Menikah dan Iqamatuddin

menikahMenikah bukanlah sebatas menyalurkan kebutuhan biologis akan lawan jenis. Menikah juga bukan keceriaan sesaat karena tercapainya sebuah keinginan yang lama terpendam. Pun menikah bukan hanya punya banyak anak atau memiliki rumah lengkap dengan perabotnya. Bukan sebatas itu.

Dalam pernikahan terkandung seperangkat visi dan misi yang melintasi masa dan usia. Menikah adalah menggenapkan setengah din, menciptakan kolaborasi potensi antara suami dan istri untuk tegaknya kalimat Allah di muka bumi.

Menikah Bukan Hambatan

Menikah dan iqamatuddin adalah dua sinergi yang saling mendukung. Namun, seringkali problematika mulai muncul ketika seorang akhwat memasuki gerbang pernikahan. Seolah dengan menikahnya seorang akhwat, tugas dan amanah dakwahnya atas ummat mencapai titik finish.

Sebagai muslimah yang telah menikah, seharusnya kita tetap berusaha untuk mengambil peran serta dalam iqamatuddin sesuai dengan kapasitas kita. Menikah bukan berarti mutlak mendapat stempel mantan aktivis dakwah. Karena aktivitas iqamatuddin tetap bisa dilakukan setelah menikah, dengan penyesuaian-penyesuaian tertentu dan dukungan suami tentunya. Sehingga, menikah bukanlah menjadi kuburan bagi potensi-potensi akhawat murabbiyah dan daiyah. Asalkan urusan rumah tangga beres, tak ada kata tidak untuk berkecimpung dalam aktivitas dakwah.

Setelah menikah, para akhawat otomatis menjadi seorang istri dan ibu, yang notabene wilayah kerjanya lebih…selengkapnya baca An-Najah Edisi Januari 2013