Resensi buku, Pelajaran Getir dari Jihad Aljazair

Balada Jihad Al Jazair

Judul               : Balada Jihad Aljazair (Menguak inftiltrasi intelijen & paham takfiri dalam gerakan jihad)

Penulis            : Syaikh Abu Mush’ab As-Suri

Alih Bahasa    : Darwo Maryono, Agus Wadi

Halaman         : 320

Penerbit          : Jazera (email: [email protected], telp: 0271-765 3000)

 

An-Najah.net – Mengkaji upaya menegakkan Islam di abad ke-20 sungguh menarik. Di mana pada periode itu umat Islam bereksperimen dengan berbagai macam cara. Ada yang menempuh jalur dakwah, jihad, hingga jalan demokrasi. Ada pula yang mengkombinasikan metode-metode tersebut. Salah satu contohnya yaitu Aljazair yang memberikan pelajaran getir.

Abu Mushab As-Suri, mencoba mengurai benang konflik Aljazair. Termasuk infiltrasi dan peran intelijen militer dalam pembantaian warga muslim dengan berkedok mujahidin.

Baca Juga (Jebakan Takfiri dan Infiltrasi Intelijen ke dalam jihad Al Jazair)

Aljazair merupakan negara bekas jajahan Perancis. Pihak kolonial memang sudah angkat kaki dari tanah air, tapi mereka meninggalkan pihak nasionalis dan militer yang pro penjajah. Kubu ini membentuk partai politik Jabhah Tahrir Al-Wathani (FLN) dan selalu mendominasi perpolitikan. Karena itu, meski 98% warga Aljazair muslim, hukum dan undang-undang yang berlaku adalah hukum Perancis.

Umat Islam menemukan momentum bangkit ketika presiden Houari Boumediene tepengaruh semangat Pan-Arabisme. Dia melakukan proyek arabisasi di negaranya. Termasuk mendatangkan pengajar dan dosen dari Mesir, Suriah dan negara Arab lain. Lewat kaum intelektual dari luar negeri itu, gerakan ikhwan muslimin mulai masuk ke Aljazair. Para pelajar yang aktif di masjid dan kajian lalu membentuk gerakan bernama Jamaah Thalabah.

Suasana semakin mendukung setelah pemerintah memperbolehkan aktivis Islam membuat partai dan mengikuti pemilu. Kemudian Syaikh Abbasi Madani dan Syaikh Ali Balhaj, aktivis pejuang kemerdekaan melawan Perancis dan dai membuat tersebut berinisiatif membuat wadah yang bisa menyatukan seluruh elemen umat pada 18 Februari 1989. Lembaga itu berupa partai bernama Front Islamic du Salut (FIS).

Meski baru muncul, FIS berhasil mengantongi 54 % suara pada pemilu tingkat daerah. Jumlah itu hampir dua kali lipat dari suara yang didulang FLN. Bermodal kemenangan ini, FIS menguasai separuh dari 48 provinsi di Aljazair. Hal itu diikuti dengan pemberlakuan undang-undang daerah yang mewajibkan wanita memakai cadar, pemisahan laki-laki dan wanita di kamar mandi umum dan menutup toko yang menjual miras. Yang lebih penting lagi, memulai menghapus bahasa Perancis dan budaya Perancis dari Aljazair.

Akhirnya pihak militer melakukan kudeta dan menganulir hasil pemilu. Pada 30 juni 1991, dua petinggi FIS ditangkap dan diikuti penangkapan jajaran pemimpin di bawahnya. Abu Mushab mencatat ada sekitar 50.000 aktivis muslim partai dipenjara di tengah gurun sahara. Aktivis yang masih tersisa akhirnya melakukan perlawanan bersenjata. Namun, perjuangan mereka tidak mudah. Apalagi setelah intelijen menyusup ke barisan aktivis.

Setelah infiltrasi itu, gerakan perlawanan GIA mulai melenceng.  Paham takfir menjadi dominan. Faksi GIA yang baru mulai menyerang warga sipil yang memiliki hubungan dengan aparat militer. Termasuk istri dan anak-anak aparatur negara, dengan dalih mereka tidak mengkafirkan, suami atau ayah mereka yang diklaim kafir. Karena tidak mengkafirkan, otomatis menjadi kafir.

Konflik Aljazair memberi pelajaran bahwa musuh-musuh Islam terus membuat makar untuk memadamkan agama ini. Fakta-fakta tersebut harus ditulis oleh pelaku sejarah sebagai bahan pelajaran bagi generasi penerus jihad. Agar pelajaran getir dari Aljazair tidak terulang lagi.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 117 Rubrik Resensi

Editor : Abu Khalid