Ramadhan, Seindah Munajat Rasulullah SAW (Bag.1)

images Syarat mendapatkan jaminan ampunan dari Allah SWT adalah mengikuti Rasulullah SAW.Inilah yang diperintahkan oleh Allah SWT.

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnyabagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”(Al-Hasyr:7). Dalam ayat lain, Allah SWT menjelaskan;

Muslim manapun pasti mencintai Allah SWT.Ini adalah syarat sah iman.Dan Allah SWT menjadikan ittiba’ (beruswah) kepada Rasulullah SAW sebagai tanda cinta kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Qs. Ali Imran: 31)

Baginda Nabi SAW pun telah mengabarkan, ittiba’ juga merupakan syarat diterimanya sebuah amal bahkan ia menjadi tiket masuk ke dalam surga Allah SWT kelak di hari kiamat.
كُلُّ أُمّتي يَدْخُلُونَ الجنَّةَ إلا مَنْ أَبَى”.قَالُوا: يَا رَسولُ الله! وَمَنْ يَأبَى؟ قَالَ:”مَنْ أطَاعَني دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمنْ عَصَانِي فَقَدْ أبَى
“Setiap umatku pasti akan masuk surga, kecuali yang enggan.Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang enggan masuk surga?”Rasulullah SAW menjawab, “Siapa yang taat kepadaku pasti masuk surga.Dan siapa yang bermaksiatkepadaku, maka dia telah enggan –masuk surga-.” (HR. Bukhari)

Ittiba’ kepada Rasulullah SAW tidak terealisasi dalam diri seorang muslim kecuali dengan tunduk secara sukarela dan penyerahan diri secara total kepada aturan Rasulullah SAW di seluruh sisi kehidupan. Baik dalam perkara yang nampak maupun tersembunyi, disertai dengan sikap pasrah, tidak protes, apalagi melawannya, (Tafsir Ibn Katiser, 1/521)

Rasulullah SAW adalah dengan mengkaji petunjuk dan tuntunan-tuntunan beliau dalam setiap permasalahan serta keadaannya.Sebab tuntunan beliau ada pada setiap masalah yang kita hadapi, utamanya permasalahan ibadah. Pun dalam masalah shiyam. Seorang muslim yang hendak meraih pahala tak terbatas, harus mengkaji petunjuk nabi SAW dalam melaksanakan shiyam. Sebab, nabi SAW manusia yang paling kenal Robbnya; sehingga beliau menjadi manusia yang paling takut dan taat kepada Robbnya. Beliau SAW pun paling semangat menenuaikan hak-hak Allah SWT.Sangat antusias meraih ridho Allah SWT. Sebab, semakin mengenal Allah SWT, maka seorang hamba semakin ingin dekat dengan Rabbnya, dan semakin takut bermaksiat kepada-Nya.

Sahabat Abdullah bin Syukhair RA berkata, saya pernah melihat Rasulullah SAW shalat dari dadanya terdengar suara gemuruh seperti bunyi gemuruh penggilingan gandum, ini karena tangisan yang tertahan saat shalat.

Kisah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud RHM ini menunjukkan keseriusan nabi Muhammad SAW dalam bertaqarrub kepada Allah SWT.Di bulan Ramadhan banyak sekali tuntunan-tuntunan Rasulullah SAW agar umatnya bisa melalui Ramadhan dengan penuh arti dan berpahala.

Kesungguhan Dalam Shiyam

Rasulullah SAW adalah manusia yang paling antusias mencari pahala pada bulan Ramadhan. Misalnya dalam puasa beliau SAW senantiasa menjaga adab-adab berpuasa agar bisa mendekat kepada Allah SWT lebih maksimal.

Diantaranya, beliau selalu melaksanakan sahur, dan menyegerakan berbuka. Sebab, kata beliau SAW, pada sahur terdapat barokah. Beliau SAW bersabda;
تَسَحَّرُوا، فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah, sesungguhnya di dalam sahur itu ada barokah.”(HR. Muslim)

Diantara tuntutan beliau adalah mengakhirkan sahur. Perbuatan beliau ini diikuti oleh para sahabatnya. Ulama tabi’in bernama Maiumun bin Mahran berkata, “Adalah sahabat-sahabat Muhammad SAW orang-orang yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.”

