Saat Penguasa Harus Diluruskan

Kursi Penguasa
Kursi Penguasa
Kursi Penguasa

An-Najah.net – “Sungguh, setiap Nabi pasti memiliki sahabat dan hawari (penolong) dari kalangan sahabatnya. Mereka meneladani jejak nabinya, dan mengikuti petunjuknya.

Setelah itu akan muncul para pemimpin yang menyimpang, mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan.

Dan mereka mengerjakan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka.” (Riwayat Ahmad dan Muslim. Lafadz dari riwayat imam Ahmad).

Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya, ”Barangsiapa yang berjihad melawan mereka dengan tangannya maka ia seorang mukmin.

Dan siapa yang berjihad melawan mereka dengan lisannya, maka ia seorang mukmin. Dan siapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya, maka ia mukmin.

Dan siapa yang tidak melakukan salah satu dari ketiganya, ! maka ia tidak memiliki keimanan walau sebesar biji sawi pun.”

Jauh-jauh hari Rasulullah menubuwatkan bahwa akan ada masa-masa yang baik bagi umat Islam dalam bernegara, namun ada juga masa-masa sulit.

Kemudahan urusan dalam bernegara ditandai dengan adanya para penguasa yang adil dan bijak. Menyelamatkan rakyatnya dari keterpurukan akhlak dan ekonomi.

Ada jaminan keamanan bagi mereka. Seperti pada zaman Khulafa’urrasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Thalib.

Juga pernah terjadi pada zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid, Umar bin Abdul Aziz, Sholahuddin al-Ayubi maupun Muhammad Fatih penguasa Turki Utsmani.

Inilah penguasa adil yang mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak. Sebagian ulama ada yang bahu membahu dengan mereka dalam memperbaiki umat.

Dan tidak cela untuk berdekatan dengan penguasa adil dalam rangka mengembangkan dakwah, asalkan keimanannya tetap mampu dijaga.

Misalnya para ulama sahabat yang bahu membahu dengan khulafaurasyidin dalam menata khilafah Islam di Madinah.

Sedangkan masa-masa sulit ditandai dengan penguasa yang kejam dan bengis terhadap rakyatnya. Bahkan ada juga penguasa-penguasa yang keluar dari Islam.

Di sini permasalahan seputar sikap yang bijak terhadap penguasa dzalim bermunculan di kalangan ahlu sunnah.

Oleh karena itu tidak bijak rasanya jika semua penguasa dihukumi sama; sama-sama ditaati atau sama-sama dilawan.

Seperti yang dilakukan oleh salafi murji’ah hari ini yang menghukumi pemerintah-pemerintah yang menguasai negeri muslim hari ini sebagai amirul mukminin. Wajib ditaati.

Dalam fikih Islam, tipe penguasa, setidaknya terbagi dalam tiga jenis. Penguasa muslim yang adil, penguasa kafir atau murtad, dan penguasa muslim yang dzalim.

Melawan penguasa muslim yang adil jelas tidak sama hukumnya dengan melawan penguasa dzalim, apalagi penguasa kafir atau murtad.

Melawan penguasa adil diharamkan dalam Islam. Sebaliknya melengserkan penguasa kafir atau murtad diwajibkan. Adapun menentang penguasa dzalim diperselisihkan oleh para ulama.

Artinya, kalaupun ada yang berijtihad, pada kondisi tertentu penguasa dzalim harus dilengserkan, maka harus dihormati.

Tidak boleh dicap khawarij apalagi bughat. Karena hasil ijtihad harus disikapi dengan lapang dada. Begitu kaedah ijtihad yang ditetapkan ulama ahlu sunnah.

Dari klasifikasi penguasa ini, para ulama membagi kelompok yang menentang penguasa dalam empat jenis. Yaitu, Khawarij, Muharibun, Bughat dan ahlul haq (pembela kebenaran). Masing-masing ada fikih tersendiri. Tidak bisa dihukumi sama.

Kelompok Khawarij adalah kelompok yang menentang Ali bin Abi Thalib &. Di kemudian hari kelompok ini memiliki keyakinan yang menyimpang jauh dari akidah Islam.

Diantaranya, mengkafirkan sahabat Ali, Utsman dan beberapa sahabat lainnya. Mereka juga mengkafirkan pelaku dosa besar. Mereka juga meyakini bahwa melawan penguasa dzalim hukumnya wajib.

Keberadaan kelompok ini telah dinubuwatkan oleh Rasulullah dalam haditsnya. Darah dan kehormatan mereka telah dihalalkan, mereka harus diperangi sampai bertaubat, (HR. Muttafaqun ‘Alaihi)

Sedangkan kelompok al-Muharibun, adalah para perampok, pejagal dan gengster yang senantiasa merusak dan meneror masyarakat.

Mereka memiliki senjata dan kekuatannya terorganisir. Kelompok ini juga harus diperangi hingga mereka bertaubat, (Qs. 5:33)

Adapun Bughot adalah kelompok yang memberontak pada penguasa muslim yang adil. Tujuannya, hendak meraih kekuasaan.

Ada tiga syarat sebuah kelompok perlawanan yang bisa dikategorikan bughoth, yaitu; melawan penguasa muslim yang adil, memiliki kekuatan bersenjata dan mereka melakukannya karena sebuah takwil (ahkamu al-Bughots wal muharibin, hlm. 1/40).

Seorang penguasa tidak dibenarkan Iangsung memerangi mereka, sebelum diadakan perundingan dengan mereka. Penguasa harus meneliti faktor penentangan kelompok ini.

Jika memang ada hak mereka yang terdzalimi oleh pemerintah, maka imam wajib menunaikan hak mereka.

Penguasa baru diperbolehkan untuk memerangi mereka jika bughot tidak memiliki alasan syar’ie, dan tetap membangkang kepada penguasa adil.

Kelompok penentang penguasa yang terakhir adalah ahlu haq. Tentang kelompok ini, Ibnu Hajar ats menyebutkan, ”Kelompok yang menentang penguasa demi pembelaan untuk islam karena penguasa berbuat dzalim dan tidak mengamalkan tuntunan Rasulullah.

Mereka ini adalah kelompok yang benar. Seperti al-Husain bin Ali & dan penduduk Madinah dan Abdullah bin Zubair yang melawan Hajaj pada masa kekhilafahan Bani Umayyah.”

Bila melawan penguasa lalim masih dikategorikan ahlul haq (pembela kebenaran) tentu melawan penguasa murtad lebih layak disebut ahlul haq.

Sementara orang yang mencap kelompok ini dengan khawarij aja“ bughat bisa jadi belum memahami hakekq permasalahnnya atau memang ia bagian da’i penguasa dzalim.

Dalam rentang sejarah Islam, telah tercatat ratusan bahkan mungkin ribuan ulama’ yang melakukan perlawanan terhadap penguasa Mereka membentuk pasukan perang untuk menumbangkan penguasa dzalim.

Ada al-Hasan aI-Bashri, Abul Bukhtari, Sa’id bin Zubair, Muslim bin Yasar, puluhan ulama lainnya bergabung dalam revolusi bersenjata melawan Hajaj pada tahun 81-83 Hijriyah.

Mereka mencabut baiatnya kepada khalifah Abdul Malik bin Marwan dan membaiat lbnu Asy’Ats.(DR. aI-Mathiri, Tahrirul Insan, hlm. 591).

Demikian juga gubernur yang terkenal keshalehannya, Mathraf bin al-Mughirah AtsTsaqofi, memutuskan untuk bergabung dengan pejuang revolusi Syabib bin Kharij untuk menumbangkan Hajaj. Beliau didukung oleh sejumlah ulama dan fuqoha’, (Tahrirul Insan, hlm. 593-595).

Masih ada lagi ulama lain yang menentang penguasa dzalim. Seperti, Abu Hanifah -pendiri madzhan Hanafi-, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Abi Dzi’b, Malik bin Anas –pendiri madzhab Maliki-, al-Auza’i, Ahmad bin Nashral-Khuza’i dan ulama-ulama Iainnya(Tahrirul Insan, hlm. 600-612).

Ada yang terlibat secara langsung dalam perlawanan, ada juga yang memberikan faMa kebolehan untuk menentang penguasa dzalim pada zamannya.

Dan sebagian ulama menunjukkan sikap penentangannya dengan tidak berdekatan, memenuhi undangan atau menjadi pegawai para penguasa dzalim pada zaman mereka.

Naif sekali rasanya jika ada sekelompok orang yang mengaku representasi salaf dan ahlu sunnah, namun menyeru untuk tunduk pada penguasa yang dzalim terhadap rakyatnya.

Kelompok ini melabeli bughat atau Khawarij kepada kaum mukminin yang meluruskan penguasa-penguasa dzalim tersebut.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 88 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akrom Syahid

Editor : Helmi Alfian