Sabar Adalah Solusi Dalam Berbagai Keadaan

sabar dalam dakwah dan jihad
sabar dalam dakwah dan jihad
sabar dalam dakwah dan jihad
sabar dalam dakwah dan jihad

An-Najah.net – Sabar adalah sebuah tangga yang harus dilalui oleh setiap orang yang mendambakan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sabar juga merupakan sebuah titian seseorang yang menginginkan dekat dengan Allah ta’ala. Iman seseorangpun sangat kuat kaitannya dengan kesabaran. Tidak ada keimanan kecuali bagi mereka yang memiliki kesabaran.

Sabar bukan berarti diam saat kita dianiaya. Atau juga diam disaat berbagai kemaksiatan dan kemungkaran merajalela di sekitar kita. Tetapi sabar adalah kemampuan seseorang untuk menahan dari hal yang diharamkan Allah ta’ala, padahal ia mampu untuk melakukannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Saat musibah datang mengahmpiri, ia sabar untuk tidak mengumpat, menyalahkan takdir atau bahkan putus asa. Tetapi ia tetap kuat dan menjadikan musibah tersebut sebagai titik awal menjadi baik. Saat kesempatan bermaksiat ada dan dia mampu untuk melakukannya, ia bersabar untuk tidak melakukan kemaksiatan tersebut. Dan disaat ketaatan kepada Allah itu terasa berat karena sudah sangat jauhnya ummat dari islam, ia tetap istiqamah meski ia berat. Inilah yang disebut sabar.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Keutamaan sabar sangat banyak disebutkan oleh al qur’an dan juga perkataan para salaf. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah menuturkan:

“Ketahuilah, bahwasanya (perumpamaan) sabar dengan iman seperti kepala dengan badan. Jika kepalanya terpotong maka binasalah badannya.”

Sulaiman bin al-Qosim berkomentar: “Semua amalan diketahui pahalanya kecuali sabar. Allah berfirman :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. As-Zumar: 10). [ Uddatush Shabirin oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, hal. 95).

Macam-macam kesabaran

Rasanya kurang lengkap jika kita belum memahami tentang ruang lingkup kesabaran. Karena seseorang tidak bisa bersikap sabar disaat kesabaran itu dibutuhkan jika ia tidak memahami cakupan sabar. Diantara cakupan sabar itu adalah ;

Pertama ; Sabar dalam ketaatan.

Jenis ini adalah jenis kesabaran yang paling tinggi. Sebab, ketaatan itu lebih utama dari meninggalkan maksiat.

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?’’ (QS Maryam [19]: 65).

Sabar dalam ketaatan mencakup sabar sebelum melakukan ketaatan dengan meluruskan niat untuk ikhlas hanya karena Allah. Sabar ketika melakukan ketaatan adalah melakukannya dengan terbaik sesuai tuntunan Rasulullah. Dan bersabar setelah melakukan ketaatan dengan tidak bersikap ujub membanggakan ibadah yang telah dilakukan karena belum tentu diterima Allah.

Betapa banyak orang-orang yang ringan untuk mengunjungi tempat-tempat hiburan dengan merogoh kocek yang dalam untuk berkaraoke dan juga menegak minuman keras.

Namun, ketika datang waktu shalat, ia tak kuat untuk melangkahkan kakinya ke masjid. Hal ini menunjukkan betapa beratnya taat itu bagi mereka yang tidak diberikan taufik oleh Allah.

Sidang shalat jum’at yang dimulyakan Allah ta’ala

Di antara jalan agar kita bisa bersabar adalah dengan selalu bersama orang-orang taat. “Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya itu melewati batas. (QS al-Kahfi [18]: 28).

Rasulullah sallahu alaihi wasallam juga bersabda ; “Seseorang mengikuti agama kawannya. Karena itu, lihatlah olehmu siapakah yang menjadi kawanmu.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Maka untuk menjaga kesabaran dalam ketaatan ini, wajib bagi kita untuk berteman pada orang-orang shalih dan menjauhi orang-orang yang rusak.

Kedua : sabar dari kemaksiatan

Yang dimaksud dengan sabar dari kemaksiatan adalah  saat kita melihat orang-orang yang berada di sekitar kita berbuat maksiat, tak terbertik di pikiran kita untuk mengikuti mereka. Sebaliknya, kita benci dengan kemaksiatan tersebut dan berusaha untuk menyadarkan para pelakunya agar kembali ke jalan yang benar. Orang yang istiqamah, dan tidak mudah tergoda dengan kemaksiatan tersebut disebut sebagai orang yang sabar dari kemaksiatan.

