Saya Indonesia Tapi Bagi Saya Islam di Atas Segalanya

Saya orang Indonesia, tapi bukan Nasionalisme
Saya orang Indonesia, tapi bukan Nasionalisme

An-Najah.net – Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa orang kafir akan senantiasa memusuhi dan memerangi kaum muslim. Mereka tidak akan putus asa, sampai kaum muslimin mengikuti ideologi kekafiran mereka.

Baik ‘ideologi samawi’ (Yahudi dan Nasrani), maupun ‘ideologi ardhi’ (Demokrasi, sekularisme, kapitalisme, liberalisme, pluralisme, nasionalisme, humanisme, Hindu, Budha dan seterusnya)

Sebagaimana firman-Nya yang berbunyi,

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (QS. Al-Baqarah: 217)

Dalam firman-Nya yang lain, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Ungkapan Yang Nista

Salah satu bukti kebenaran firman Allah Ta’ala di atas adalah, ungkapan seorang orientalis Perancis, Keymond, dalam bukunya “Patologi Islam”. Dia menulis, “Agama Muhammad adalah penyakit kusta yang menyebar di tengah masyarakat, dan melanda mereka dengan parah. la adalah penyakit yang membuat payah dan kelumpuhan massal.

la adalah kegilaan pikiran yang mendorong manusia untuk melarat dan malas. Ia tidak menyadarkan manusia dari kemelaratan dan kemalasan, kecuali untuk menumpahkan darah, menenggak minuman keras dan melakukan semua bentuk kemesuman.

Baca juga: Kebengisan PKI Saat Membumihanguskan Kampung Kauman, Magetan

Karenanya, kuburan Muhammad adalah tiang listrik yang membuat kepala orang-orang Islam menjadi gila. Mereka menampakkan gejala-gejala kerasukan setan dan kegilaan pikiran yang tiada ujungnya.

Mereka terbiasa untuk berbalik dari tabiat asli kemanusiaan, seperti membenci daging babi, minuman keras dan musik. Seluruh ajaran Islam tegak di atas kekerasan dan kemesuman dalam meraih kepuasan!” Ungkapnya kemudian, “Saya yakin, kita harus membinasakan seperlima umat Islam, menghukum sisanya dengan kerja paksa yang berat, menghancurkan Kabah dan menempatkan mayat Muhammad di museum Lofer.”

Lebih lanjut Raja Louis IX yang tertawan dalam perang salib di Manshurah, Mesir menulis, “Tidak mungkin meraih kemenangan atas umat Islam melalui peperangan. Kita hanya akan bisa mengalahkan mereka, dengan cara sebagai berikut:

Pertama, menimbulkan perpecahan di kalangan pemimpin umat Islam. Jika sudah terjadi, perluaslah ruangnya sehingga perselisihan ini menjadi faktor yang melemahkan umat Islam.

Kedua, tidak memberi peluang berkuasanya seorang penguasa yang shalih di negeri-negeri Islam dan Arab.

Ketiga, merusak pemerintahan di negara-negara Islam dengan suap, kerusakan dan wanita, sehingga fondasi bangunan terpisah dengan puncak bangunan.

Keempat, mencegah munculnya tentara yang meyakini hak atas tanah airnya, rela berkorban demi membela prinsip tanah airnya. Inilah ungkapan kotor mereka. Sayangnya, sebagian besar umat Islam tidak menyadarinya. Ungkapan kotor mereka saat ini, sudah terealisasikan. Umumnya di dunia ini, khususnya di negeri pertiwi (Indonesia) ini.

Kasih Sayang Yang Semu

Ada sebuah ayat Al-Quran yang mengisyaratkan bahwa suatu masyarakat sengaja menjadikan “berhala” tertentu sebagai perekat hubungan antara satu individu dengan individu Iainnya. Sedemikian rupa “berhala” itu diagungkan sehingga di tubuh sebuah masyarakat “penyembahnya” tumbuh semacam perasaan “kasih-sayang” satu sama lain di antara mereka.

Suatu bentuk kasih sayang yang bersifat artifisial (tidak alami) dan temporal. la bukan kasih-sayang yang sejati apalagi abadi. Gambaran mengenai berhala pencipta kasih sayang palsu ini dijelaskan oleh Allah Ta’ala berkenaan dengan kisah Nabi Ibrahim,

Dan berkata Ibrahim, Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang Iain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang Iain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekaIi-kali tak ada bagimu para penolong pun.” (QS. AI-Ankabut: 25)

“Berhala-berhala” di zaman dahulu adalah patung yang disembah dan dijadikan pemersatu para penyembahnya. Padahal, berhala itu merupakan produk bikinan man usia. Di zaman modern sekarang “berhala” bisa berupa aneka ideologi (isme), falsafah, sistem tatanan hidup (way of life) produk bikinan manusia.

Baca juga: Karena Umat Islam Satu Kesatuan

Manusia modern “menyembah” berhala-berhala tersebut dan menjadikannya sebagai media “pemersatu” antar-individu dan kelompok masyarakat. Berhala modern itu menciptakan semacam persatuan dan rasa kasih sayang yang berlaku sebatas kehidupan mereka di dunia saja. la bisa bernama Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Liberalisme, Nasionalisme atau apa pun selain itu.

Berhala modern yang kini sangat populer dan sering dielu-elukan adalah paham Nasionalisme. Syaikh Abdul Aziz bin Baz, dalam “Naqdu AI-Qaumiyah AI-‘Arabiyah’ (Kritik atas Nasionalisme Arab), mengatakan, “Alasan keempat yang menegaskan batilnya seruan nasionalisme Arab; seruan kepada nasionalisme Arab dan bergabung di sekitar bendera nasionalisme Arab pasti akan mengakibatkan masyarakat menolak hukum Al-Qur’an.

Sebabnya karena orang-orang nasionalis non muslim tidak akan pernah ridha bila syariat Islam dijadikan undang-undang. Hal ini memaksa para pemimpin nasionalisme untuk menetapkan hukum-hukum positif yang menyelisihi hukum Al-Quran.

Hukum positif tersebut menyamakan kedudukan seluruh anggota masyarakat nasionalis di hadapan hukum. Hal ini telah sering mereka tegaskan. lni adalah kerusakan yang besar, kekafiran yang nyata dan jelas-jelas murtad.” Contoh yang terjadi di dunia Arab ini, mewakili pula apa yang terjadi di Indonesia.

Racun Mematikan

Kini, jelaslah bahwa nasionalisme merupakan sebuah paham yang sangat berbahaya dan mengandung racun mematikan. Dampaknya sudah mulai kita rasakan. Ketika kaum muslimin di belahan bumi lain diperangi, hak-hak mereka dirampas, muslimat-muslimat diperkosa, anak-anak mereka dibunuh, kaum nasionalis Islam di Indonesia.

Misalnya, mengatakan, “Biarkan saja, toh tidak ada nenek kita di sana. Tidak ada family kita yang tinggal di sana, dan tidak ada orang Indonesia yang hidup di sana.” Mereka acuh tak acuh, bahkan mendiamkannya padahal mereka adalah saudara-saudara seiman dan seislam. Ikatan persaudaraannya lebih kuat dibandingkan persaudaraan sedarah.

Baca juga: Menjalin Ukhuwah Menghindari Fitnah

Terakhir, mari kita serukan kalimat ini, “Saya Orang Indonesia, Tetapi Saya Adalah Muslim! Saya wajib membela saudara-saudara saya seislam sekalipun mereka bukan orang Indonesia, bukan kakek saya, bukan family saya, dan bukan apa-apa saya, tetapi karena mereka adalah Muslim. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 47, hal. 37, 38

Penulis             : Azhar

Editor               : Ibnu Alatas