Saat-Saat Kritis

alone

تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِيْ الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِيْ الشِّدَّةِ

Bait arab diatas adalah sepotong nasehat Rasulullah saw kepada sahabat tercinta Abdullah bin Abbas ra. Kala itu umur beliau masih terbilang belia, belum genap 13 tahun, kata sebagian ulama. Dikemudian hari sahabat muda ini menjadi ulama yang sangat disegani oleh siapapun, termasuk sahabat senior sekelas Umar bin Khattab ra.

Arti dari bait diatas kurang lebih, “Kenalilah Allah saat anda senang (senggang), niscaya Allah swt akan mengingatmu saat anda dalam keadaan susah (sengsara).” Nasehat yang diabadikan oleh imam Tirmidzi dalam kitab sunannya ini sarat makna.

Ma’rifah Vertikal

Mengenal Allah (ma’rifatullah) dalam hadits ini tentu bukan sekedar ‘kenal’ bahwa Allah itu tunggal, wujud, berkuasa, menghidupkan dan mematikan. Tapi ‘kenal’ dalam makna; tunduk kepada perintahNya, menjauhi segala laranganNya.

Ibnu Rajab al-Hambali rhm berkata, “Maksud hadits ini adalah jika seorang hamba bertakwa kepada Allah, menjaga ketentuan-ketentuan yang telah Allah tetapkan, memenuhi hak-hak Allah ketika kondisinya bahagia, senggang, berarti ia telah mengenal Allah. Mengenal bukan sekedar kenal nama, tapi ia telah ma’rifah khosah (mengenal Allah sangat dalam).

Bila seorang hamba demikian keadaannya, maka Allah swt akan mengenalnya ketika ia mengalami kesusahan…sehingga Allah swt akan mencurahkan cintaNya kepadanya, selalu dekat dengannya dan Allah swt akan senantiasa mengabulkan do’anya”

“Ma’rifahnya Allah kepada hamba, ada dua macam” lanjut Ibnu Rojab, “Pertama, Ma’rifah ‘Amah, yaitu pengetahuan Allah tentang keadaan seluruh hambaNya, di manapun, bagaimanapun dan kapanpun, yang nampak maupun yang tersembunyi. Sebagaimana firmah Allah swt,

(Artinya)“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Q.S. Qof: 16)”

Boleh dikata, ma’rifah jenis pertama ini berlaku untuk seluruh makhluk, mukmin-kafir, muwahhid-musyrik, pria-wanita,  sosialis-demokratis dan lain sebagainya. Karena ma’rifah ini terkait dengan ilmu Allah swt yang meliputi segala sesuatu. Allah Maha Tahu dosa dan amal mereka.

“Yang kedua,” jelas Ibnu Rojab lebih lanjut, “Ma’rifah Khoshoh, yaitu pengetahuan Allah swt tentang hamba-hambaNya yang tertentu, menjadikan Allah menyayanginya, mencintainya, mendekatinya, mengabulkan do’anya dan Allah akan menolongnya dari segala macam kesempitan hidup. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi,

2673675228_6a86307950_b

“Barangsiapa yang memusuhi waliKU sungguh ia telah mengizinkan AKU memeranginya. AKU sangat senang jika hamba-hambaKU bertaqarrub kepadaKU dengan cara melaksanakan sesuatu yang AKU wajibkan kepada mereka. Jika hambaKU senantiasa mendekat kepadaKU dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, niscaya AKU akan mencintainya. Jika aku sudah mencintainya, niscaya AKU akan menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi pandangannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul, menjadi kakinya yang ia gunakan untuk melangkah. Dan jika ia meminta kepadaKU, pasti AKU akan memberikan yang ia minta. Jika ia meminta perlindungan, niscaya AKU akan melindunginy.” (HR. Bukhari)”

Jadi ‘kenal Allah’ (ma’rifatullah) dalam hadits diatas bukan sekedar ma’rifah sebagaimana orang awam mengenal Allah, namun ma’rifah yang membangkitkan rasa rindu untuk beribadah kepada Allah, memunculkan rasa takut bercampur malu jika bermaksiat kepada Allah swt. Meminjam istilah Shufi, inilah ma’rifah-nya orang-orang khowwas (khusus), kasta tertinggi dalam level salik. Sebuah ma’rifah yang menjadikan pelakunya tenang, bahagia dan nikmat jika berada di sisiNya swt.

Seorang salaf bertutur, “Orang-orang miskin pencari dunia, meninggalkan dunia, namun tidak merasakan sesuatu yang ternikmat di dunia ini.” Seorang bertanya, “Nikmat apakah itu?” Beliau menjawab, “Ma’rifatullah (mengenal Allah) swt.”

Suatu kali sahabat Abu Darda’ ra dimintai nasehat, beliaupun berkata, “Ingatlah Allah ketika anda lapang, niscaya Allah swt akan mengingatmu ketika anda susah.”

019057B

Allah mengeluarkan dari Perut Ikan

Dalam riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيْبَ اللهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ فَلْيُكْثِرْ الدُّعَاءَ فِيْ الرَّخَاءِ

“Barangsiapa yang menghendaki do’anya dikabulkan oleh Allah swt tatkala kesempitan/kesulitan menghadangnya, maka hendaklah ia memperbanyak do’a tatkala ia senang/lapang.”

Adalah Nabi Yunus As tauladan dalam masalah ini. Beliau adalah seorang Nabi yang sangat banyak mengingat Allah di waktu lapang. Senantiasa bertaqarrub kepada Allah, dengan dzikir, tasbih, tahlil, dan tahmid di kala sehat. Dan beliau termasuk hamba yang sangat bahagia jika beribadah kepada Allah. Sehingga tatkala beliau dalam kesulitan, yaitu saat dilemparkan ke dalam laut, lalu ditelan oleh ikan Paus. Di perut ikan tersebut beliau merasakan kegelapan dan kesempitan hidup yang luar biasa. Maka Allah swt menyelamatkannya, dikarenakan dzikir dan ibadah beliau di hari-hari sebelumnya.

“Maka kalau sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit (kiamat).” (Shofat: 143-144).

Allah Berpaling Darinya

Contoh sebaliknya adalah Fir’aun. Ia manusia yang sangat durhaka kepada Allah swt. Mengingkari nikmat-nikmat Allah swt, mendaulatkan dirinya sebagai tuhan, mengadzab orang-orang beriman kepada ajaran Nabi Musa as, dan melupakan Allah swt. Maka Allah swt tidak menghiraukannya saat ia meminta pertolongan, ketika air laut menghantamnya, saat-saat kritis dalam hidupnya. Tentang ini Allah swt mengisahkan,

“Apakah sekarang (baru kamu beriman wahai Fir’aun), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Yunus: 91)

101

Yunus As dan Fir’aun adalah dua permisalah yang antagonis tentang urgensi ma’rifatullah. “Inti dari semua ini” simpul Ibnu Rajab di penghujung penjelasan hadits ini, “barangsiapa yang melayani Allah dengan cara bertakwa kepadaNya dan mentaati-Nya ketika ia sentosa maka Allah akan ‘melayaninya’ dengan mengasihi dan menolongnya tatkala ia sengsara.” Sebuah sifat transaksi barter yang menguntungkan. Semoga Allah memudahkan kita mengingatNya tatkala bahagia, sehingga Allah berkenan mengingat kita tatkala sengsara; saat rezeki sulit, saat rasa sakit tak kunjung sembuh, atau saat tangan-tangan musuh mengarahkan pukulannya kepada kita. Aamiin ya Rabbil ‘Alamin.

Penulis: Mas’ud Izzul Mujahid

Editor: Sahlan Ahmad.

Diambil dari majalah An-Najah edisi 75, Desember 2011, rubrik Oase Imani.