Browse By

Rohingya dan Ghazwatul Hindi

Rohingya, Bangsa Muslim yang Terlantar

Rohingya, Bangsa Muslim yang Terlantar

An-Najah.net – Tragedi pembantaian (genosida) dan pengusiran yang menimpa bangsa Muslim Rohingya di Myanmar mengguncang dunia. Selain menimbulkan keprihatinan, muncul juga banyak pertanyaan.

Apakah itu murni politik dan ekonomi? Atau ada sentuhan ideologi dan kepercayaan? Hanya riset mendalam yang bisa menjawabnya. Namun dari perspektif Islam, benturan dan peperangan dengan kaum yang disebut Al-Hind memang telah disebutkan dalam nubuwah Rasulullah SAW.

“Ada dua kelompok dari umatku di mana Allah akan menyelamatkan mereka dari api neraka. Kelompok yang memerangi Hindu dan kelompok yang berperang bersama Nabi Isa ‘Alaihissalam.” (HR. An-Nasa`i dalam Sunannya, no. 3175, dan Ahmad dalam Al-Musnadnya, 81/37 dari Tsauban Maula Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)

Hadits ini telah dinyatakan shahih oleh para ulama hadits. Di antara mereka yang menyatakan keshahihan hadits ini adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitabnya As-Silsilah Ash-Shahihah, hadits nomor 1934. Dalam Majma’uz Zawaid disebutkan bahwa para perawi hadits ini adalah tsiqaat.

Selama ini para ulama memaknai Al-Hind sebagai Hindu atau India. Namun benarkah demikian? Perubahan zaman dan konstelasi demografi agaknya membuat perujukan Al-Hind pada Hindu dan India menjadi terlalu sempit dan kurang relevan.

Hal ini serupa dengan definisi Ar-Rum. Makna Ar-Rum menurut para ulama hari adalah bangsa-bangsa Barat yang mewarisi agama dan tradisi sosial budaya Romawi. Maka Amerika Serikat dan bangsa-bangsa Eropa dianggap sebagai Ar-Rum masa kini.

Perluasan dan pemaknaan baru yang serupa agaknya juga relevan untuk istilah Al-Hind. Ia bisa dipahami sebagai sistem keyakinan syirik yang berkembang dari India namun tersebar ke Selatan dari India sampai ke Srilanka. Ke Tenggara sampai Indonesia, ke timur sampai ke Jepang.

Rohingya dan Budha

Tetapi bagaimana dengan Budha Thailand yang menindas Muslim Patani dan Budha Myanmar yang menindas Muslim Rohingya?  Hinduisme and Budhisme memiliki asal yang sama dalam budaya Gangga di India Utara pada masa “urbanisasi kedua” sekitar tahun 500 Sebelum Masehi (SM). Keduanya memiliki keyakinan paralel yang mirip, hidup berdampingan bersama, namun juga memiliki perbedaan.

Budhisme meraih posisi penting di anak benua India karena dianut kalangan bangsawan. Namun posisi itu meredup setelah era Gupta dan menghilang dari India pada Tahun 11 Masehi, kecuali di beberapa kantong saja. Namun Budhisme terus berkembang di luar India dan menjadi salah satu agama utama di beberapa negeri Asia.

Dalam istilah-istilah dasar, Hindu dan Budha memiliki banyak kesamaan. Misalnya, dalam Samaññaphala Sutta, Budha digambarkan menyampaikan “tiga pengetahuan” (tevijja) – sebuah istilah yang juga dipakai dalam tradisi Veda Hindu. Bedanya tiga pengetahuan itu bukan teks melainkan pengalaman yang dialami Budha pada malam pencerahannya.

Budha dan Hindu juga memiliki konsep yang sama dalam persoalan Karma yang dimaknai sebagai tindakan dan hasilnya, karma-phala misalnya dimaknai “buah perbuatan.” Bedanya, dalam ajaran Budha karma adalah akibat langsung dari pikiran, perkataan dan perbuatan manusia. Sementara dalam konsep Veda pra-Budha, karma lebih dimaknai sebagai akibat yang dialami kalau manusia tidak menjalankan ritual agamanya dengan benar.

Dharma, istilah ini juga dipakai dalam kedua ajaran agama. Bermakna hukum alam, kenyataan ataupun kewajiban. Dharma bisa diartikan kewajiban agama namun juga bermakna tertib sosial, perilaku yang baik atau tata nilai.

Budha sebagai istilah juga ada dalam sumber Hindu sebelum kelahiran Sidharta Gautama Sang Budha. Di dalam Vayu Purana, ada kisah bagaimana Daksha menyebut Dewa Siwa sebagai Budha.

Tak hanya istilah, Hindu dan Budha juga memiliki kemiripan dalam simbol-simbolnya. Misalnya Mudra, simbol dengan posisi tangan yang mengekspresikan perasaan. Sang Budha sendiri selalu digambarkan tangannya melakukan Mudra.

Juga ada simbol Dharma Chakra, lingkaran cakra yang ada di bendera nasional India dan Thailand. Ini adalah simbol Budha yang juga digunakan oleh Hindu. Para pendetanya juga sama-sama menggunakan Rudraksha, biji-bijian yang dirangkai dengan tali. Pengaruhnya ada pada praktek menggunakan biji tasbih di kalangan Muslim Asia.

Keduanya Al-Hindi

Ada juga simbol Tilak. Banyak penganut Hindu menandai kepalanya dengan Tilak yang dianggap sebagai mata ketiga. Tanda yang sama juga dipakai oleh Sang Budha. Juga penggunaan Swastika dan Sauwastika sebagai simbol suci. Baik dengan putaran searah jarum jam ataupun kebalikannya, Swastika dipakai dalam Hindu dan Budha. Sang Budha kadang digambarkan dengan tanda itu di dada atau telapak tangannya.

Lalu ada juga praktek ibadah yang sama di antara Hindu dan Budha. Contohnya Mantra, kata-kata atau syair agama, biasanya dalam bahasa Sanskrit. Utamanya mantra digunakan sebagai ibadah dan media konsentrasinya.

Namun mantra juga dianggap media untuk memohon kekayaan, menghindari bahaya atau melenyapkan musuh. Mantra ada dalam tradisi Veda Hindu, Zoroastrianisme Majusi dan Shamanisme. Namun mantra juga penting dalam Budhisme dan Jainisme sebagaimana agama India lainnya seperti Sikhisme.

Berikutnya Yoga, praktek fisik yang ibadah dan keyakinan Hindu dan Budha. Meski demikian gerakan, aliran dan filosofinya beragam di antara keduanya. Kesamaan lainnya adalah dalam meditasi. Banyak pakar mencatat bahwa konsep dhyana dan samadhi adalah praktek yang umum dilakukan dalam kedua agama.

Meskipun banyak juga perbedaan di antara keduanya, dari perspektif Islam Hindu dan Budha masih bisa dilihat sebagai entitas yang serumpun. Sama-sama dari India, sama-sama syirik dan sama-sama memerangi Muslim di India, Thailand hingga Myanmar.

Jika kesamaan keduanya bisa dipahami, maka tak berlebihan bahwa konflik Patani dan Rohingya adalah titik api jihad baru di dunia Islam yang masuk dalam kategori Ghazwatul Hindi. Sebuah jihad utama yang dikabarkan Rasulullah SAW akan terjadi dan disetarakan keutamaannya dengan memerangi Dajjal bersama nabi Isa ‘alaihissalam. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 143 Rubrik Telisik

Penulis : Ibnu

Editor : Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *