Sebab-Sebab Penyimpangan Aqidah

dadaAda asap pasti ada api. Ada penyimpangan aqidah pasti ada sebab-sebabnya. Pada hakekatnya manusia diciptakan Allah dalam kondisi fitrah dalam arti bertauhid kepada Allah Swt. Hal ini sebagaimana firman Allah :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum : 30)

Rasulullah juga mempertegas melalui dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan Imam Muslim : Rasulullah menyampaikan dalam khutbahnya, “Sesungguhnya rabbku telah memerintahkan kepadaku untuk mengajarkan kepada kalian apa yang tidak kalian ketahui dari apa yang hari ini Allah ajarkan kepadaku. Sesugguhnya Allah telah berfirman: “Sesungguhnya aku telah menciptakan hamba-hambaku dalam keadaan hunafa’ (lurus, bertauhid). Namun sesat-setan mendatangi mereka, menyelewengkan mereka dari din mereka, dan mengharamkan kepada manusia apa yang telah aku halalkan bagi mereka.” (HR. Muslim, No : 5109).

 

Sebab Akibat Penyimpangan

Secara garis besar, penyimpangan yang terjadi dalam bidang aqidah memiliki beberapa sebab yang melatarbelakanginya. Menurut Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan menjelaskan paling tidak ada 7 sebab seseorang terjatuh dalam penyimpangan Aqidah :

Pertama; Ketidak tahuan aqidah yang benar. Ketidaktahuan ini terjadi kerena mereka enggan dan tidak menaruh perhatian persoalan aqidah. Karena berbagai alasan, mereka tidak mau mempelajari aqidah yang benar. Sebagai akibatnya, mereka tidak mampu mengajarkan aqidah yang benar kepada anak-anak, keluarga, dan generasi penerus mereka. Akhirnya muncullah dibelakang mereka satu generasi yang tumbuh dalam kebodohan terhadap hakikat aqidah.

Seorang tidak mengetahui aqidah islam yang benar dan lurus, secara otomatis juga tidak mengetahui dan tidak bisa membedakan perkara-perkara yang bertentangan dengan aqidah islam. Akibatnya, kebenaran dan kebatilan bercampur aduk menjadi satu. Amat wajar bila akhirnya mereka menganggap kebenaran sebagai kebatilan dan menganggap kebatilan sebagai sesuatu yang benar.

Kedua, fanatisme buta terhadap ada istiadat nenek moyang dan berpegang teguh dengan tradisi  kolot mereka, meskipun mereka jelas-jelas mengetahui bahwa tradisi dan budaya tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka lebih bangga mengikuti budaya yang salah daripada mengikuti hidayah Allah yang datang kepada mereka. Allah Swt berfirman : “Dan jika dikatakan kepada mereka: “Ikutilah wahyu yang diturunkan oleh Allah!” Mereka menjawab, “Kami lebih memilih untuk mengikuti tradisi nenek moyang kami. (Apakah mereka akan tetap mengikuti tradisi nenek moyang mereka), sekalipun nenek moyang mereka tidak bisa berpikir dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah : 170).

Ketiga, Taklid buta terhadap semua perkataan manusia tanpa menggunakan ilmu  yang benar dan petunjuk wahyu. Segala pendapat dan keyakinan yang diajarkan oleh guru-guru dan pemimpin-pemimpin diikuti begitu saja, tanpa menimbang kesesuaiannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ketaatan secara membabi buta ini sangat bertentangan dengan perintah Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk memberdayakan akal dalam rangka memahami ayat-ayat Allah yang bersifat syar’iyah (Al-Qur’an dan As-Sunnah) maupun kauniyah (alam semesta).

Taklid buta terhadap pendapat para tokoh panutan tanpa mempunyai pengetahuan tentang dasarnya dan tanpa menimbang kesesuaiannya dengan syari’at, merupakan salah satu hal yang paling dikhawatirkan oleh Rasulullah akan menghancurkan umat islam. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih;

وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الأَئِمَةِ  الْمُضلِّيْنَ

“Yang aku khawatirkan akan menimpa umatku, justru adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Abu Daud : Kitab Fitan No. 3710)

Keempat; Berlebih-lebihan dalam bersikap terhadap wali dan orang shalih diantara mereka. Terdorong oleh keinginan untuk memuliakan orang-orang shalih dan para wali sebagaimana umat islam terjatuh dalam sikap berlebih-lebihan dan keluar dari batas yang diperintahkan oleh syari’at. Mereka menyakini orang-orang shalih dan para wali tersebut adalah orang-orang yang mempunyai kedudukan terhormat disisi Allah. Untuk itu, bila menginginkan permohonannya dikabulkan oleh Allah, bencana yang menimpa disingkirkan, dan kesulitan hidupnya dimudahkan, mereka harus menjadikan orang-orang shalih dan para wali tersebut sebagai perantara antara mereka dengan Allah.

