Seabad Revolusi Arab

Pembagian wilayah bedasarkan perjanjian Sykes-Picot (Epic History TV)
Pembagian wilayah bedasarkan perjanjian Sykes-Picot (Epic History TV)
Pembagian wilayah bedasarkan perjanjian Sykes-Picot (Epic History TV)

An-najah.net – Bulan ini seabad silam, sebuah peristiwa besar mengubah wajah dunia Islam dan Timur Tengah. Pada tahun 1916 Perancis dan Inggris melakukan perundingan rahasia untuk membagi wilayah Timur Tengah. Perundingan itu menghasilkan Perjanjian Sykes-Picot yang busuk. Isinya, Perancis menguasai Lebanon dan Suriah, sementara Inggris menguasai Irak dan Transjordan, sementara Palestina akan dikuasai bersama.

Tanggal  5 Juni 1916, meskipun tahu adanya perjanjian Sykes-Picot, Syarif Husain dari Hijaz memulai revolusi Arab melawan Khilafah Turki Utsmani. Ia memperhitungkan bahwa peluangnya lebih baik dengan memihak Inggris daripada Utsmani. Ambisi menguasai jazirah Arab dan menjadi raja membuatnya bekerjasama dengan pihak kafir untuk memerangi sesama Muslim.

Pada tanggal 16 Juni 1918, dalam pernyataan di depan para pemimpin Arab, Inggris menegaskan lagi janjinya di awal untuk mendukung “kemerdekaan penuh dan berdaulat bagi bangsa Arab” di Jazirah Arab. Inggris juga menyatakan bahwa masa depan Irak dan Palestina akan ditentukan sesuai “prinsip persetujuan penduduknya.”

Sementara terkait Suriah dan Mosul, Inggris menginginkan “kaum yang tertindas di kawasan itu harus mendapatkan kemerdekaannya.” Pernyataan itu disambut sukacita dunia Arab dan menghilangkan kekhawatiran terkait Deklarasi Balfour dan kecurangan Sykes-Picot.

Deklarasi Balfour adalah janji pemerintah Inggris untuk memberikan negara bagi kaum Yahudi di Timur Tengah. Inilah buah terpahit Sykes-Picot bagi umat Islam, runtuhnya Khilafah Utsmani dan berdirinya negara Zionis Israel di tanah suci Al-Quds Palestina. Ironisnya, proses itu didukung oleh sebagian pemuka Arab yang haus kekuasaan dan melancarkan revolusi.

Kesudahan revolusi itu tragis. Boro-boro menjadi Raja Arab, Syarif Husain dan keluarganya malah tersingkir dari Makkah. Mereka akhirnya mendirikan kerajaan Yordan yang kecil pengaruhnya dan hingga kini menjalankan peran yang hina, pendukung Barat dalam mengamankan Israel.

Kemerdekaan bagi bangsa Arab juga omong kosong. Memang mereka lepas dari kekuasaan Khilafah Turki Utsmani, namun mereka justru dijajah oleh bangsa Kristen. Irak dijajah Barat hingga kini sedangkan Palestina diserahkan pada kaum Yahudi.

Sementara Syam, kawasan itu dipecah-pecah. Lebanon diserahkan pada orang Kristen, Suriah diserahkan pada Syi’ah Nushairi, sementara Yordan menjadi jatah keturunan Syarif Husain. Penjarahan berlanjut hingga hari ini, yaitu kezaliman atas Muslim Suriah dan Palestina oleh komplotan Yahudi, Salibis, Syiah dan Arab munafik.

Cinta dunia yang menguasai jiwa Syarif Husain memicu Revolusi Arab. Sementara takut mati yang dialami para pemimpin Arab hingga hari ini membuat Timur Tengah dikangkangi Zionis dan Salibis secara leluasa.

Meskipun Yahudi hanya segelintir, kini mereka bisa mendikte  negara-negara Arab dengan meminjam kekuatan Salibis Barat. Amerika, Inggris, Perancis dan PBB bekerja sepenuh tenaga untuk mengamankan negeri Zionis. Inilah buah al-wahn yang Allah campakkan ke dalam hati para pemimpin dunia Islam. Semoga menjadi pelajaran bagi kita hari ini.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 127 Rubrik Renungan Hal ; 64

Editor : Anwar