Saudi, Eksekusi dan Harapan Kosong

 

Khilafah adalah payung bagi umat Islam sedunia. Namun ia menjadi mimpi sejak 1924. Setelah runtuhnya Khilafah Utsmani di Turki, tiada lagi naungan yang melindungi umat dari panasnya kezaliman musuh-musuh Islam. Tiada lagi penahan yang mencegah umat diserang hujan kelemahan dan kenistaan.

Lalu wilayah umat Islam dipecah belah menjadi negeri-negeri kecil yang dikuasai para pemimpin beraqidah nasionalisme, kabilahisme, feodalisme atau isme-isme lain selain Islam. Meski Islam telah dihilangkan dari jiwa para pemimpin itu, jasad dan kulit mereka tetap Islam. Jadilah negeri-negeri Muslim dikuasai para zombie, berjasad Muslim, namun jiwa Islamnya telah hilang.

Mirip seperti zombie, para penguasa negeri Muslim tak pernah independen. Mereka digerakkan oleh tuan yang dahulu mematikan jiwa Islamnya, lalu menghembuskan kekafiran dalam jasadnya. Jadilah mereka alat  kekuatan kafir untuk segala urusan. Maka mengalirlah kekayaan dan keringat, bahkan darah bangsa Muslim untuk kekayaan dan kejayaan kekuasaan kafir yang menguasai dunia.

Tangan-tangan kekuasaan zombie itu bahkan digerakkan untuk mencakari wajah dan tubuhnya sendiri, sehingga jasad yang sudah rusak pun semakin parah. Jangan bangga kalau melihat zombie memperkuat persenjataan dan kekuatan militer, itu hanyalah cakar tajam yang akan digunakan merobek tubuh sendiri.

Tengok saja misalnya negeri-negeri Muslim kaya di Timur Tengah. Setiap tahun mereka berlomba-lomba membeli persenjataan terbaru dan tercanggih. Namun, mereka membiarkan Palestina masih dikuasai Israel tanpa pembelaan. Mereka juga membiarkan ratusan ribu Muslim dibantai rejim Syiah Nushairi di Suriah.

Para tuan zombie yang jago sihir paham, boneka hidup yang mereka peralat akan dihabisi kekuasaannya oleh bangsa Muslim yang punya jiwa Islam sebagai buah ilmu dan ketaqwaan. Maka mereka pun memoles zombienya dengan sorban, peci dan berbagai atribut Islam lainnya. Gunanya untuk menipu kaumnya agar mereka tak berontak karena dipimpin boneka kafir.

Tak sekedar sorban dan peci, sampai batas tertentu para zombie pun menunjukkan keislaman mereka. Batasnya satu saja, asal mereka tak memimpin kaumnya berbalik melawan tuannya. Maka jangan tertipu dengan masjid yang mereka bangun, Quran yang mereka cetak, selama masih setia pada tuannya mereka hanyalah zombie tanpa jiwa.

Menzalimi Muslim

Lebih terbalik lagi, para zombie itu lebih khawatir terhadap gerakan Islam daripada musuh aqidah yang kafir dan sesat. Sudah lazim terjadi, para mujahid yang ingin berjihad membela bumi kaum Muslimin yang terjajah justru lebih banyak dieksekusi oleh zombie yang menguasai negerinya daripada terbunuh di medan jihad.

Awal januari 2016 lalu Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi menyatakan telah mengeksekusi 47 orang yang didakwa kasus terorisme. Eksekusi dilaksanakan pada Sabtu pagi 2 Januari di 12 lokasi berbeda. Sebagian besar yang dieksekusi adalah dari kalangan Muslim bahkan mujahidin.

Meski demikian, mungkin untuk mengesankan kerajaan berlaku adil dan tak pandang bulu, empat diantaranya merupakan orang Syi’ah, termasuk petinggi agama Syi’ah asal Saudi, Namr Baqir Amin Al-Namr. Tokoh Syi’ah berusia 56 tahun itu adalah pendukung protes anti-pemerintah yang meletus secara massal di Provinsi timur Arab Saudi pada 2011.

Langkah itu berbuah manis secara politis. Eksekusi ini kemudian disambut amarah kaum Syi’ah di seluruh dunia. Hiruk-pikuknya menjadi berita utama dan menutupi kenyataan bahwa sebenarnya Saudi hanya menghukum sedikit tokoh Syi’ah yang berbahaya secara aqidah.

Saudi lebih serius dan lebih banyak mengeksekusi kalangan jihadis. Di antaranya Faris Al-Shuwail yang ditangkap pada Agustus 2004 silam, yang oleh media Saudi digambarkan sebagai ulama Al-Qaidah Saudi. Dia sempat dikabarkan berbaiat kepada Daulah Islam Iraq dan Suriah di selama masa tahanan di penjaranya.

Dari 47 orang yang dieksekusi, 45 diantaranya merupakan warga Saudi. Dua lainnya berasal dari Mesir dan Chad. Pemerintah Saudi mengatakan bahwa sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang terlibat dalam serangkaian serangan yang dilakukan Al-Qaidah pada tahun 2003-2006.

Hukuman mati yang diterapkan Kerajaan Saudi umumnya karena tiga perkara. Pertama memiliki “Manhaj Takfiri” berisikan doktrin Khawarij yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Ijma’ Salafus Shalih.

Kedua, menyerang markas keamanan dan militer. Tuduhan ini juga berlaku bagi Namr, yang dinyatakan terbukti menembak dan melakukan serangan bom molotov kepada polisi dalam demonstrasi anti-pemerintah di Qatif dari 2011 sampai 2013.

Ketiga, merusak ekonomi nasional, mencoreng nama baik kerajaan dan merusak hubungan bilateral dengan negara-negara sahabat. Yaitu serangan ke kompleks ekspatriat Barat, gedung pemerintah dan misi-misi diplomatik dari 2003 sampai 2006. Serangan yang menjadi bagian dari upaya mujahidin menjalankan pesan terakhir Rasulullah SAW sebelum wafat,  mengusir kaum kafir dari Bumi Haramain.

Harapan dan Mimpi

Meski demikian, sekelompok kaum Muslimin yang aktif mengambangkan dakwah atas nama sunnah dan manhaj salafus shalih memandang berlebihan terhadap posisi Saudi Arabia. Kemauan politiknya yang lemah untuk membela kaum Muslimin selama ini dibiarkan begitu saja.

Lebih lanjut, mereka bahkan menganggap Saudi dan para rajanya adalah pemimpin umat yang wajib ditaati, bahkan meskipun mereka memukuli punggung umat Islam dengan kejam. Ide konyol ini bahkan dikembangkan hingga ke negeri ini.

Pertama mereka menyamakan para penguasa Saudi dengan ulil amri kaum Muslimin di masa lalu yang masih menegakkan syariat Islam dan berjihad melindungi bumi kaum Muslimin. Setelah cukup mabuk dengan ide ini, lalu mereka menyamakan penguasa lainnya di negeri kaum Muslimin. Termasuk di Indonesia.

Salah fikir dan sesat pandang ini tentu berbahaya bagi umat dan bagi mereka sendiri. Namun Allah Maha Adil, makar kelompok itu yang selalu menjilat pada penguasa berbuah kedengkian dari kelompok penjilat lainnya. Kini mereka sedang kerepotan menghadapi tekanan bertubi-tubi karena dituding Wahabi.

Mereka agaknya lupa, kedengkian dan kecemburuan di antara sesama penjilat seringkali lebih keji daripada permusuhan lawan. Semoga berbagai peristiwa akhir-akhir ini membawa kesadaran pada mereka, agar menetapkan wala dan baro’ sesuai syariat Islam, bukan berdasar ta’ashub hizbiyah dan kebodohan. Amien Ya Rabbal ‘Alamien. (Ibnu)

Disadur dari majalah Islam An-Najah Edisi123, Februari 2016, Rubrik Telisik.