Ringkasan Hukum Jama' Qashar untuk Musafir

qashar(an-najah.net) – Seringkali dalam bepergian, seorang muslim hal-hal yang terkait dengan syar’ie dan membutuhkan penjelasan. Berikut fikh praktis terkait jama-qashr dalam safar. Agar memudahkan pemahaman, kami buat dalam bentuk Tanya jawab.

Pertanyaan: Saya mita penjelasan terkait shalat jama’ dan qashr saat safar. Beberapa hari lagi saya sekeluarga berangkat mengunjungi keluargaku. Nanti di sana kami akan tinggal beberapa hari, mungkin sekitar seminggu. Selain itu saya infokan, kami punya sebuah rumah di sana. Apakah niat untuk tinggal beberapa hari ini menjadikan status kami muqim bukan musafir? Saya ucapkan terima kasih atas penjelasannya.

Jawabannya: Ringkasnya begini: untuk mengqashar shalat harus memenuhi beberapa syarat berikut; (1) jarak perjalanan adalah jarak safar yang diperbolehkan qashar, yaitu 83 Km, -menurut pendapat yang rojih-. (2) Safar yang diadakan adalah safar yang masyru’, dalam hal-hal yang dibenarkan oleh syariat. Bukan dalam rangka kemaksiatan kepada Allah swt.

Seorang musafir yang telah memenuhi syarat di atas, ia diperbolehkan mengqasharnya hingga kembali ke kampung halamannya. Qashar musafir tidak berlaku jika: (1) ia menginap di tempat istrinya yang sah dan ia masih berstatus sebagai  suaminya, (2) ia telah meniatkan untuk tinggal di daerah yang dituju selama empat hari atau lebih.

Kebolehan qashar shalat saat safar dimulai sejak ia meninggalkan kampung halamannya. Jika ia belum meninggalkan kampung halamannya, maka ia tidak boleh melakukan qashar, walau ia sudah meniatkan berangkat. Namun, jika dikhawatirkan waktu shalat terlewatkan sebelum ia sampai ke tempat tujuan, maka ia hanya diperbolehkan melakukan jama’.

Adapun jama’ bagi musafir, baik jama’ dzuhur-ashar atau Isya-Maghrib, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama; apakah jama’ bagi musafir hanya bagi mereka yang melakukan safar yang berat dan susah? Atau juga berlaku bagi semua musafir, asalkan memenuhi syarat di atas, walau safarnya terbilang nyaman dan aman?.

Pendapat yang rojih, seorang musafir –yang memenuhi syarat di atas- boleh melakukan jama’ apapun keadaannya; baik safarnya berat ataupun safarnya gampang/nyaman, baik ia di tengah perjalanan atau saat menginap di sebuah tempat dalam safarnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal RA;

خرجنا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ تَبُوكَ، فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ حتى إذا كان يوماً أخر الصَّلَاةَ ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا، ثُمَّ دَخَلَ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا.

 “Pada perang Tabuk, Rasulullah saw berangkat bersama kami menuju Tabuk. Saat itu Rasulullah saw menjama’ shalat dzuhur dengan ‘ashar dan maghrib dengan isya’. Pada hari lain, beliau mengakhirkan shalat, kemudian beliau keluar (dari tendanya) melaksanakan shalat dzuhur dan ‘ashar bersamaan –dijama’-. Kemudian keluar lagi (dari tendanya) melaksanakan shalat maghrib dan isya’ dengan menjama’ keduanya.” (HR. Muslim)

Hadits di atas menjelaskan bahwa Rasulullah saw pernah menjama’ shalat saat menginap di tendanya dalam sebuah perjalanan.

Kesimpulannya, jika penanya meniatkan tinggal di tempat tujuan safarnya empat hari atau lebih maka ia tidak boleh mengqashar dan menjama’ shalat, karena statusnya sebagai musafir telah hilang dengan niatannya tadi. .* (Mas’ud Izzul Mujahid –dari islamweb.net, islamq.info dan berbagai sumber lainnya-)