Salafku Sayang “Salafi”ku Malang

Salafku Sayang “Salafi”ku Malang
Salafku Sayang “Salafi”ku Malang

An-Najah.net – Mengaku bermanhaj salaf, tapi menghujat salaf. Suatu ketika para sahabat berkumpul di sisi Rasulullah Saw, menimba ilmu dari beliau, menyimak hadis-hadis yang beliau tuturkan. Saat itu, datanglah seorang Arab badui yang biasa hidup di pegunungan-pegunungan atau tengah padang pasir jauh dari peradaban. Tiba-tiba saja si badui tadi menuju ke pojokkan masjid dan kencing di sana.

Akhlak Mulia Rasulullah Saw

Para sahabat yang menyaksikannya segera bangkit hendak mencegahnya. Bahkan, ada yang hendak memukulnya. Akan tetapi, Rasulullah Saw mencegah mereka. Fragmen ini terabadikan dalam sabda beliau Rasulullah Saw, dari Abu Hurairah,

Biarkanlah orang itu, dan siramkanlah satu timba air atau satu ember air pada bagian yang terkena kencingnya karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberikan kesulitan.” (HR. Al-Bukhari: 220, Muslim 284)

Baca juga: Akhlak Cermin Keimanan Seseorang

Dari kejadian ini kita bisa mencontoh betapa halusnya budi pekerti beliau. Beliau tidak segera membentak, atau bahkan mengusir badui itu. Akan tetapi, beliau membiarkan Si Badui menyelesaikan hajatnya. Baru kemudian memerintahkan para sahabatnya menyiramnya dengan satu ember air.

Begitu bijaknya Rasulullah Saw dalam menyikapi orang yang belum mengetahui ilmunya. Jika kita selaku umatnya yang manggaku mengikuti manhaj salaf, maka, dalam menyikapi suatu permasalahan harus sesuai dengan apa yang dicontohkan para salaf terdahulu. Baik dari segi perbuatan, ucapan maupun akhlak, sudah sewajarnya untuk mencontoh para salaf.

Akhlak Mulia Para Salaf

Sedangkan dalam menyikapi ulama yang tidak sependapat dengannya, ulama-ulama salaf memberi contoh dengan contoh yang baik. Sa’id bin Al-Musayyab (wafat 93H) berkata, “Tidaklah seorang Ulama, dan tidak pula orang yang mulia, demikian pula dengan orang yang memiliki keutamaan melainkan (pasti) memiliki aib (kekurangan).

Namun, siapa yang keutamaannya lebih banyak dari kekurangannya, maka kekurangannya itu akan tertutup oleh keutamaannya. Sebaliknya, orang yang kekurangannya, mendominasi, maka keutamaannya pun akan tertutupi oleh kesalahannya itu.”

Ulama salaf lain berkata, “Tidak ada seorang ulama-pun yang terbebas dari kesalahan. Siapa yang sedikit salahnya dan banyak benarnya maka dia adalah seorang ‘alim (berilmu). Dan siapa yang salahnya lebih banyak dari benarnya maka dia adalah orang yang jahil (bodoh)” (Ibnu Abdil Barr, Jami’ Bayan Fadhli Al-llmi, jilid II, hal. 48)

Baca juga: Manhaj Salaf Solusi Problematika Umat Islam

Demikian pula Syekh Abdul Muhsin bin Hammad dalam kitabnya Rifqan Ahlussunnah bi Ahlissunnah mengatakan, “Sepeninggal Rasulullah Saw tidak ada seorang pun yang ma’shum (terbebas dari kesalahan). Demikian pula orang ‘alim mana pun, dia tidak akan lepas dari kesalahan.

Seseorang yang terjatuh dalam kesalahan, janganlah kesalahannya itu dimanfaatkan untuk mendiskreditkan orang tersebut. Tidak boleh kesalahannya itu, dijadikan sebagai sarana untuk menguliti kejelekannya yang Iain dan melakukan tahdzir terhadapnya (Abdul Muhsin bin Hammad bin Utsman, Rifqan Ahlussunnah bi Ahlissunnah, hal. 31)

Dari sinilah, kita selaku umat yang mengikuti manhaj salaf agar tidak men-tahdzir seseorang karena kesalahannya, karena tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Kita ambil kebaikan darinya dan jauhi kesalahannya.

Sikap Kasar, Keras, dan Tidak Beradab

Pada dekade terakhir, kita sangat bersyukur kepada Allah Ta’ala karena sebagian kaum muslimin sudah mulai kembali kepada manhaj salaf dalam akidah dan pemahaman mereka. Dakwah salaf semakin berkibar di tengah kaum muslimin, dan manhajnya semakin kokoh insyaAllah.

Namun, keadaan demikian agak terusik ketika muncul sekelompok kaum muslimin yang menamakan dirinya dengan ‘salafiyyun’ yang berdakwah secara serampangan, semena-mena dalam menebarkan tuduhan, mencela, dan memberikan embel-embel yang tidak layak kepada kaum muslimin yang tidak bergabung dengan kelompok mereka.

Bahkan, terhadap sesama pembawa bendera ‘salafiyyun’ pun mereka berlaku arogan. Karenanya, tidak sulit bagi kita untuk mendapatkan perkataan mereka yang kasar dan tidak sopan. Seperti; ustadz parlente, kalbun min kilaabinnaar (anjing neraka), ahli hadas bukan ahli hadis, khawarij, surury, bughat, dan yang lainnya. Terkhusus mereka para dai yang mengusahakan tegaknya syariat Islam.

Semua itu mengalir dari lisan-lisan mereka –ghafarahumullah– tanpa ada rasa menyesal, berdosa karena telah menggibah saudaranya, dan taraju’ kepada al-hak, justru semakin bertambah arogansi mereka dalam menghadapi saudara-saudara muslim lainnya.

Ulama Dihujat

Tidak asing lagi, Sayyid Qutb, Hasan AI-Banna dan Dr. Abdullah Azzam adalah di antara sekian ulama yang mereka cerca habis-habisan. Padahal mereka adalah tiga tokoh yang berjasa dalam dunia pergerakan dan jihad. Jika mereka memiliki kesalahan, ya itulah manusia. Yang tak lepas dari salah dan lupa.

Tentang mereka para ulama ahlussunnah banyak memujinya. Syekh Utsaimin dengan halus beliau menyindir orang-orang ‘salafiyun’, “Hari ini, ada sebagian manusia -semoga mereka mendapat hidayah- mencari-cari kesalahan para dai dan ulama. Kemudian mereka ekspos besar-besaran. Ironisnya, mereka tidak mengingat kebaikan-kebaikan para ulama tadi, padahal kebaikan mereka berlipat ganda daripada kekeliruan yang mereka lakukan.” (aI-Watsa’iq al-Jalliyah, hal. 43)

Baca juga: Ketika Para Pemimpin dan Pengikut Saling Melaknat

Syekh Al-Albani amat tidak senang dengan mereka yang terlalu mempersoalkan Sayyid Qutub, bahkan Syekh menjelaskan Sayyid Qutub adalah dai yang telah membangkitkan semangat dakwah Islamiyah di hati para pemuda, beliau berkata,

“Dalam beberapa tulisan Sayyid Qutub seperti, “Al-Adalah al-Ijtima’iyyah” Sayyid mengungkapkan hakikat tauhid dengan gaya bahasa sastra yang sangat baik, ungkapan-ungkapannya sangat membekas dalam sanubari orang-orang beriman, sehingga akan tumbuh kepercayaan dan keimanan dalam sanubari mereka. Dari sisi ini, Sayyid telah memperbaharui dakwah Islam dalam hati para pemuda.” (Al-Watsa’iq al Jalliyah, hal. 49)

Ketika ditanya tentang beberapa tokoh dan ulama yang melakukan kesalahan dalam beberapa akidah seperti Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar dan Sayyid Qutub, Syekh Al-Albani berkata, “Hari ini siapa yang semisal dengan An-Nawawi dan Ibnu Hajar? Beritahu saya!. Adapun tentang Sayyid Qutub, jangan kalian ungkit-ungkit. la adalah laki-laki yang kita hargai atas jihadnya.” (AI-Watsa’iq al Jalliyah, hal.49).

Amat disayangkan sebenarnya sikap para ’salafiyyun’ yang begitu kasar, dan kurang beradab dalam menghadapi orang-orang yang menyelisihi pendapat mereka. Bahkan, kekasaran itu melebihi kekasaran mereka kepada orang-orang kafir, sekuler, dan para pemuja nasionalisme lainnya.

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita di jalan-Nya yang benar. Berdakwah dengan manhaj salaf yang sesungguhnya, tidak terpengaruh dengan ideologi-ideologi sesat yang tersebat hari ini. Amin. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 58

Penulis             : Abdullah

Editor               : Ibnu Alatas