Refleksi 2 Tahun Revolusi Suriah

Bulan ini, Maret 2013 Revolusi Suriah telah memasuki tahun yang kedua
Bulan ini, Maret 2013 Revolusi Suriah telah memasuki tahun yang kedua

(An-najah) – Hari ini, 15 Maret 2011. Tepat dua tahun lalu, sejumlah pemuda di bawah usia 15 tahun, ditangkap di Dar’aa, Suriah, karena mereka mencorat-coret dinding kota dengan tulisan: “Rakyat ingin menggulingkan rezim.”  Kemudian, Dar ‘aa mengawali letusan revolusi bersamaan dengan seluruh negara, ribuan bahkan jutaan warga turun ke jalan setelah shalat Jumat dalam’ hari kemarahan ‘. Musim semi Arab telah resmi tiba di Suriah.

Rezim Assad, secara tidak mengherankan, merespons aksi protes secara brutal. Pada tahun kedua dari pemberontakan Suriah atas rezim dzalim ini, ada 1 juta warga Suriah menjadi pengungsi dan lebih dari 70.000 kematian telah tercatat. Sejauh ini, pertempuran rakyat Suriah terus berlanjut hingga konon kabarnya Amerika Serikat dan Inggris mengumumkan akan mempersenjatai kelompok oposisi secara selektif  dan para pejuang Suriah berhasil mendguasai wilayah provinsi Raqqa.

Meskipun rakyat Suriah telah berada dalam penindasan rezim selama beberapa dekade sejak zaman Hafiz Assad, mereka berhasil bersatu dan membuang ketakutan mereka terhadap rezim dan memulai proses untuk menjatuhkan rezim. Berjuang dengan kekuatan konvensional, rakyat Suriah membentuk unit-unit pejuang dalam satuan katibah (brigade) untuk melawan kekuatan rezim Nushairiyah di seluruh negeri. Mengingat perjuangan rakyat melawan rezim ini menjalar di seluruh negeri berlangsung secara bersamaan, hal ini membuat kekuatan pasukan rezim menjadi merenggang karena sebaran perlawanannya merata. Dengan demikian, kelompok pejuang beserta mujahidin berhasil memotong jalur suplai rezim dan selanjutnya menangkap daerah di sekitar kota-kota utama, yang memungkinkan mereka untuk kemudian meluncurkan serangan berkelanjutan pada kota-kota dan target yang besar. Strategi inilah yang belakangan dilakukan oleh para mujahidin dan rakyat Suriah saat berhasil menguasai bagian utama dari Aleppo, al-Raqqa, dan yang lebih penting jatuhnya pangkalan udara kedua terbesar di suriah- Taftanaz. Sampai sekarang pasukan al-Assad telah dikepung oleh mujahidin dari bagian Utara negara itu dan telah menyerahkan sebagian wilayah Timur Suriah.

Strategi Bashar Assad bertumpu pada menggunakan kekuatan besar untuk menundukkan perjuangan rakyat. Kota Homs menjadi saksi atas pengepungan yang dilakukan oleh pasukan rezim, Kawasan Bab Amr di Homs telah mengalami tiga pengepungan dalam dua tahun, persis dengan apa yang terjadi di Fallujah, Irak. Strategi ini mengakibatkan konvoi besar tank dan kendaraan lapis baja pengangkut personel (APC) yang melakukan misi di seluruh negeri. Namun, taktik gerilya yang dilakukan mujahidin telah menyebabkan hilangnya banyak jalur pasokan dan memaksa rezim untuk kembali menyuplai pasukan dari udara. Tentara rezim mengandalkan militer dan pangkalan udara untuk melakukan misi menghentikan pemberontakan, dan ini memaksa rezim Assad kehilangan wilayah yang signifikan dalam memprioritaskan operasi militer yang besar karena sumber daya yang dimiliki rezim juga terbatas. Dengan cara ini, rezim Nushairiyah telah kehilangan seluruh pedesaan ke tangan kelompok mujahidin dan pejuang dan saat ini mereka sedang mati-matian mempertahankan jalur suplai logistik yang mulai rentan di utara daerah itu. Sampai saat ini, pasukan rezim telah menarik diri dan bercokol menumpuk pertahanan di sepanjang garis pantai dan ibukota, Damaskus, yang secara keseluruhan akan menjadi akhir dari permainan.

