Satu Asa Beda Suara

Satu Asa Beda Suara
Satu Asa Beda Suara

An-Najah.net – Satu barisan, bukan satu pemikiran. ‘Wihdatus Shaffi La Wihdatul Ra’yi’ Inilah ungkapan Syaikh Salman Audah di akhir buku Kaifa Nakhtalif (Bagaimana kita berbeda pendapat). Beliau mengajak untuk melihat perbedaan bukan dari sudut pandang pertentangan. Melainkan sebuah tantangan bagaimana mengelola beragam kelompok Islam yang ada menjadi perbedaan yang produktif. Hasilnya akan sangat bagus bagi umat Islam yang sedang terpuruk seperti sekarang ini.

Baca juga: Hilangnya Etika Beda Pendapat, Menandakan Kedunguannya

Wihdatus Shaffi atau satu barisan, maksud aslinya ialah umat yang bersatu di bawah naungan satu pemimpin yang menegakkan syariat Allah Ta’ala. Gambaran ini adalah bentuk paling ideal tatanan Islam yang pernah terwujud pada masa Rasulullah Saw dan para khalifah setelahnya.

Tetap Bersatu

Dalam kondisi saat ini umat Islam wajib bersatu dan tidak boleh berpecah. Orang yang keluar dari jamaah terancam dengan sabda Rasulullah Saw berikut.

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَتُهُ جَاهِلِيَّةٌ 

Siapa yang memisahkan diri dari jamaah walau sejengkal, lalu meninggal. Ia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Bukhari: 7054, Muslim: 1849)

Selain hadis ini banyak dalil semisal yang menekankan larangan berpecah-belah. Orang yang menolak bersatu, kelak akan bertemu dengan Allah Ta’ala tanpa membawa hujah atau alasan yang bisa diterima.

Baca juga: Pilih Jalan Allah atau Jalan Taghut?

Sayangnya, realita yang dihadapi kaum muslim jauh dari gambaran tersebut. Saat ini ikatan Islam telah terurai, umat dijajah dan dipecah menjadi negara-kecil. Menurut Syaikh Salman Audah, meski khilafah belum wujud, kewajiban utama khilafah untuk hifdzud din dan siyasatud dunya (menjaga kemurnian agama dan mengelola dunia) tetap harus berjalan. Tugas ini menjadi tanggung jawab kaum muslimin secara umum.

Beliau Umar Al-Asyqar optimis bahwa harakah-harakah Islam hari ini mampu bersatu. Minimal bersedia duduk satu majelis karena ada benang merah yang mengikat kuat jamaah-jamaah tersebut.

Mereka yang beramal dalam jamaah tersebut adalah muslim. Mereka diIkat dengan ikatan yang Islami sehingga mampu menyatukan pemeluknya. Keyakinan dan akidah mereka juga sama. Kiblat dan kitab sucinya juga tidak berbeda. Langkah berikutnya, ialah membangun kesepahaman dengan mempelajari manhaj talaqqi ulama ahlu sunnah dan kaidah-kaidah fikih sebagai panduan memahami Al-Qur’an dan sunnah.

Saling Melengkapi

Menurut Abu Hafs Al-Mauritani, banyaknya kelompok dan harakah Islam justru meringankan tugas yang lain mengingat betapa banyak amal Islam yang harus dilakukan. Karena itu, kontribusi satu jamaah bisa menggugurkan satu bagian amal jamai yang hukumnya fardu kifayah. Jika tidak ada yang melakukan, semua kaum muslimin berdosa.

Jika dilihat secara makro, mereka sedang menyelesaikan target antara untuk tujuan akhir yang paling utama. Yaitu menegakkan daulah Islam yang menyatukan kaum muslimin. Dan untuk mewujudkan tujuan itu, ada banyak bagian yang perlu dipersiapkan.

Baca juga: Pilar-Pilar Hukum Daulah Islamiyah

Syaikh Shalah shawi dalam Al-Jami’ fi usuhul amal Islami juga optimis bahwa banyaknya jamaah atau ormas Islami pada masa kini bak kepingan batu bata yang jika disusun akan membentuk satu rumah bernama jamaatul muslimin. Beriltizam dalam satu jamaah adalah bukti nyata usaha untuk mewujudkan persatuan ummat dalam arti global. Selama abnaul harakah istiqamah dan bisa memurnikan dari fanatisme terhadap kelompok. Tujuan ini akan tercapai. Insyaallah. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 110, hal 20

Penulis             : Abdullah

Editor               : Ibnu Alatas