (jiwa) yang baik. Sehingga, sudah selayaknya seluruh ibadah melibatkan hati dan diniatkan untuk mensucikan hati.

Tentang tujuan ibadah puasa (shiyam), Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. 2:183)

Falsafah Shiyam

Agar kalian bertakwa. Inilah tujuan utama dari ibadah puasa. Ibadah tahunan yang selalu terulang ini pasti memiliki ragam makna dan nilai falsafah yang luar biasa. Shiyam membebaskan jiwa manusia dari kendali nafsu hewani yang selalu mengikat jiwa berputar antara syahwat perut dan di bawah perut. Keduanya adalah tali kekang yang telah menjerumuskan manusia dalam lumpur kehinaan.

Diantara nilai falsafah puasa adalah:

Falsafah Pertama: Membentuk pribadi yang bertakwa.

Sebagaimana tertera dalam surat Al-Baqarah di atas. Ketakwaan hati diraih dengan menyelamatkan dan mensucikan hati dari berbagai noda dosa yang mensucikannya, serta menjadikan jiwa selalu tunduk pada aturan pemilik-Nya. Yaitu, Allah SWT.

Allah SWT berfirman

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (Qs. Asy-Syu’ara’: 88-89)

Menurut ulama tafsir, qolbun salim adalah hati yang selamat dari noda-noda dosa. Terutama hal-hal berikut:

  1. Noda syirik.

Syirik dengan segala bentuknya adalah penyakit yang mematikan bagi hati. Seseorang yang tertimpa penyakit ini, akan diharamkan semua kebaikan; dunia-akherat. Tidak ada ampunan bagi dirinya. Tidak ada obat kecuali bertaubat nashuha (Qs. An-Nisa’: 48).

Dahulu kala, kesyirikan yang merebak adalah syirik doa. Manusia berdoa kepada selain Allah SWT. Sementara kesyirikan zaman sekarang, lebih berbilang. Baik syirik, doa, cinta, roja’ dan yang paling banyak menimpa umat Islam yaitu syirik taat.

Syirik taat adalah, ‘Syirik taat ini terjadi jika seseorang mentaati selain Allah SWT, baik itu raja, pendeta, ulama, undang-undang atau selainnya, dalam menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT dan rasul-Nya atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah SWT dan rasul-Nya.”

Kesyirikan ini seperti yang dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani. Suatu waktu, Rasulullah SAW membacakan surat at-Taubah: 31, kepada sahabat Adhi bin Hatim RA. Ayah, Adhi, yaitu Hatim adalah tokoh yang terkenal kedermawanannya. Dulu ia seorang Nasrani.  “Ya Rasulullah, Yahudi dan Nasrani tidak pernah beribadah kepada mereka (pendeta dan rabi)!” Kritik Adhi.

Rasulullah SAW menjawab, “Tentu. Tetapi bukankah para rahib dan pendeta mengharamkan untuk mereka sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah, dan menghalalkan untuk mereka sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah SWT. Kemudian Yahudi dan Nasrani mentaati para rahib dan pendeta itu. Inilah bentuk ibadahnya Yahudi-Nasrani kepada para rahib-pendeta.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Syirik taat terlihat pada ketidakpatuhan sebagian kaum muslimin kepada syari’at Allah SWT. Dan lebih tunduk kepada hukum dan aturan yang dibuat oleh manusia sebangsa, atau yang diadopsi dari Barat, (Syaikh asy-Syanqithi, Tafsir adh-Wail Bayan, 3/259)

Keangkuhan terhadap hukum Allah SWT, terlihat dari keinginan untuk menghapus nilai-nilai Islam dalam kehidupan muslimin dan memerangi setiap symbol Islam. Seperti: khilafah, jihad, syahid, syari’at Islam, negara Islam, al-Wala’ wal Baro’, dan lain sebagainya. Semua ini dianggap mengancam kesatuan bangsa, dan menggorogoti kenyamanan hidup. Inilah kesyirikan nyata,

  1. 2. Noda kufur.

Banyak ragam kekufuran. Terkadang bersumber dari hati, lisan atau anggota badan. Seperti mencela Islam, melecehkan syari’at atau syi’ar Islam dengan sengaja. Dan lain sebagainya. Semuanya, mengotori jiwa, dan membuat hati membusuk. Sehingga, ihsan, iman, islam, akhlak, dan rahmat Allah SWT melarikan diri dari  hati ini.

Kekufuran yang paling Nampak dewasa ini adalah loyalitas kepada orang-orang kafir. Dan membantu musuh-musuh Islam, seperti Amerika, Barat, Yahudi, Komunis dan Salibis lainnya dalam memerangi syari’at Islam maupun Islam.

  1. Noda nifak.

Tidak ada dosa yang lebih ditakuti oleh sahabat-sahabat Rasulullah SAW, melebihi dosa nifak. Sebab, ia begitu tersembunyi. Kehadirannya tidak terasa. Sementara ancaman Allah SWT bagi orang-orang munafik sungguh mengerikan.

Termasuk bentuk kenifakan yang terjadi dalam kehidupan muslimin sekarang ini, adalah berhukum kepada orang-orang kafir, dan ridho terhadap hukum mereka, serta antusias dalam menerapkan hukum mereka. Ia mengutamakan hukum orang kafir disbanding syari’at Islam. di saat yang bersamaan mereka menolak pemberlakuan hukum Allah SWT dan syari’at Islam (Qs. An-Nisa’: 60-61).

  1. Noda bid’ah dan syahwat.

Inilah yang menimpa mayoritas umat Islam. berkubang dalam kemaksiatan dan godaan syahwat. Sehingga tidak peduli terhadap batasan-batasan halal-haram.

Nabi Ibrahim AS Mencontohkannya

Ciri pemilik qolbun salim, adalah selalu membangun hubungan prima dan baik dengan Rabb-Nya. Dalam Al-Qur’an, potret manusia yang memiliki qolbun salim adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman;

وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (Yaitu ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.” (Qs. Ash-Shofats: 83-85)

Jika menelusuri sejarah Nabi Ibrahim, kita jumpai beliau sebagai sosok yang berkepribadian kuat. Tidak mudah goyah dengan pengaruh-pengaruh lingkungan, keluarga, politik dan tekanan lainnya. Memiliki izzah, keberanian yang luar biasa, serta diplomasi yang baik disertai kepandaian berlogika yang menawan. Hal ini bisa dilihat dalam diskusi dan dakwahnya kepada kaum pagan. Terutama raja Namrudz, penguasa angkuh yang memproklamirkan diri untuk memusuhi dakwah Ibrahim AS.

Kepribadian istimewa pada Nabi Ibrahim AS bukan perkara kebetulan. Tetapi, lahir dari pemahaman yang mendalam terhadap tauhid, dan kesucian jiwanya dari noda-noda yang mengotorinya. Beliau mengharamkan diri dan kaumnya untuk tunduk kepada selain Allah SWT. Mendeklarasikan permusuhannya terhadap segala bentuk kesyirikan.

Nabi Ibrahim AS telah mengajarkan bagaimana mensucikan jiwa  yang benar. Yaitu, diawali dari pembenahan tauhid, dan menyucikan jiwa dari segala unsur kesyirikan. Baik syirik cinta, ketaatan, syirik hukum dan selainnya. Ditambah dengan ketundukan total kepada syari’at Allah SWT; baik perintah maupun larangannya; baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Inilah sosok pemilik qolbun salim sejati. Ia tegas dalam akidah. Lembut dalam bertutur. Taat dan senantiasa bertaubat kepada Allah SWT, pemberani laksana singa dalam memperjuangkan syari’at Allah SWT. Obsesi terbesarnya adalah mencari ridho Allah SWT. Misi tertingginya adalah menghambakan manusia kepada Allah SWT. Agar mereka taat dan patuh hanya kepada syari’at Allah SWT.

Tentang kepribadian ini, Allah SWT mengisahkan dalam ayat lain; “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah),” (Qs. An-Nahl: 120-121)

Falsafah Kedua: Meningkatkan ketaatan dan kesabaran dalam menjalankan ketaatan.

Pada bulan Ramadhan seorang muslim melaksanakan puasa dengan penuh keikhlasan. Ia bersabar atas rasa haus dan dahaga yang luar biasa. Ia tetap mentabahkan dirinya hingga tiba waktu untuk buka puasa.

Inilah di antara nilai tarbiyah Ramadhan yang sangat mahal. Ketaatan dan kesabaran inilah yang mengantarkan para sahabat ke puncak keimanan, dan mendapat predikat ‘khairul qarni’ (sebaik-baiknya generasi).

Saat Khalid bin Wali RA dicopot oleh Umar RA dari panglima tertinggi pasukan Islam, digantikan oleh Abu Ubaidah. Lalu menempatkannya ke posisi pasukan biasa. Khalid, tidak pernah menantang, apalagi berpikir balas dendam kepada Umar bin Khattab RA, yang saat itu menjadi khalifah.

Saat para sahabat senior seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan selain mereka, dipimpin oleh seorang anak muda yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW, yaitu Usamah bin Zain, dalam peperangan melawan Romawi. Tidak, ditemukan apapun pada masing-masing sahabat senior kecuali sami’na wa atho’na, (ketaatan yang tulus).

Beginilah ketaatan dan kesabaran generasi alumni madrasah Ramadhan. Mereka telah berhasil melewati ujian dan tantangan pada bulan Ramadhan dengan baik.

Falsafah Ketiga: Revolusi Diri Seorang Mukmin.

Ramadhan, sebagai madrasah, telah menyiapkan banyak tarbiyah untuk jiwa, akhlak dan fisik seorang mukmin. Semuanya ditujukan untuk merubah dan mengupgrade pribadi seorang muslim. Sehingga menjadi sosok yang lebih unggul daripada sebelumnya.

Inilah beberapa falsafah shiyam. Yaitu menjadi madrasah untuk mensucikan hati dan membentuk karakter.

Penulis : Akram Syahid

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 139 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar