Browse By

Ramadhan, Momen Peningkatan Amal

Ramadhan, momen peningkatan amal

Ramadhan, momen peningkatan amal

An-Najah.net – Ramadhan telah tiba. Bulan suci penuh rahmat dan barokah ini kembali hadir membawa kesempatan untuk beramal dan mendulang pahala. Bulan di mana setan-setan dibelenggu dan pintu rahmat dibuka lebar. Sudah sepatutnya ketika penghalang amal shalih ditiadakan, Ramadhan menjadi memomen untuk meningkatkan amal. Berusaha untuk berubah dari sosok yang sebelumnya lalai menjadi sosok yang lebih baik. Atau melejitkan pribadi yang sudah baik menjadi pribadi yang luar biasa. Berubah dari orang yang individualis menjadi peduli dengan urusan ummat.

Sungguh tepat sebuah ungkapan yang menyebut bahwa Ramadhan adalah momen untuk transformasi. Karena inilah waktu yang tepat untuk introspeksi dan menimbang kualitas diri sendiri dengan standar Al-Qur’an dan Sunnah.

Syaikh Adil Abdul Aziz Al-Mihlawi mengajak kaum muslimin mengikrarkan slogan Ramadhan ghayyarrani atau Ramadhan mengubahku. Beliau menekankan perlunya ada perubahan antara sebelum dan sesudah Ramadhan. Terutama bagi orang yang sebelumnya masih kerap melalaikan ibadah dan kewajiban-kewajiban harian.

Bagi seorang aktivis, momen Ramadhan juga sangat berharga. Inilah waktu yang tepat untuk memupuk ruhiyah sebagai bekal perjuangan. Bahkan kadang Ramadhan menjadi kesempatan untuk rehat sejenak dari kesibukan melayani ummat. Rehat yang dimaksud bukan kegiatan santai, melainkan melazimi kembali ibadah-ibadah rutin yang sebelumnya terkalahkan.

Bagi seorang aktivis, kegiatan sehari-hari yang monoton bisa membuat jenuh. Mulai dari menyiapkan materi ceramah hingga melayani konsultasi umat. Di sisa-sisa waktu tersebut masih harus hadir dari satu rapat ke rapat lain yang membahas kegiatan ummat. Semua aktivitas tersebut begitu menguras pikiran dan waktu hingga membuat ibadah sunnah terlewatkan. Atau melakukannya namun dengan sisa-sisa energi.

Momentum Ramadhan

Inilah yang dilakukan para salaf di bulan Ramadhan. Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya dibanding hari lain. Misalnya Imam Syafi’i yang membagi waktu malamnya menjadi tiga. Sepertiga untuk untuk menulis, sepertiga untuk shalat dan sepertiga sisanya untuk istirahat. Ketika shalat itulah Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an.

Ibnu Umar juga memberi kita teladan dalam beramal shalih. Beliau tidak berbuka kecuali bersama anak yatim atau fakir miskin. Bahkan beliau pernah menolak berbuka karena ada keluarganya mengusir anak yatim. Penghasilan beliau dari berdagang sebenarnya lebih dari cukup untuk hidup mewah. Namun hasil usahanya tersebut beliau salurkan kepada faqir miskin.

Seorang tabiin bernama Ayyub bin Wail Ar-Rasibi mengisahkan kedermawanan putra khalifah Umar tersebut. Ibnu Umar pernah mendapat untung sejumlah empat ribu dirham. Tapi esok harinya beliau terpaksa berhutang untuk sekadar membeli pakan unta. Ayyub tak percaya kejadian itu. Ia pun bertanya kepada keluarga Ibnu Umar tentang apa yang terjadi sebenarnya. Keluarga Ibnu Umar bercerita bahwa uang tersebut telah habis dibagikan kepada faqir miskin.

Tentang keseriusan membaca Al-Qur’an kita bisa belajar kepada Imam Bukhari. Teman-teman beliau kerap berkumpul untuk shalat tarawikh bersama. Imam Bukhari yang menjadi menjadi imam membaca 20 ayat setiap rekaat. Di waktu sepertiga malam terakhir, beliau membaca antara separuh 10 hingga 15 juz. Dengan demikian, setiap hari beliau khatam sekali. Satu hal yang menjadi motivasi beliau adalah di setiap khatam Al-Qur’an ada doa yang mustajab.

Madrasah Ramadhaniyah

Demikianlah bulan Ramadhan mendidik muslim untuk menguatkan tekad serta memupuk kesabaran dalam beribadah. Terutama menjalankan ibadah-ibadah fardhu. Karena ibadah inilah yang mendekatkan muslim dengan Rabbnya. Seperti yang difirmankan Allah dalam hadits qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Tidaklah seorang hamba-ku mendekatkan diri kepadaku dengan suatu amal yang lebih aku cintai dari pada ia melakukan ibadah yang aku wajibkan kepadanya. Ketika hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan amalan sunnah, aku akan mencintainya. Jika aku telah mencintainya. Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Penglihatan yang ia pergunakan untuk melihat dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul dan menjadi kaki yang gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepadaku pasti aku memberinya. Jika ia meminta perlindungan kepadaku niscaya aku berikan perlindungan kepadanya. (HR. Bukhari)

Menurut para ulama, kedekatan manusia dengan Rabbnya akan membuahkan tiga hal:

Pertama, kedekatan di dunia. Yaitu dengan rahmat, kasih sayang, curahan nikmat dan pengabulan doa-doa dengan cepat. Segala urusan hamba dipermudah. Serta diberi keselamatan dari segala gangguan dan kecemasan.

Kedua, di akhirat mendapat ridha Allah dan masuk ke jannah.

Ketiga, diberi tambahan nikmat berupa melihat Allah Azza Wajalla.

Itulah kunci bagaimana dekat dengan Allah. Yaitu dengan menunaikan ibadah wajib dan menjauhi dosa-dosa yang diharamkan. Setelah yang fardhu terpenuhi, ia melengkapi dengan amal-amal sunnah. Karena ibadah wajib merupkan pokok, sedangkan sunnah menjadi pelengkap.

Sungguh aneh jika ada muslim yang mendahulukan ibadah sunnah dibanding ibadah fardhu. Ia rajin shalat tarawih namun mengabaikan shalat dhuhur dan ashar. Padahal ibadah wajib lebih prioritas, lebih dicintai Allah, dan pahalanya lebih besar.

Umar bin khattab mengatakan, “amal yang paling utama adalah menunaikan kewajiban, wara’ atau menjaga diri dari dosa-dosa yang diharamkan Allah dan meluruskan niat hanya mengharap balasan dari Allah.”

Salman Al-Farisi membuat perumpamaan, orang yang lebih mengutamakan sunnah dibanding ibadah wajib laksana seorang pedagang bangkrut yang kehilangan modal. Tapi masih mengharap untung.

Demikianlah Ramadhan mengajarkan kita mengubah diri sendiri menjadi lebih baik. Sebuah peningkatan keshalihan personal yang dilakukan secara kontinyu. Seperti yang dikisahkan Ibrahim Al-Harbi yang menjadi sahabat Imam Ahmad bin Hanbal selama selama dua puluh tahun. Ibrahim menemani Imam Ahmad siang malam, di musim panas dan dingin. “Tiap hari aku bertemu beliau, tiada hari aku menemuinya, kecuali beliau bertambah baik dibanding hari sebelumnya,” ucap Ibrahim Al-Harbi. Semoga kita bisa meneladani sosok Imam Ahmad tersebut.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 115 Rubrik Tema Utama

Penulis : Mujahid

Editor : Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *