Saudi – Iran – Jihad Global; Pertarungan Visi

 

Dunia terperangah, pada 2 Januari 2016 kerajaan Arab Saudi melaksanakan hukuman mati terhadap 47 napi politik. Dari jumlah tersebut, 43 orang anggota Al-Qaeda, sementara 4 orang aktifis Syi’ah. Salah satunya tokoh paling berpengaruh, Nimr al-Nimr.

Eksekusi ini melahirkan gelombang protes kaum Syi’ah, kedutaan Saudi di Teheran dibakar massa dan konsulatnya di Masyhad dirusak. Saudi murka dan meresponnya dengan memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Wajar Saudi meradang, sebab Saudi mengeksekusi warganya sendiri tapi Iran ikut campur tangan. Apalagi Iran adalah rival terkuat di kawasan.

Timur Tengah sudah lama bergolak. Saudi diam-diam mendukung Sunni, sementara Iran terang-terangan membantu Basyar Asad. Saudi – Iran sejatinya berebut pengaruh, tapi bermain dari balik layar, tak saling berhadapan muka.

Saudi Serba Salah

Saudi hari ini adalah Saudi yang gamang. Harga minyak sangat rendah karena membanjirnya pasokan. Untuk pertama kali Saudi mengurangi subsisi minyak untuk warganya sampai 50 persen. Saat harga minyak di Indonesia turun, warga Saudi justru merasakan kenaikan harga. Ini menjadi pertanda bahwa Saudi yang mengandalkan minyak mulai terganggu dengan harga yang terus turun mendekati level biaya produksi. Jika keadaan ini berkepanjangan tak menutup kemungkinan akan melahirkan pergolakan sosial.

Saudi terlibat langsung dalam konflik Yaman, otomatis membutuhkan anggaran besar. Belum lagi anggaran yang harus dikeluarkan untuk membendung ancaman Syi’ah (Iran) dan Mujahidin. Dalam situasi banyak anggaran yang harus disediakan, qadarallah harga minyak turun berkepanjangan padahal minyak adalah urat nadi perekonomian Saudi.

Eksekusi terhadap anggota Al-Qaeda meningkatkan tensi ancaman terhadap Saudi. Al-Qaeda cepat atau lambat akan membuat perhitungan. Padahal secara strategis, membiarkan tahanan Al-Qaeda hidup bisa menjadi alat tawar di hadapan Barat, mengingat Barat paranoid terhadap Al-Qaeda.

Jika AS berulah terhadap Saudi, Saudi tinggal mengancam akan melepas tahanan Al-Qaeda. Tapi alat tawar itu kini hilang hanya karena ingin memberi pesan kemarahan terhadap Al-Qaeda tanpa keuntungan strategis yang jelas. Celakanya Al-Qaeda bukan tipe yang mempan digertak. Bagi mereka kematian itu jalan kehidupan. Sebaliknya, ini menjadi alasan logis bagi Al-Qaeda untuk mengancam Saudi.

Seharusnya Saudi melihat realita, Al-Qaeda sekarang bukan yang dulu. Mereka mendapat simpati masyarakat. Eksekusi tak akan mengubah opini tentang Al-Qaeda, saat kepahlawanan kembali menjadi primadona. Walhasil, patut dipertanyakan apa keuntungan strategis Saudi dalam mengeksekusi tahanan Al-Qaeda? Alih-alih keuntungan strategis, para pengamat justru menyayangkan keputusan Saudi yang dinilai gegabah.

Saudi sebagaimana negara-negara lain dalam posisi serba salah. Jika Al-Qaeda dibiarkan akan melahirkan ancaman, diberantas juga tidak mempan. Mungkin ini refleksi gamang Saudi dalam menempatkan diri di tengah perubahan dan pergolakan dahsyat di Timur Tengah. Terbukti manuver saudi tak memberi guncangan apapun bagi jihad global.

