Revolusi Mesir

Ahaa… Saya tak menyangka Maidan Tahrir akan menjadi pusat rakyat Mesir meluapkan amarah. Disanalah berbaring mumi-mumi Fir’aun yang 12 jumlahnya. Meski harus merogoh kocek 100 Pound, tapi Museum di Tahrir itu selalu padat adanya. Di tepiannya, sungai Nil membentang. Para penyembah syahwat biasa dinner sambil menyaksikan tarian perut di kapal yang disulap menjadi restoran mengapung. Bagi yang tak biasa, juga disediakan tarian sufi. Ajang syahwat dan syubhat itu tarifnya 100 Pound. Itulah cerita mahasiswa saat kami berjalan-jalan. Bagi saya, untuk bisa menikmati makan malam di atas sungai Nil, cukup dengan 3 Pound di atas perahu-perahu tradisional.

Yaumul Ghadhab. Itulah titel yang dipergunakan rakyat Mesir untuk menurunkan Hosni –ghoiru– Mubarok Januari lalu. Titel itu konon pernah dipakai Mesir untuk melawan Inggris dan Prancis juga di Januari 1952. Perlawanan yang menginspirasi Gamal Abdun Nasr untuk menasionalisasi Terusan Suez masa itu. Tapi Yaumul Ghadhab kali ini jelas berbeda. Inilah hari kemarahan rakyat terhadap rezim tiran agen Amerika dan Israel. Yaumul Gadhab, juga pernah digunakan oleh Dr. Safar Hawali dalam sebuah bukunya, Hari Kemarahan, Akankah dimulai dari Intifadhah Rajab. Mantan dekan Aqidah Universitas Ummul Quro itu, memaparkan ramalan kehancuran Israel justru dari perspektif Taurat dan Injil. Tuhan akan marah saat Israel dalam puncak kejahatannya (rijsah khorob).

Saya lebih senang menghubungkan-hubungkan Yaumul Ghadhab di Mesir dengan indikasi hancurnya Israel. Meski tidak cukup syarat, sekurang-kurangnya berusaha memupuk harapan dan menghibur diri. Karena Israel tak bisa dilepaskan dari Mesir. Mesir begitu strategis bagi Israel. Publik mafhum, selama ini rezim Mesir hidup dari melacur terhadap Amerika-Israel. Mesir menjadi Negara Arab pertama yang menggelar perdamaian dengan Israel di Camp David 1979. Sebuah kenaifan yang membuat Anwar Sadat ‘dihukum mati’ oleh rakyatnya. Saat di Cairo, staf atase politik pernah bercerita kepada saya bahwa Mesir selama ini mendapat gratifikasi dari Amrik $ US 1.5 Milyar/tahun. Masing-masing 1.2 M dalam bentuk bantuan militer dan 300 juta untuk ekonomi. Itu jumlah fulus yang tak sedikit. Maka jangan heran, jika dalam kasus Gaza misalnya, sikap Pemerintah Mesir lebih Israel dari Israel.

Di dalam negeri sendiri, rezim Hosni dikenal sangat otoriter. Seorang kawan yang bekerja di KBRI Cairo pernah bercerita saat mengantarkan saya ke bandara, ‘Antum ingat zaman Suharto? Rezim di sini dua kali lipat lebih otoriter.’ Ini selaras ungkapan yang popular di kalangan mahasiswa bahwa ‘dinding pun bisa berbicara’; sebentuk penggambaran betapa bahwa Mesir adalah Negara intelejen. Mabahits (intel) disebar di setiap sudut gang; menjadi tukang-tukang sapu, bawwab (penjaga flat), bahkan mahasiswa. Mereka merasa perlu memonitor sampai dengus nafas bahkan –maaf- bunyi kentut rakyatnya. Rakyat diteror. Tak heran jika kebencian terhadap rezim Hosni pun begitu mengakar-rumput. Sampai jika jalanan macet, sopir-sopir akan berteriak: ‘Ini gara-gara Hosni’. Korupsi yang merajalela membuat rakyat tak sejahtera, gaji tak cukup, dan pengangguran dimana-mana. Lahirlah bujang-bujang tua yang tak mampu kawin.