Memang, hidup di lingkungan yang rusak sulit untuk tidak mengikuti mereka. Sebagai contoh,  seorang remaja yang di rumahnya kelihatan selalu diam, berbuat shalih dan taat menjalankan perintah agama, akan tetapi, karena di luar rumah  bergaul dengan remaja lainnya yang nakal dan suka berbuat onar, seperti berkelahi, suka nonton film porno dan mabuk-mabukan. Akhirnya, ia secara berlahan-lahan mengikuti perilaku mereka. Dan apabila ia tidak mengikutinya, maka ia dianggap kurang gaul, kurang solider dan akan terisolir. Remaja yang memiliki sifat seperti di atas, labil dan tidak memiliki pendirian  merupakan gambaran remaja yang tidak sabar dari kemaksiatan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Demikian juga halnya orang dewasa, di rumah ia kelihatan seperti orang alim, Rajin beribadah dan suka beramal shalih. Akan tetapi, teman-temannya di kantor suka berselingkuh dan melakukan kemaksiatan lainnya,  bukan tidak mustahil ia juga akan terbawa teman-teman di kantor. Dan apabila ia tidak mengikuti gaya hidup mereka, ia akan  dianggap ketinggalan zaman, kurang solider dan tidak gaul. Itulah sekilas gambaran situasi dan kondisi lingkungan, di dalam dan di luar rumah kita. Maka bagi orang yang sabar dari kemaksiatan, ia akan menghindari diri dari  perbuatan tercela. Akan tetapi,  jika ia tidak sabar, maka ia akan mengikuti pola dan gaya hidup mereka.

Oleh sebab itu, Rasulullah saw berpesan kepada umatnya agar bergaul dengan orang-orang shalih dan menjauh dari orang-orang yang suka berbuat maksiat. Sebab, jika kita bergaul dengan orang-orang shalih, maka kita akan ketularan keshalihannya. Sebaliknya, jika kita bergaul dengan orang-orang jahat, maka kita akan ketularan kejahatannya. Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda :

‘sesungguhnya perumpamaan orang yang bergaul dengan orang yang shalih dan orang yang jahat, bagaikan orang berteman dengan penjual minyak kasturi dan peniup api (pandai besi). Orang yang yang membawa minyak kasturi, mungkin memberi minyak  kepadamu atau kamu membeli  minyak darinya, atau paling tidak kamu mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan tukang pandai besi, mungkin ia akan membakar kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak enak darinya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-‘Asy’ari).

Ketiga, Sabar Dalam Menghadapi Musibah.

Kita memang menyukai seuatu yang indah, sesuatu yang membuat hati tenang dan tentram. Namun adakalanya Allah menurunkan ujian kepada kita berupa musibah, seperti sakit, kematian orang terdekat, kebangkrutan usaha, PHK, kecelakaan, kehilangan uang, dan sebagainya. Hal yang pertama kali diingatkan adalah sabar. Sabar dan tabahlah dalam menghadapi segala macam cobaan dalam hidup ini. Sabar berlawanan dengan sedih dan keluh kesah. Allah ta’ala telah menyebutkan tentang kesabaran dalam menghadapi musibah ini dalam firman-Nya ;

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ(156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”[ Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. ]. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. ( QS. Al Baqarah 155 – 157 ).

 Jama’ah shalat jum’at yang berbahagia

Allah ta’ala telah memerintahkan kita untuk mengucapkan INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN saat musibah menghampiri. Orang yang mengucapkan dan meresapi perkataan tersbut, maka Allah akan memberikan keberkahan, pujian dari Allah dan juga rahamad. Dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Begitulah gambaran sekilas tentang sabar. Tidak ada jalan lain untuk masuk jannah kecuali dengan kesabaran. Kesabaran dalam ketaatan, kesabaran untuk menjauhi maksiat dan kesabaran dalam menghadapi musibah. Kita berdo’a pada Allah untuk dimudahkan dalam meniti kesabaran tersebut, dan ddiistiqamahkan hingga ajal menjemput. Demikian khutbah jum’at yang kami sampaikan. Ada kurang lebihnya mohon maaf ;

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِيْنَ الآمِنِيْنَ وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاُكمْ فِى زُمْرَتِهِ الْمُوَحِّدِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 103 Rubrik Khutbah Jumat

Penulis : Amru

Editor : Anwar