Rand Corp

Rand Corporation cukup akrab di telinga aktifis. Lembaga yang banyak melahirkan kebijakan pertahanan Amerika ini, sering menulis jurus melawan umat Islam. Rilis ‘Building Moderate Muslim Networks’ misalnya, menjadi semacam blue print untuk membuat kelompok Islam pro syariat menjadi tersisih, kalah, dan hancur. Tentu output kajian Rand, bukan sekadar output tanpa makna; sekadar wacana dan analisa-analisa kosong. Lembaga ini bekerja berdasarkan order bangsa sekuat Amerika untuk memandu kebijakannya dan sekutunya. Maklum, Rand digagas pasca PD II 1948 dengan order pertama dan satu-satunya: bekerja untuk Angkatan Udara Amerika. Dalam perkembangannya, ia dijadikan seolah-olah lembaga peneliti independen dengan banyak obyek kajian. Di lapangan, kita banyak menemukan kesesuaian antara rekomendasi dengan praktik. “Deradikalisasi BNPT,” misalnya, ternyata hanya copy-paste “Deradikalisasi Rand”; bukan hanya substansi tapi sampai ke istilahnya juga.

David Aaron, peneliti Rand Corporation, pada 2008 lalu pernah menulis “In Their Own Words Voice of Jihad”. Ada empat kelemahan jihadis yang harus dieksploitasi. Pertama ia menekankan agar prioritas utama aksi militer Amerika terhadap jihadis haruslah untuk manghapus basis aman (safe zones). Kalaulah bukan penghapusan (elimination), aksi harus menyentuh tindakan preventif dan destabilisasi terhadap daerah perlindungan yang ada. Rand menilai bahwa hilangnya Afghanistan adalah sebuah prestasi dan menjadi pukulan bagi Al-Qaeda. Agresi Amerika membuat mereka mundur ke Pegunungan Hindukush dan menjadikan mereka sebagai pengungsi. Meski demikian, Rand memandang bahwa sepanjang perbatasan Afghanistan-Pakistan dan beberapa daerah di Irak adalah zona aman bagi jihadis. Jihad di Somalia dan Chechnya juga dibaca sebagai upaya mewujudkan Negara Islam dan basis aman untuk perluasan jihad. Sebuah upaya yang mereka curigai bukan sekadar untuk melawan thaghut lokal tapi thaghut internasional.

Kelemahan kedua, kelompok jihadis memiliki kecenderungan untuk bersengketa, berpecah dan berbantah-bantahan dalam soal doktrin dan strategi. Jihadis sangat sensitif terhadap kritik dari Muslim lain menyangkut dasar pembenaran mereka dari perspektif Qur’an-Sunnah. Mereka saling memfitnah, mengancam satu sama lain atas dasar takfir, wala’-baro’, superioritas ayat pedang, istisyhadiyah, pembunuhan Muslim, kemurtadan syi’ah, dan klaim salafi sejati. Menurutnya, perbedaan dan harus dieksploitasi untuk terjadinya saling perang informasi antar jihadis sebab akan menimbulkan kelemahan ketiga: kebodohan tentang Islam dan umatnya sebagai target perekrutan jihad. Mereka juga akan tumpul dalam hal ‘levelisasi’ anggota jihad. Buat Rand, konflik internal akan membuat jihadis melupakan skala prioritas dalam pembangunan kekuatan, strategi, dan penataan SDM jihad.

Kelemahan keempat: Ketergantuangan jihadis terhadap internet, dapat dieksploitasi untuk merangsang perpecahan antar jihadis, membuat situs web palsu, memancing saling mencela kesalahan dan menyebarkan kontrapropaganda. Rand mencermati secara serius situs-situs jihad yang menurutnya sangat banyak. Mereka mengkhawatirkan “penyalahgunaan” situs-situs itu untuk pelatihan, penggalangan dana, rekrutmen dan koordinasi. Meski demikian Aaron juga menulis, “Ketika orang browsing, membuka blog dan chatroom, ia akan mendapatkan kesan bahwa sebagian besar yang disaksikan adalah “jihad fantasi.” Ia juga menyebut bahwa banyak kalangan muda yang berpendidikan masuk dalam web-web jihad. Meski demikian, tidak mesti bahwa partisipasi mereka dalam sebuah situs jihad membuatnya menjadi “sel tidur” (sleeper cell).

Menarik mencermati tulisan David Aaron ini. Tanpa harus menganggap penting ocehan peneliti Rand Corp ini, banyak fakta-fakta di lapangan yang menghenyakkan. Adalah fakta umum bahwa di kalangan jihadis perbedaan ‘manhaj amal’ tampil meruncing meski tidak ada perbedaan ‘ushul manhaj’. Apakah jihad fardi atau jama’i, nikayah atau tamkin, lokal atau globa; adalah isu-isu yang banyak diperdebatkan. Perbedaan strategi dan cara memahami nash, sering melahirkan arogansi dan delegitimasi antara kelompok yang satu dengan yang lain. “Perbedaan” berkembang menjadi tuduhan: tidak mau berjihad, terkena virus murji’ah, sudah menjadi chicken, antek taghut, dan hal-hal serupa. Bashiroh, dengan demkian sangat penting untuk bisa memilah mana ”khilafiyah” dan mana “amarah”; mana yang murni perbedaan dan mana yang “komporan.”

Rand memandang konflik internal jihadis sebagai keuntungan bagi mereka. Tapi tanpa merujuk kalimat ini pun, kita punya Ibnul Qoyyim. Beliau menulis jebakan-jebakan setan, bahwa antara jurus yang halus adalah ‘menyibukkan manusia dari hal yang mubah agar lupa yang berpahala, dan menyibukkan hal marjuh atas rajih sehingga orang tak memahami skala prioritas dalam beramal. Menyibukkan diri dengan amal mubah saja bisa menjadi jebakan setan, apalagi jika kesibukan itu bernama “konflik dan perpecahan.” Energi untuk membangun kekuatan Islam bisa habis hanya untuk saling berbantah atas nama radd syubhat.

Yang juga kurang ajar dari tulisan Rand itu adalah istilah “jihad fantasi.” Yaitu, “Keberanian yang dibuat-buat atau jihad omong kosong, sulit untuk tidak dicurigai bahwa mereka hanyalah kelompok yang ingin muncul.” Ya… tapi jangan terlalu diambil hati sebab itu pernyataan orang kafir. Agaknya ia hanya ingin memetakan mana kelompok yang mengekpresikan semangat secara verbal dan tulisan tapi sesungguhnya tidak sungguh-sungguh dalam membangun kekuatan. Mana kelompok yang “diam-diam” tapi dinilai sebagai ancaman. Saya tidak mengerti apakan Rand pernah membaca pepatah Arab, “Engkau mengharap sukses tapi tidak engkau tempuh prosedurnya. Sungguh perahu itu tak bisa berjalan di atas daratan.” Oleh orang Madura, pepatah itu dilawan dengan gerobak sate berbentuk perahu. Agaknya, itulah jenis “fantasi” orang Madura. [Bambang Sukirno]