Saat Harus Menasehati Penguasa

Menasehati Pemimpin
Menasehati Pemimpin
Menasehati Pemimpin
Menasehati Pemimpin

An-Najah.net – Pada kasus imam juur (dzalim), Islam mengharuskan umatnya untuk menyikapinya dengan hikmah dan bijak.

Setidaknya ada dua Sikap yang ditujukan kepada penguasa juur.

Pertama, Menasehatinya, jika memungkinkan untuk dinasehati, ini seperti yang dilakukan oleh para ulama terhadap penguasa juur.

lbnu Taimiyah pernah menemui Huiagho Khan beberapa kali, untuk memperingatkannya agar tidak menumpahkan darah umat Islam.

Cara kedua dengan melengserkannya, atau melawannya. ini dilakukan di saat negosiasi dan nasehat damai buntu. ini pun baru boleh dilakukan bila memenuhi dua syarat:

(1) Memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan. Dan

(2) Menurut prediksi, besar kemungkinan perubahan ini tidak melahirkan kemungkaran yang lebih besar. ia melahirkan perubahan yang lebih baik bagi umat Islam, seperti, umat islam mampu mengangkat pemimpin yang lebih adil dan bijak. (lihat Tema Utama An-Najah edisi 80).

Ada tiga cara yang ditawarkan oleh ulama islam untuk melengserkan penguasa juur. Bisa dengan cara penguasa mengundurkan diri dari jabatannya.

Al-Qurthubi itu berkata, “Seorang imam wajib mengundurkan dirinya, jika ia mendapati kekurangan pada dirinya untuk melanjutkan kepemimpinan.” (al-jami’ liabkamil Qur’an, 1/272).

Hal ini pemah dilakukan oleh Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, beliau meletakkan jabatannya sebagai khalifah dan menyerahkannya kepada Mu’awiyah. Walau beliau bukan penguasa juur, beliau rela mengundurkan diri untuk kedamaian umat Islam itu.

Metode lain yang diusulkan oleh Syaikh Ad-Dumulli dan Syaikh DR. Abu Faris adalah dengan jalan damai. Yaitu melakukan protes massal, semacam demokrasi, mogok dan semisalnya. Bisa juga dengan mengisolasi pemimpin tersebut. Syaratnya, tidak melakukan hal-hal yang melanggar syari’at.

Cara ini juga pernah dilakukan oleh beberapa ulama’ salaf. Seperti Abu Hanifah Sufyan Ats-Tsauri dan Sa’id bin Jubair. Mereka menolak untuk berjumpa apalagi menjadi pegawai para khalifah yang dianggap dzalim.

Syaikh Abu Faris berkata, “Jika umat merasa pemimpinnya fasik, dzolim, dan sudah tidak layak memimpin, mereka harus menasehatinya. jika ia enggan menerima nasehat, bahkan takabbur,

maka umat harus memutuskan segala bentuk hubungan, interaksi dan komunikasi dengannya juga dengan keluarga atau siapa saja yang mendukungnya. Sehingga ia merasa terisolasi, dan akhirnya ia akan memerintah dengan adil atau ia akan mengundurkan diri dari jabatannya.” (An-Nidzam Assiyasi, hlm. 273).

Metode ini diisyaratkan dalam sabda Rasulullah: “Di akhir zaman kelak, aka nada para pemimpin yang dzalim, para menteri yang fasik, para hakim yang khianat, dan para ahli fikih yang dusta.

Jika salah seorang dan“ kalian menemui masa ini’, maka janganlah ia menjadi pegawainya, penasehatnya dan jangan juga menjadi polisi -aparat mereka-.”(HR. Thobroni)

Sedangkan metode yang umumnya digunakan oleh para salaf adalah revolusi bersenjata. Seperti yang dilakukan oleh para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta ulama-ulama islam setelah mereka.

lbnu Hazm al-Andalusi menegaskan (al-Fashl, 4/171-172), ‘iika memang ada penguasa yang menyimpang dan tidak bisa diluruskan kecuali dengan pedang. Maka revolusi bersenjata untuk melawan penguasa ini dibenarkan oleh syar’i.”

Ketiga metode di atas bukan urutan tapi bisa dipilih sesuai ijtihad ulama dan tokoh-tokoh islam pada masanya. Sedangkan melengserkan imam yang adil merupakan tindakan bughat.

Hanya saja imam yang adil tetap dinasehati jika terdapat ketidaksesuaiannya dengan syari’at.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 88 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akrom Syahid

Editor : Helmi Alfian