Pada waktu berbuka, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk berdo’a, beliau SAW juga mencontohkannya. Ibnu Umar RA berkata, “Jika berbuka puasa, Rasulullah SAWberdo’a:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Dahaga telah berlalu, kerongkongan telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah.”(HR. Abu Dawud).

Beliau juga memperbolehkan bersiwak pada saat puasa, asalkan tidak masuk ke dalam tenggorokan.Sebab siwak sangat dicintai Allah SWT. Beliau berkata, “Aku telah diperintahkan untuk bersiwak, sampai-sampai aku mengira akan ada ayat alQur’an atau wahyu -lain- yang akan memerintahkan siwak.” (HR. Ahmad)

Sahabat Amir bin Abi Rabi’ah berkata, “Saya berkali-kali melihat Rasulullah SAW melakukan siwak, disaat beliau berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

Ini semua dilaksanakan demi meraih ridho Allah SWT.Dan tentunya pahala ibadah-ibadah di atas dilipatgandakan pada bulan Ramadhan. Imam Bukhari RHM berkata, “Hadits Amir di atas, menunjukkan bahwa bersiwak bagi orang-orang yang berpuasa adalah sangat utama.” (Ibnu Khuzaimah, 3/247)

Sedangkan dalam kondisi yang sangat menyengsarakan, Rasulullah SAW memberi tuntunan agar berbuka. Misalnya dalam keadaan safar. Berpuasa disaat safar boleh, namun jika memberatkan maka berbuka lebih baik. Hal ini juga dilaksanakan demi meraih ridho dan cinta dari Allah SWT. Sebab, Allah sangat mencintai orang yang mau menerima rukhsoh (dispensasi) dariNya.

Rasulullah SAW menyebut musafir yang memaksakan diri berpuasa saat kelelahan, kelaparan dan kehausan menimpanya sebagai pelaku kemaksiatan, (HR. Muslim).

Tuntunan Rasulullah SAW dalam Tarawih

Dalam rangka mencari pahala pada bulan Ramadhan, Rasulullah SAW tidak menyia-nyiakan waktu malamnya.Beliau melakukan shalat tarawih dengan penuh khusyu’.Beliau memanjangkan shalatnya.
Sahabat Nu’man bin Bisyr RA mengisahkan, pernah beliau melaksanakan shalat malam (tarawih) bersama Rasulullah SAW. Beliau memanjangkan shalatnya hingga menjelang waktu sahur.Padahal beliau shalat tidak lebih dari sebelas atau tiga belas rekaat.(HR.An-Nasa’iy dan Bukhari)

Namun Rasulullah SAW tetap menganjurkan para imam untuk meringankan bacaannya.Sebab, besar kemungkinan diantara jama’ah ada yang sudah tua, sakit, anak-anak atau memiliki keperluan yang mendesak. Dikhawatirkan, shalat yang panjang akan membuat mereka terbebani. Sehingga semangat untuk tarawih berjama’ah akan mengendor. Padahal pahala shalat bersama imam sama dengan shalat semalam suntuk. (HR. Tirmidzi).

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda,
“Siapa yang mengimami shalat, maka hendaklah ia meringankannya.Sebab diantara mereka ada yang lemah, sakit, maupun orang tua.Jika ia shalat sendiri, hendaklah ia memperpanjang shalat, sesuai kemauannya.” (HR. Bukhari)

Sunnah beliau ini diikuti oleh para sahabat sesudahnya. Pada masa Umar RA, umar memerintahkan Ubay bin Ka’b dan Tamim Ad-Dariy untuk menjadi imam tarawih. Keduanya terkadang mengimami dengan bacaan yang panjang.Begitu panjangnya, ada diantara sahabat yang bersandar pada tongkat. Demikian juga pada masa Utsman bin Affan RA, (SunanKubro, 2/496)* (Akrom Syahid) –Bersambung-