Renungan An-najah, Tiga Virus Takfir

Ilustrasi Fitnah Takfir
Ilustrasi Fitnah Takfir
Ilustrasi Fitnah Takfir

An-najah.net – Mengapa hari ini memastikan kekafiran orang lain menjadi begitu penting bagi sebagian orang? Pertanyaan itu kerap menggelitik pikiran melihat fenomena takfir, seringkali asal-asalan dan dilakukan oleh oknum yang tak punya kompetensi ilmiah, yang semakin merebak bak cendawan di musim hujan.

Ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, virus itu menumpang semangat mengobarkan jihad. Bukankah api jihad akan lebih mudah dinyalakan jika furqon atau garis batas antara mukmin dan kafir telah jelas? Sementara di banyak negeri kaum muslim, utamanya di Indonesia, batas itu kabur dan samar.

Namun beratnya jihad sebagai puncak ketinggian amal Islam memang di situ. Bukankah Rasulullah SAW menghabiskan 13 tahun untuk menggariskan furqon itu dengan dakwah di Makkah? Berjihad tetapi maunya serba instan tak akan membuahkan kemenangan paripurna.

Kemungkinan kedua, merajalelanya takfir serampangan memang efek dari sikap mengilmui secara dangkal dien ini. Sebuah virus yang sudah muncul bibitnya pada era Rasulullah SAW, saat Dzul Khuwaisirah menggugat pembagian ghanimah dan menuduh Rasulullah SAW tidak adil.

Padahal siapa lagi yang lebih adil dari beliau di antara seluruh manusia? Beliau mengingatkan di belakang oknum kurang ajar itu akan muncul generasi yang sejenis. Itulah kaum Khawarij yang muncul ribuan orang pada masa konflik antara Ali dan Muawiyah RA.

Dangkal ilmu, sesat pikir dan ngawur tindakan adalah ciri khas Khawarij. Terutama dalam merendahkan Rasulullah SAW dan para pewaris beliau, ulama yang ikhlas.

Meminjam teori Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, sejarah akan selalu berulang jika faktor-faktor yang sama muncul di era yang berbeda. Maka sepanjang kedangkalan, kesesatan dan kengawuran menjadi panglima, Khawarij pun kembali menjelma.

Kemungkinan ketiga presedennya lebih belakangan. Yaitu disebarkannya virus takfir serampangan oleh intelijen lawan untuk mengacaukan barisan mujahidin dan memburukkan citra jihad di mata umat. Mesir tercatat dalam sejarah sebagai laboratorium proyek takfir serampangan yang dikelola rejim thaghut pada era 1960-1970-an. Hasilnya brilian, gerakan jihad yang tumbuh subur di sana tak pernah berhasil mengobarkan perlawanan besar, bahkan gagal meraih simpati penduduknya yang Muslim.

Ketiga kemungkinan itu juga bisa berpadu menjadi gado-gado takfir sembarangan pada era sekarang. Maka tak heran, di barisan itu bisa nampak ulama yang tertipu, aktifis yang tak sabaran sekaligus kutu busuk intelijen thaghut. Mereka bersatu dalam barisan berpenyakit sama, meski virus penyebabnya berbeda. Semoga kita terlindung darinya.(Anwar/dikutip majalah an-najah rubrik renungan edisi 118)