Revolusi Islam Dalam Lintas Sejarah

Revolusi Islam

An-Najah.net – Dalam tarikh Islam, revolusi merupakan peristiwa sejarah yang selalu menghiasi lembaran-lembaran kitab tarikh Islam.

jika revolusi yang dimaksud adalah sebuah perubahan sejarah maka sejak awal munculnya, Rasulullah SAW telah melakukan revolusi. Yaitu, revolusi sistem berpikir dan sistem hidup masyarakat pada masa itu, dari jahiliyah menjadi islamiyah.

Maka jika ada statemen, bahwa Islam tidak mengenal revolusi, jelas sekali ungkapan ini tidak berdasar pada fakta, jika tidak bisa disebut gegabah.

DR. Hakim al-Muthiri, murid syaikh Bin Baz, menukil sejarah revolusi Islam dari Tarikh Umam wal Muluk, karya Imam AthThobari.

Beliau mengisahkan, revolusi dalam sejarah daulah Islam bisa dikatakan sejak Gerakan Husain bin Ali dan penduduk Irak melawan Bani Umayah, kemudian Gerakan Abdullah bin Zubaer di Mekkah melawan Yazid, Gerakan Ibnu Ghasil di Madinah, dan yang paling dahsyat adalah Gerakan para Qurro’lbnu Asy’Ats bersama penduduk Irak melawan aI-Hajjaj bin Yusuf dan Abdul Malik bin Marwan. (Tahrirul Insan wa Tairidu Thughot, hlm. 591)

Ulama Kuwait yang meraih double doktor ini menjelaskan revolusi Ibnu ‘Asy’Ats, ”Gerakan Ibnu Asy’Ats tergolong sukses, ia berhasil menyusun kekuatan revolusi mencampai 100.000 pasukan tempur. Juga mendapat dukungan dari ulama-ulama Ahlu Sunnah pada masa itu.

Diantara ulama yang bersama gerakan Ibnu Asy’Ats adalah Sa’id bin Zubaer, AsySya’bi, Abu Ishaq Assubai’i, Abdurrahman bin Abu Laila, Al-Hasan Al-Bashri, Muslim bin Yasar, Abul Bukhtari dan selain mereka masih banyak.

Ada sekitar 80 kali pertempuran yang terjadi antara Gerakan Ibnu Asy-Ats dengan pasukan khalifah Bani Umayah, dan semua pertempuran tersebut dimenangkan oleh pasukan revolusi, kecuali pertempuran terakhir tahun 83 H.

Saat orasi menyemangati pasukan revolusi, para ulama tersebut menegaskan bahwa mereka keluar melakukan revolusi dilegitimasi syar’ie. Sebabnya; kedzaliman dalam peradilan; keangkuhan dan kediktatoran penguasa serta intimidasi terhadap golongan lemah; menjaga Islam dari penyimpangan, khurafat dan kebid’ahan; menjaga kestabilan dunia dari pengrusakan dan keonaran penguasa dzalim.

Adapun beberapa riwayat dari al-Hasan aI-Bashri untuk mentaati penguasa, bahkan menganggap aI-Hajjaj sebagai hukuman bagi umat Islam atas kedzalimannya, tidak boleh melawannya dengan pedang, ini terjadi setelah kekalahan pasukan revolusi.

Imam Asy-Syafi’i mengomentari sikap para ulama setelah kekalahan pasukan revolusi, “Irja’ -pikiran murji’ahpopular dan laris setelah kekalahan pasukan qurro’ -revolusi.-‘ Imam Qotadah berpendapat sama dengan Imam Asy-Syafi’i.

Nampaknya kekalahan pasukan revolusi melemahkan para revolusioner dan selain mereka secara psikologi dan pemikiran. Menciutkan nyali perjuangan mereka.

Terbukti, beberapa eks pasukan revolusi sering bercengkrama dengan al-Hajjaj, bergabung dengan aI-Hajjaj. Yang parah, karena kuatnya efek psikologi ini, daerah-daerah yang menjadi basis pergerakan revolusi, menjadi tempat tumbuh suburnya tasawwuf dan tarekat. Seperti daerah Bashroh dan Kufah. (Tahrir Insan, hlm. 594)

Sejarah terulang, di Indonesia harihari ini mulai digelorakan acara-acara tasawuf dan tarekat. Terutama di basis-basis ‘militan’, seperti kota Solo. Konon, peserta selain dihidangkan acara bid’ah dan kajian penyesatan, saat pulang mereka disangoni uang puluhan ribu rupiah.

Sejarawan dari Syam, DR. Yusuf al-‘|sy, menyebutkan bahwa naiknya Bani Abbasiyah menjadi khilafah dengan revolusi menggulingkan pemerintahan Bani Umayyah yang korup. (Dinasti Umawiyah, hlm. 388-412)

Revolusi Islam Menghajatkan Pengorbanan

Revolusi Islam sangat menghajatkan pengorbanan -bukan bunuh dirisemakin banyaktenaga, kesungguhan dan pengorbanan lainnya di jalan revolusi, maka semakin banyak pula kesempatan bagi revolusioner untuk menang. Inilah kaedah agung dalam revolusi. Inilah tabi’at perjuangan Islam; yaitu dakwah dan jihad.

Allah SWT berfirman,

Artinya, ”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali Imron: 142)

“Bergabung dengan kelompok revolusi menghajatkan totalitas. Karena pengorbanan dalam revolusi Islam bukan sekedar pengorbaban waktu namun juga pengorbanan harta, jiwa dan raga.” (QS, At-Taubah: 111)

Lembaran sejarah revolusi, apalagi revolusi Islam dipenuhi kisah pengorbanan para pejuangnya. Sebagai contoh revolusi yang diadakan oleh Rasulullah SAW untuk merubah sistem yang berlaku di Arab mengharuskan beliau untuk hijrah diusir dari negeri tercintanya, Makkah al-Mukarramah.

Revolusi kaum sekuler pun memakan korban yang sangat banyak, seperti revolusi Industri di perancis antara tahun 1789 dan 1799, revolusi Amerika (1 775-1 783), Revolusi Xinhai melawan Dinasti Qing yang berakhir dengan proklamasi pembentukan Republik Cina oleh Sun Yat-sen, dan Revolusi Rumania 1989 yang memakan korban 1 .104, 162 tewas dan sejumlah 3.352, 1.107 korban luka.

Oleh karena itu para ulama harok,_ seperti Syaikh Abdullah Azaam menegaskan “Barangsiapa yang mengatakan bahwa lslam bisa tegak tanpa aliran darah dan pengorbanan harta, sungguh ia tidak memahami tabi’at dakwah Islam ini.”

Walau dalam revolusi ada kewajiban meminimalisir jumlah korban, tetap saja Ia memakan banyak korban. Revolusi Nurudin Zanki meruntuhkan Negara Syi’ah Fathimiyah di Mesir dan revolusi Abdullah bin Zubaer, telah memakan banyak korban. Siapa saja yang tidak siap berkorban untuk sebuah perubahan maka ia tidak akan berubah.

Meskipun ada kegagalan dalam beberapa revolusi Islam. Setidaknya revolusi-revolusi tersebut mengilhami generasi berikutnya; bahwa terkadang jalan revolusi menjadi pilihan tepat ketika kemungkaran sulit diubah dengan lisan, (Ibnu Hazm, al-Fashl 4/171172).

Karena melengserkan penguasa yang juur (dzalim)dengan pedang dibolehkan oleh para ulama, (Muhammad bin Abdul Wahab, jawab Ahli Sunnah, hlm. 70).

Mungkin revolusi Bani Abbasiyah saja yang berhasil dengan baik. Kegagalan revolusi sebagian umat Islam tidak berarti revolusi adalah jalan yang salah. Tidak layak ditempuh.

Gagal Bukan Berarti Haram

Kegagalan Revolusi lbnu ‘Asy’Ats bukan berarti ia salah total dan perbuatannya haram. Toh, banyak ulama ahlu sunnah yang merekomendasikannya.

Pun revolusi melawan Belanda dan penguasa-penguasa tiran dijawa yang dilakukan oleh pangeran Diponegoro mendapat sambutan baik dari para ulama sejawa.

Namun gagal dalam meraih kekuasaan karena kepicikan Jendral De’ Kock, Gubernur Hindia Belanda. (Perang Sabil Vs Perang Salib, hlm. 16)

Banyak sisi yang bisa dikaji dari berhasil atau tidaknya sebuah perjuangan. Bukan semata karena menyelisihi syari’at. Boleh jadi karena fakor lain; misalnya faktor i’dad -persiapan- yang kurang matang, kesalahan strategi atau mungkin belum ditakdirkan oleh Allah.

Untuk faktor satu dan dua bisa dievaluasi dan dikaji, namun persoalan ketiga yang dilakukan adalah ridho terhadap takdir lalu memperdalam muhasabah. Wallahu A’lam

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 80 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akrom Syahid

Editor : Helmi Alfian