Jadi bahan bakar kebencian itu sudah ada. Syarat untuk sebuah revolusi telah siap. Ada Mesir sebagai antek Israel, sikap represif Hosni, dan perut lapar rakyat. Semua menjadi faktor yang saling berkait dan menyempurnakan. Ibarat kompor gas, kompor dan tabung telah tersedia, yang belum ada selama ini hanya ‘pemantik apinya’. Kelompok jihadis biasa menyebutnya sebagai miftah shiroo’ (pemicu konflik). Kata kunci ‘keramat’ ini belakangan banyak disebut para ideolog jihad. Mereka mengevaluasi bahwa aksi gerakan jihadis selama ini lebih sebagai ‘aksi sepihak’ yang tak didukung masyarakat oleh sebab gagal menghadirkan ‘trigger’.

Dan rakyat Mesir telah mendapat ‘miftah perdana’ itu; terinspirasi oleh rakyat Tunisia yang berhasil menggulingkan penguasanya. Kita berharap, negara-negara Arab lain segera menyusul. Karena antek Amerika bukan hanya Mesir tapi juga penguasa Arab lainnya. Yaman bergolak. Yordan demikian juga. Saudi waspada. Hammam Said, tokoh oposisi Yordan bahkan berkata, ‘Revolusi Mesir akan meluas ke seluruh Timur Tengah, dan masyarakat Arab akan menumbangkan para Tiran Arab yang beraliansi dengan Amerika.’

Tiba-tiba saya teringat ‘masterplan Alqaeda’. Wartawan Yordan bernama Fuad Hussain itu beruntung. Ia berhasil membangun korespondensi dengan tokoh-tokoh sekalas Saiful Adl, Al-Maqdisy dan tokoh-tokoh kesohor lainnya. Hasilnya adalah buku ‘Az-Zarqawi, Al-Jail Ats-Tsani..’, Dalam bab akhir ia memaparkan tujuh fase planning Alqaeda. Jika merujuk periodesasi yang ditulis, sekarang masuk fase ke-4 bernama ‘Pemulihan’. Fase ini dimulai pada 2010 hingga 2013. Fokusnya adalah menjatuhkan penguasa-penguasa negeri Arab. Planner Alqaeda meyakini bahwa selingkuh para pemimpin negeri Arab dengan Amerika akan meruntuhkan dukungan rakyat mereka. Dalam kalkulasi Alqaeda, kelemahan penguasa-penguasa Arab, diiringi perkembangan jaringan jihad secara signifikan, ditambah meluasnya wilayah konflik; semua itu akan menyulitkan Amerika untuk membantu sekutunya. Penguasa boneka tanpa bantuan Tuannya akan lemah.

Terlalu dini untuk menghubungkan ‘mesterplan Alqaeda’ dengan ‘pergolakan’ terkini di Timur Tengah. Yang terjadi hari ini adalah perlawanan rakyat versus rezim; bukan partai tertentu atau kelompok tertentu. Belum ada indikasi ‘tangan-tangan’ Alqaeda ikut bermain. Yang ada baru irisan antara ‘masterplan Alqaeda’ dengan ‘kemauan rakyat Arab’. Hal itu tentu kan menjadi titik temu yang unik. Masih banyak PR berat bagi rakyat Mesir menyangkut penguasa pasca Hosni, juga arah perubahan yang secara kasat mata masih dalam bingkai nasionalisme. Kandidat yang mulai muncul belumlah ideal. Apalagi jika yang tampil adalah Omar Sulaiman, mantan Ketua Intelejen itu. Jenderal didikan Amerika ini jelas agen utama Israel. Kita berharap ada angin baru di Mesir. Kita berharap Mesir menemukan pemimpin yang mandiri dan tidak mau didikte Amerika. Dan semoga blogade Gaza bisa segera diakhiri, dan Al-Quds bisa direbut kembali. Bambang Sukirno (Director Jazera)