Rektor UMS: Seminar Internasional Diintruksikan Batal

Rektor UMS, Bambang Setiaji
Rektor UMS, Bambang Setiaji

SOLO (an-najah) – Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof.Bambang Setiaji mengatakan kegiatan seminar internasional bertajuk “Konstelasi Politik Timur Tengah” ini tidak jadi diselenggarakan terkait kontroversi diundangnya beberapa Duta besar negara asing yang dianggap berbuat zalim terhadap umat Islam seperti Dubes Suriah dan Dubes Amerika Serikat.

“Instruksi PP Muhammadiyah dibatalkan atau diundur,” katanya singkat seperti dilansir dari kiblat.net, Rabu 921/8/2013).

Bambang juga menerangkan bahwa sebenarnya yang diundang oleh Event Organizer adalah tokoh-tokoh Islam melalui Joko Ekram. Tokoh yang diundang adalah Muhyidin Junaidi Hubungan LN MUI Jakarta, Dr Ruhaini Dzuhayatin, wakil OKI HAM Indonesia DR. Yusdani, DIR Pasca UII, DR M. Supraja, FISIP UGM, DR Hanafi Rais UGM, Irfan S Awwas, MMI, Said Tuhuleley, PP Muhammadiyah.

Selain itu juga undangan kepada MUI, DDII, FUI, FPI, HASI, Persis, PP Muhammadiyah, PB NU, Pimpinan PPP, PAN, PKB, PKS, PBB, MTA Solo. MIUMI Solo, Azzikra. Darut Tauhid.

“Tokoh yang diundang via PUSHAM UII untuk sampaikan jeritan umat, Tetapi Instruksi PP dibatalkan saja,” jelasnya.

Bambang juga mengaku kecewa dengan pengerahan laskar, ia berharap permasalahan dapat diselesaikan dengan cara dialog.

“Dr.Muin mengerahkan laskar, mestinya kan ini ajang diplomasi. Berkumpulnya tokoh umat di UMS sebenarnya lebih penting” tuturnya.

Dikabarkan, sejumlah ratusan umat Islam Solo menggelar aksi mengecam kedatangan Dubes Suriah, Mesir, dan Amerika ke Solo. “Tolak kehadiran Dubes Suriah, Mesir, dan Amerika,” kata para pengunjuk rasa.

Minta Sampaikan Protes Pada Saat Seminar

Menanggapi salah satu pernyataan salah satu dosen UMS, DR.Muinudinillah tentang keharusan bersikap tegas UMS kepada pihak-pihak yang menzalimi umat Islam, diantaranya dubes Suriah dan dubes AS. Bambang menyatakan bahwa UMS hanya memberi kepada tokoh untuk mengutarakan pandangannya terkait persoalan umat.

“UMS hanya beri forum pada tokoh, merekalah yang harus bicara mewakili ummat termasuk DR.Muin, bicaralah kepada mereka melalui Dubes dan media massa. Sampaikan nota protes, tetapi PP (Muhammadiyah) minta acara batal saja tidak ada manfaatnya” pungkasnya.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi DR Muinudinillah menanggapi salah satu pernyataan Bambang, bahwa bukan ia yang mengerahkan laskar.

“Sampaikan ke beliau bahwa itu dari laskar murni, bahkan saya menekankan agar ditahan dulu dan pesan saya agar santun karena sudah tidak bisa dipegang,” ungkapnya kepada kiblat.net, Rabu (21/8/2013).

Sebagaimana diberitakan, Sabtu pagi (24/8) seminar internasional dengan tajuk konstelasi politik timur tengah akan berlangsung di UMS. Berbagai duta besar dari berbagai negara diundang dalam acara ini di antaranya Duta Besar Suriah, Mesir, Amerika Serikat, tak ketinggalan Presidium MER-C juga didapuk menjadi pembicara.

Acara tersebut mengundang protes sejumlah pihak salah satunya dari dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) DR. Muinudinillah Bisri mempertanyakan sikap kampusnya yang memberikan ruang bagi Dubes Suriah, Mesir, dan Amerika dalam acara Seminar Internasional, Sabtu (24/8) nanti. Di tengah pembantaian yang dilakukan pemerintah Mesir, Suriah, dan Amerika kepada umat Islam, UMS harus punya sikap tegas terhadap kezaliman ini.

Menurutnya baik secara syariat dan politik hal ini jelas bertentangan. Dalam Islam, ada konsep Al Wala wal Baro’. Umat Islam dituntut membela rakyat Suriah dan Mesir yang menjadi korban kebijakan zalim penguasanya. Bukan justru mengundang para Dubes Mesir, Suriah, dan Amerika untuk mengemukakan pendapatnya kepada audiens.“Siapapun yang memegang microfon akan sangat mempengaruhi audiens,” tegasnya seperti dikutip dari islampos.com.

Alasan digelarnya seminar internasional sebagai bentuk forum ilmiah, juga tidak lepas dari kritikan Alumni Universitas Islam Madinah ini.

“Forum ilmiah kan harus didudukkan secara Islam, semuanya harus mengikuti aturan Islam,” pungkasnya. (Qt/kiblat.net/an-najah)