Keyakinan-keyakinan salah seperti ini akhirnya menumbuhkan kultus individu kepada para wali dan orang-orang shalih. Mereka lantas membangun tempat-tempat ibadah diatas kuburan orang-orang shalih, atau melaksanakan ritual ibadah di sisi kuburan mereka.

Secara perlahan dan bertahap, perbuatan mereka meningkat sampai taraf memohon dikabulkan kebutuhan dan dijauhkan dari marabahaya, kepada para wali dan orang-orang shalih yang telah mati tersebut. Tidak jauh berbeda dengan kesyirikan yang dahulu terhadap pada kaum nabi Nuh.

Rasulullah memperingatkan umat Islam agar tidak terjatuh kedalam jurang kesyirikan yang telah membenamkan kaum Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrik umat-umat terdahulu ini. Rasulullah mengingatkan kita ketika Rasulullah mengalami sakit yang membawa kematian beliau, beliau menutupi wajahnya dengan selembar kain halus. Setiap kali wajah berliau tertutup kain, beliau lantas menyingkapnya. Dalam keadaan sakit parah seperti itu, beliau bersabda; “Laknat Allah menimpa kaum Yahudi dan Nasrani, karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid tempat ibadah.” Nabi bersabda demikian agar umatnya tidak melakukan hal yang dilakukan oleh mereka kaum Yahudi dan Nasrani.

Kelima; Lalai dari mentadaburi ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kauni maupun Qur’ani. Banyak manusia yang telah tenggelam dalam cinta dunia. Mereka menjadikan dunia sebagai segala-galanya, sehingga persoalan aqidah tidak mendapatkan perhatian sedikit pun. Benar dan salahnya aqidah, kokoh dan rapuhnya aqidah, sama sekali tidak ia pedulikan. Kalaupun mereka mengkaji berbagai fenomena yang terjadi di alam semesta ini, tujuannya adalah untuk penemuan ilmiah semata. Ujung-ujungnya adalah kebanggaan akan kemampuan akal pikiran mereka semata. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban yang mereka capai, tidak mampu menghantarkan mereka untuk tunduk patuh dan bersimpuh dihadapan-Nya.

Keenam, Kebanyakan rumah-rumah yang ada sekarang ini telah kosong dari cahaya tauhid, hampa dari hidayah-Nya dan jauh dari mempelajarinya. Para penghuninya sudah tidak lagi mempedulikan esensi tauhid. Bahkan sebaliknya, mereka mengisi rumah-rumah tersebut dengan sesuatu yang justru menghancurkan aqidah dan menyelewengkannya sejauh-jauhnya.

Pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya di dalam rumah, merupakan dasar pertama yang membentuk aqidah seorang anak. Sayangnya, kebanyakan orang tua pada masa sekarang mempunyai pemahaman dan kesadaran beragama yang yang sangat lemah. Ilmu mereka tentang aqidah yang benar dan urgensinya bagi kehidupan seorang anak sangatlah minim.

Peranan ibu dan bapak yang seharusnya memberikan bimbingan aqidah sejak dini, tidak mampu mereka tunaikan. Sejak dini, anak-anak diajari berbagai ucapan perbuatan, dan keyakinan yang tidak membentuk pola pembentukan dan pembinaan aqidah yang benar. Sejak usia-usia awal perkembangan jiwa dan kepribadiannya, anak tidak dikenalkan dengan aqidah yang lurus dan kokoh. Pembinaan aqidah akhirnya diwakili oleh acara TV dan artikel-artikel koran atau majalah, yang sebagian besar mengajak kepada kesyirikan dan aqidah yang rusak.

Ketujuh, Kekosongan atau minimnya sarana pembinaan aqidah yang seharusnya ditumbuhkan dan dikembangkan secara luas dan merata. Kurikulum pendidikan sejak jenjang TK hingga perguruan tinggi, kebanyakan tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan aqidah islam yang lurus, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali.

Sedangkan informasi, baik media cetak maupun media elektronik telah berubah menjadi saran penghancuran dan perusak, atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat materi dan hiburan semata. Media massa tidak memperhatikan hal-hal yang dapat meluruskan moral, menanamkan aqidah yang lurus, serta menangkis aliran-aliran sesat.* (Anwar/Annajah)