Menanti Konsistensi Jihad Global

Eksekusi ini merefleksikan persaingan segitiga antara Saudi – Iran – mujahidin global. Dua entitas pertama berbasiskan negara yang diakui PBB, sementara yang terakhir hanya gerakan klandestin yang tertatih menapaki eksistensi. Namun, Barat ternyata lebih paranoid terhadap jihad global dibanding terhadap Saudi atau Iran.

Penyebabnya sederhana, karena hanya mujahidin global yang punya visi tegas dan aqidah wala’ wal bara’ yang dijadikan pegangan diplomasi. Sedangkan Saudi dan Iran tak lebih kaum pragmatis yang mencari kekuasaan, atau sekurangnya mempertahankan warisan kekuasaan dari leluhur. Siapapun bisa jadi kawan atau lawan, asal masuk dalam kalkulasi untung rugi politik duniawi.

Jika demikian dapat dikatakan bahwa konflik Saudi – Iran hanya semu, tidak sungguh-sungguh karena konflik ideologi. Indikasinya sederhana, ketika Saudi punya track-record bergandengan tangan mesra dengan AS sang penjajah umat, tidak mustahil Saudi akan bermesraan dengan Iran. Meski Saudi beraliran Sunni dan Iran beraliran Syi’ah. Orang cerdas tak akan mudah tertipu dengan perseteruan semu.

Berbeda dengan mujahidin global. Motif mereka masih orisinil, tidak terbebani belitan politik dan ekonomi. Mereka fokus membangun kekuatan tanpa peduli dengan pasang surut dinamika kawasan. Keteguhan semacam ini yang akan memberi masa depan cerah untuk jihad global, dengan ijin Allah.

Karena itu diamnya komunitas jihad global yang tak merespon eksekusi Saudi dengan pembalasan segera, bisa ditafsirkan sebagai bentuk kematangan visi mereka. Bagaimanapun Saudi bukan musuh utama saat ini. Sibuknya Saudi berseteru dengan Iran bisa diambil keuntungan oleh jihad global, setidaknya ada yang membantu menghadapi kejahatan Syi’ah apapun motifnya. Jihad global tetap fokus pada proyek dua lengan mereka; Suriah (Syam) dan Yaman.

Jihad global fokus dengan proyeknya sendiri, tak mencari muka kepada siapapun, tak terpengaruh dengan gejolak apapun. Mereka terbiasa bekerja dalam tekanan tinggi untuk menyongsong masa depan yang mereka rencanakan sendiri hanya dengan bantuan Allah lalu umat Islam.

Pada sisi lain, Syi’ah (Iran) makin jauh terseret pusaran konflik. Kekuatan Syi’ah kuat saat tak terlalu nampak batang hidungnya. Ketika sudah terlihat nyata dan terlibat langsung dalam peperangan, sejarah memberi data kekalahan berulang, dengan ijin Allah. Semoga ini menjadi isyarat dekatnya kehancuran mereka.

Saudi telah lama membuang aqidah wala wal bara dalam permainan politiknya, baik dalam negeri apalagi luar negeri. Siapapun bisa menjadi kawan atau lawan selagi menguntungkan. Mereka dahulu mendapat karunia kekuasaan karena pembelaan terhadap Tauhid. Tapi ketika bagian dari Tauhid, yaitu aqidah wala wal bara ditinggalkan, datangnya kehinaan hanya soal waktu. Saudi ibarat meniti jalan menuju senjakala.

Tinggal tersisa entitas jihad global yang bermanhaj ahlussunnah dan beraqidah wala wal bara dalam berpolitik serta bingkai fi sabilillah dalam jihadnya. Selagi mereka konsisten dalam jalan tersebut, semua badai akan berlalu dan fajar kemenangan akan segera terbit biidznillah.  Semua syarat kemenangan sudah tersedia; darah muda, kematangan visi, pengalaman tempur, kepemimpinan solid, aqidah teguh dan diplomasi santun! Semoga! (*)

Diambil dari majalah Islam An-Najah Edisi 123, Januari 2016, Rubrik Kolom