Posisi masyarakat internasional terus berubah-ubah berdasarkan perkembangan perubahan di medan perang. Dukungan awal kelompok Barat yang dipelopori oleh AS dan Inggris adalah untuk Bashar Assad yang masih sejalan dengan kepentingan Barat, karena ia adalah seorang ‘reformis’. Hal ini pada akhirnya, memberi jalan untuk pembentukan sekelompok orang buangan sekuler dalam bentuk Dewan Nasional Suriah (SNC) . Kegagalan mereka untuk mendapatkan pengaruh di lapangan yang dipimpin Hillary Clinton mengumumkan pembentukan kelompok baru loyalis Barat dalam bentuk Koalisi Nasional Suriah. Ketika para mujahidin dan rakyat Suriah yang ingin menegakkan syariat Islam telah menguasai sebagian besar wilayah Aleppo, hal ini mencemaskan Barat dan mereka berkoar-koar di media ingin memperkuat kubu sekuler dan nasionalis dengan cara mempersenjatai sekelompok unit di Suriah dalam rangka untuk mengarahkan ganjalan dan melemahkan kelompok yang getol menyuarakan syariat islam. Namun, hal ini masih belum dapat diklarifikasi kebenarannya.

The New York Times melaporkan, “Distribusi senjata disalurkan kepada kelompok-kelompok bersenjata yang dipandang sebagai nasionalis dan sekuler, dan tampaknya hal ini dimaksudkan untuk memotong kelompok jihad yang reputasi dan perannya dalam perang Suriah telah menimbulkan ketakutan bagi Barat dan kekuatan regional”. Posisi Barat saat ini telah dirumuskan oleh Menteri luar negeri Inggris, William Hague, dalam pidato kepada parlemen: “Kami semakin khawatir adanya niat dari rezim untuk menggunakan senjata kimia. Kami telah memperingatkan rezim Assad bahwa penggunaan senjata kimia akan menyebabkan respon yang serius dari masyarakat internasional”. Sampai saat itu (adanya penggunaan senjata kimia, red) Bashar Assad masih bebas untuk melakukan apapun demi mengakhiri pemberontakan selama masih diperlukan.

Reputasi Kelompok Jihad

Setelah jihad dan perjuangan rakyat Suriah berjalan selama 2 tahun, pasukan mujahidin telah mampu menguasai daerah yang luas di utara dan timur negara itu dan untuk mengatur serangan berkelanjutan yang akan diarahkan ke Damaskus. Jalan lingkar utama di sekitar Damaskus telah pindah beberapa kali bergantian antara kelompok pejuang mujahidin dan pasukan rezim pada tahun 2013. Skenario Assad yang terakhir didominasi oleh Washington dan London, yang sekarang berusaha mempersenjatai unit sekuler terpilih untuk memastikan mereka muncul sebagai pemenang setelah jatuhnya rezim Bashar Assad. Apa yang mengkhawatirkan mereka adalah keberhasilan kelompok mujahidin yang bukan hanya mampu menguasai wilayah, tetapi melaksanakan pemerintahan. Salah satu alasan Jabhah Nusrah menjadi unit pejuang yang paling sukses adalah kemampuannya untuk mengendalikan dan mengamankan jalur pasokan untuk menyediakan barang dan jasa kebutuhan pokok di wilayah yang berada di bawah kendalinya. Mujahidin Jabhah Nusrah telah berhasil mengamankan infrastruktur negara yang vital seperti bendungan hidroelektrik, pabrik gandum dan ladang minyak.

Seperti yang kita lihat, memasuki babak akhir revolusi Suriah sejauh ini telah berjalan dengan baik. Bashar Assad telah kehilangan banyak wilayah, dan satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah di mana ia berencana mengakhiri posisi pendiriannya. Pertanyaan yang paling penting bagi rakyat Suriah terutama para pejuang dan mujahidin berkaitan dengan bentuk negara masa depan mereka; Apakah akan menjadi Islamis atau Sekuler;  Bagaimana dengan integritas keutuhan wilayah Suriah, Akankah Alawi dan Kurdi dapat memiliki daerah kantong independen bagi kelompok mereka sendiri; dan yang paling penting adalah independensi/kemandirian yang sebenarnya bagi Suriah, Apakah Suriah akan mampu melepaskan diri dari pengaruh asing dalam semua aspek politik, ekonomi dan militer. Pengorbanan yang dilakukan dalam revolusi ini sangat besar, dan taruhannya tinggi bagi rakyat Suriah dan seluruh wilayah dan dengan demikian rakyat Suriah harus menuai buah yang baik dari revolusi. [Fajar Shadiq/an-najah]