Browse By

“Salafi”, Rohingnya dan Ulil Amri

 

Baru saja mendengar jawaban Ustadz “Salafi” yang lagi kondang, tentang solusi Myanmar. Jawabannya aneh, jika tidak bisa dibilang lucu; berdoá saja. Tidak perlu ke sana. Tidak boleh jihad. Sampai ada izin ulil amri (Jokowi).

Inilah jika terlalu ghuluw dalam Ulil Amri. Membuat seseorang yang cerdas, menjadi nampak bodoh. Bagaimana tidak demikian, meminta izin kepada penguasa sekuler untuk melaksanakan jihad, itu sama dengan mimpi di siang bolong. Penguasa sekuler akan tetap tunduk kepada kepada thaghut PBB.

Thaghut PBB telah memutuskan bahwa jihad adalah salah satu sasaran yang harus diperangi. Baik pikiran atau aksinya.

Mayoritas penguasa yang ada hari ini adalah wayang yang dikendalikan oleh PBB. Semua bentuk dan keputusan PBB dipaksakan kepada negara-negara yang ada.

Perkara yagn diharamkan oleh Allah SWT menjadi halal, jika PBB dan penguasa sekuler telah menghalalkannya. Sebaliknya, perkara yang dihalalkan oleh Allah SWT akan menjadi haram jika PBB dan penguasa sekuler mengharamkannya.

Perkara2 yang disyariatkan oleh Allah SWT menjadi terlarang dengan berbagai dalih, karena PBB dan penguasa sekuler tidak merestui. Inilah ibadah yang dimaksud oleh Allah SWT dalam (Qs. At-Taubah: 31).

Salah satu ibadah yang disyariatkan, bahkan menjadi pertanda kejujuran iman adalah jihad, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu al-Qoyyim dalam madarijus salikin-nya.

Ibadah ini menjadi terlarang, karena Ulil Amri PBB dan penguasa sekuler tidak mengizinkan. Para salafi jamiyah pun mengatakan demikian. Bahkan dianggap sebagai tindakan kelompok sesat.

Dus, kejamnya. Sementara berpihak kepada penguasa sekuler dan thaghut PBB, dianggap sunnah. Sejarah mana yang menunjukkan penguasa sekuler dan PBB mengizinkan jihad.

Justru jihad rakyat suriah membela diri dari serangan rezim Syiáh Nushairi dan penjajahan Amerika, Rusia, dan Iran dianggap aksi terorisme.

Lihatlah, rakyat Afghanistan berjuang untuk kemerdekaan negaranya, yang merupakan hak segala bangsa. Dan membela diri dari negara kafir Amerika, oleh PBB dianggap sebagai tindakan terorisme.

Lucunya, sebagian salafiyin pun ikut-ikutan menuduh mujahidin Thaliban sebagai teroris. Bahkan tidak malu-malunya menuduh mereka sebagai khawarij.

Kini, Rohingnya pun demikian. Bisa jadi, jika rakyat Rohingnya melawan, PBB, Amerika, Cina dan wayang-wayangnya dari penguasa sekuler akan menvonis mereka sebagai teroris. Dan Salafi Jamiyah pun ikut-ikutan menyatakan demikian, plus divonis khawarij.

Naif, memang. Muslim yang berusaha menegakkan kalimatullah (hukum Allah SWT), membela syariát dan harga dirinya, tidak selamat dari vonis serampangan mereka.

Sementara orang-orang kafir dan thaghut internasional maupun nasional, terbantu dengan vonis-vonis kejam Salafi Jamiyah ini.

Entah petunjuk nabi mana yang mereka ikuti. Jika mereka beruswah kepada nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, seharusnya mereka tegas terhadap orang-orang kafir, dan lembut terhadap orang-orang beriman.

Juga, seharusnya mereka tidak lepas dari aktifitas jihad; baik secara langsung atau tidak langsung. Sebagaimana penjelasan imam al-Baghawi dalam syarh sunnahnya, diantara lima karakter para sahabat adalah al-Jihad fi sabilillah.

Seringkali untuk membenarkan keyakinan yang salah dan ghuluw ini, mereka akan mencari-cari kesalahan jihad dan mujahidin.

Lalu mengabaikan kebaikan dan keberhasilan mujahidin. Tidak ada yang memanen dari apa yang mereka lakukan ini, kecuali musuh-musuh Islam. Wallah A’lam Bish Shawab.  (Mujahid Yuhibbu Roihanain)

Editor: Sahlan Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *