Refleksi Revolusi Bagi Gerakan Islam

Gerakan Islam
Gerakan Islam

An-Najah.net – Dalam sejarah dunia, tercatat beberapa peristiwa revolusi yang bisa dikatakan sukses. Di dunia Islam ada revolusi Thalut dan Bani Israel melawan kediktatoran Jaluth.

Ada revolusi Marwan al-Himar yang melengserkan Ibrahim bin al-Walid bin Abdul Malik -Khalifah ke-13 Bani Umayyah-. Ada revolusi Bani Abbasiyah yang sukses menumbangkan Daulah Bani Umayyah pada tahun 133 H/ 750 M.

Revolusi Islam yang bisa dikatakan semi sukses adalah revolusi Ibnu ‘Asy’ Ats. Ia berhasil menggalang kekuatan umat dan mendapatkan dukungan ulama-ulama ahlu sunnah.

Sayangnya, ia tidak berhasil menumbangkan rezim Bani Umayah, (DR. Al-Mathiri, Tairidu Thughoth, hlm.593-595 & DR. AI-‘Isy, Sejarah Daulah Bani Umayyah, hlm. 266-272).

Di nusantara ada revolusi umat Islam melawan Belanda dan Bupati antek Belanda. Walau Belanda berhasil diusir, saat Kemerdekaan diraih, syari’at Islam yang menjadi spirit revolusi itu dihalang-halangi oleh penguasa sekuler.

Akhir-akhir ini justru syari’at Islam diposisikan sebagai musuh ideologi bangsa. Naif sekali!

Di luar Islam ada revolusi Perancis, ada revolusi China ada juga revolusi komunis, dan terbilang sukses adalah revolusi Syi’ah di Iran oleh Ayatullah Khumaini.

Ada beberapa sisi kesamaan pada revolusirevolusi di atas, yaitu; memiliki isu strategis (jargon) yang diangkat misalnya kedzaliman penguasa, memiliki basis massa yang kuat, dan ada legitimasi baik legitimasi sosial maupun agama.

Kekuatan Jargon

Mungkin dalam hal ini Bani Abbasiyah adalah salah satu revolusi yang bisa memainkan jargon (isu). Di awal-awal propagandanya Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, yang dianggap sebagai pioner Daulah Abbasiyah, mengangkat isu kedzaliman Bani Umayah kepada sebagian besar umat Islam, terutama ahlu bait.

Isu lain yang tidak kalah mujarabnya adalah Bani Umayyah sangat membedakan status antara orang arab dan non Arab, Arab lebih diunggulkan dibanding yang lainnya. Pun Bani Umayyah sangat membebani para budak untuk membayar pajak.

Propaganda Muhammad bin Ali ini mendapat sambutan baik dari beberapa kelompok yang dimusuhi oleh Bani Umayyah, seperti; Bani Mahlab dari Yaman, para budak yang selalu ditindas oleh Bani Umayah, dan Kaum Syi’ah.

Gerakan revolusi ini dimulai setahun setelah kematian Khalifah Umar bin Abdul Aziz (103 H). Pasalnya, setelah Umar, akhlak para khalifah sangat bejat dan keji.

Sepertinya, isu kuat yang melahirkan revolusi Arab, baik di Tunisia, Mesir, Libiya hatta Indonesia sekarang adalah ketidakadilan, rakyat diperbudak untuk melayani kepentingan penguasa maupun kepentingan Barat sebagai tuan para penguasa.

Isu-isu di atas nampaknya lebih dominan dari pada isu penegakkan syari’at Islam Jika melihat arahan Syaikh Abu Mus’ab As-Suri, grand master jihad kontemporer, gerakan Islam tidak salah jika menjadikan isu-isu di atas sebagai miftahus sorro’, pemicu perlawanan terhadap penguasa thagut.

Karena mayoritas umat Islam, masih alergi dengan istilah jihad, syari’at Islam atau negara Islam, maka sangat susah untuk membangkar emosi revolusi mereka dengan jargon-jargon tersebut.

Kekuatan Jaringan Ummat

Sambutan dari berbagai kabilah dan kelompok untuk revolusi Bani Abbasiyah membuahkan hasil, dibuktikan dengan terbentukan kekuatan yang sangat besar.

Munculnya kekuatan revolusi, selain karena kecerdasan Muhammad bin Ali dan putranya lbrahim bin Muhammad memainkan jargon propaganda, juga karena keluwesan mereka dan kader Bani Abbasiyah bergaul, infiltran ke dalam tubuh kelompok musuh-musuh Bani Umayah, lalu membangun kekuatan bersama mereka.

Jalan lain yang ditempuh oleh pioner revolusi Bani Abbasiyah dalam pembentukan kekuatan pendobrak rezim Bani Umayyah adalah mencari tempat-tempat yang menjadi basis pergolakan dan perlawanan terhadap Bani Umayyah, jauh dari kendali militer Bani Umayyah.

Peta kelemahan Bani Abbasiyah terdapat sekitar Yaman, Hijaz, Kufah dan Khurasan. Daerah-daerah inilah yang ‘dibina’ oleh Bani Abbasiyah. Di daerah-daerah inilah kekuatan revolusi disusun dan dari sinilah kekuatan itu bermula.

Revolusi islam modern sedikit -banyak telah menerapkan strategi ini. Di Libiya, Yaman dan irak, para oposisi yang tergabung dalam revolusi di negara-negara ini telah mengambil daerah-daerah atau menguasai suku-suku yang tidak diperhatikan oleh pemerintah pusat.

Terbukti di Yaman, kaum revolusionis berhasil mendapatkan dukungan dari berbagai suku bahkan sempat mendeklarasikan pemerintahan islam.

Jika saja para demonstran islam yang menuntut revolusi di beberapa tempat di dunia disuntikkan spirit jihad dan mati syahid, bahwa revolusi untuk membela darah, kehormatan dan tindakan kedzaliman adalah syahid. Tentu power revolusi itu kian berlipat, melibas kekuatan thagut yang Zindiq.

”Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena membela darahnya maka ia syahid. Barangsiapa yang terbunuh membela dien (agamanya) maka ia syahid. Dan barangsiapa yang terbunuh karena membela

keluarganya maka ia syahid.” (H R. Ahmad, AnNasa’, Abu Dawud -shahih-)

Garda Pengawal Revolusi

Meskipun revolusi dan para revolusioner mampu menggerakan umat dengan baik. Namun mereka kesulitan memenej potensi umat yang begitu banyak ini dengan baik, walaupun sesudah revolusi.

Keikutsertaan umat dalam revolui bukan dilandasi kesadaran memperjuangkan syariat islam, menumbangkan musuh-musuh Islam. Tidak. Namun, rata-rata berangkat dari emosi yang meledak atas kedzaliman para diktator.

Biasanya, perlawanan atas dasar emosi hanya berlangsung sesaat, dan tidak memtiriu arah yang jelas. Sehingga sangat tidak mungkin mereka dilibatkan dalam penegakkan syariat’ islam secara kafah dalam arti system atau negara.

Oleh karena itu, mempersiapkan garda pengawal revolusi adalah tugas yang sangat urgen bagi pergerakan islam. Sehingga cita-cita revolusi yang dikehendaki betul-betul terwujud.

Berkaca pada sejarah, Rasulullah SAW telah menyiapkan pasukan inti yang beliau bina di Darul Arqam bin Abil Arqom di Makkah, mereka inilah garda dan tiang penyangga revolusi Islam di Jazerah Arab, yang berakhir dengan berdirinya Daulah islamiyah Madinah.

Pun, revolusi Bani Abbasiyah, telah disiapkan jauh-jauh hari; pasukan pengawalnya, kadernya bahkan tenaga yang siap menempati kursi di pemerintahan nantinya. Persiapan ini cukup panjang, sejak tahun 103 H hingga 132 H.

Bahkan kesuksesan revolusi Syi’ah di iran tidak lepas dari peran pasukan garda revolusi yang jauh-jauh hari sudah disiapkan dengan matang.

Ringkasnya, sebuah revolusi yang sukses muthlak membutuhkan tiga macam kekuatan; kekuatan akidah yang direfleksikan pada kekuatan jargon, kekuatan Ukhuwah islamiyah yang direfleksikan dengan kekuatan jaringan dan basis massa, serta kekuatan ‘Askariyah yang direfleksikan dalam pembentukan kader-kader mujahid pengawal revolusi.

Penyair Pakistan, Muhammad iqbal pemah menuturkan,

الشريعة بلا قوة فلسفة محضة

”Syari’ah tanpa kekuatan hanya filosofis belaka.” Wallahu A’lam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 80 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akrom Syahid

Editor : Helmi Alfian