Sebuah Renungan Untuk Para Orang Tua

 

An-najah.net – Muqatil bin Sulaiman mengunjungi khalifah Abu Ja’far Al-Manshur (95 – 158 H) di hari pertama ia diangkat sebagai khalifah untuk menggantikan Khalifah Abul Abbas As-Saffah.

Khalifah kedua dari dinasti Abbasiyah tersebut meminta kepada Muqatil, “Beri saya nasehat, wahai tuan guru.”

“Nasehat apa? Dari kejadian yang aku saksikan atau dari cerita yang aku dengar?”

“Tentu saja dari pengalaman yang anda saksikan sendiri.”

“Baiklah wahai Amirul Mukminin. Saya akan sedikit bercerita. Khalifah Umar bin Abdul Aziz memiliki 11 anak. Ketika ia wafat meninggalkan warisan hanya 18 dinar. Itupun masih dikurangi 5 dinar untuk membeli kafan dan 4 dinar untuk membeli tanah makam. Sisanya 9 dinar dibagi kepada semua ahli warisnya.

Hisyam bin Abdul Malik, yang menjadi khalifah 4 tahun setelah Umar wafat, juga memiliki 11 anak. Ketika ia meninggal, tiap anaknya mendapat warisan 1 juta dinar.

Sungguh, demi Allah, di satu hari yang sama aku menyaksikan sebuah ironi. Yaitu; salah satu putra Umar bin Abdul Aziz bersedekah 100 ekor unta untuk jihad fi sabilillah. Sedangkan salah satu putra Hisyam bin Abdul Malik mengemis di pasar.

Lalu apa rahasianya? Ketahuilah ketika Umar bin Abdul Aziz sekarat menjelang ajal, ia ditanya: ‘apa yang kau wariskan untuk anak-anakmu?’

‘Aku wariskan takwa untuk mereka. Jika mereka menjadi orang-orang yang shalih, Allah akan menolong mereka. Andai mereka menjadi orang yang tidak baik, paling tidak aku tidak menyisakan warisan yg bisa mereka gunakan untuk bermaksiat.’”

Kisah yang diceritakan oleh Muqatil bin Sulaiman ini bisa menjadi sebuah renungan. Tujuan orang tua berjibaku membanting tulang dan memeras keringat tiada lain demi masa depan anak-anaknya. Mereka tidak ingin buah hatinya hidup susah apalagi menderita. Orang tua rela hidup susah, asalkan anak-anaknya bisa senang.

Namun, dalam perjuangan tersebut banyak yang lupa, bahwa ada warisan lain yang juga harus ditinggalkan untuk sang buah hati. Yaitu takwa, yang seharusnya menjadi warisan utama. Banyak orang yang mengira warisan harta yang melimpah bisa menjamin masa depan sang anak. Kemudian lupa bahwa jaminan masa depan yang cerah untuk anak ada dalam firman Allah berikut:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّـهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)(Anwar/annajah/telegram.me/AnNajahNews)