Sekjen MIUMI ; Tindakan Penistaan Charlie Hebdo, Bisa Jadi Titik Balik Kehancuran Peradaban Barat

Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir
Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir

Jakarta (An-najah.net) – Tindakan Charlie Hebdo yang kembali memuat kartun Nabi dinilai sebagai tindakan kebodohan. Menurut Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), kebencian dan penistaan terhadap Nabi Muhammad SAW bisa menjadi titik balik kehancuran peradaban Barat.

Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir menyatakan kesedihannya atas penistaan yang dilakukan majalah Prancis tersebut terhadap Nabi Muhammad. Namun penistaan itu justru menunjukkan kebodohan Barat.

“Betapa bodohnya mereka tidak bercermin pada sejarah,” kata Ustadz Bachtiar Nasir kepada Kiblat.net di Jakarta, Selasa (20/01).

“Ketika mereka betul-betul memuncak kebenciannya terhadap Rasullullah SAW lalu menistakannya terang-terangan, ini bisa jadi titik balik kehancuran mereka sesungguhnya,” imbuh Ustadz yang akrab disapa UBN itu.

Seperti diketahui bahwa majalah Charlie Hebdo telah mendapatkan serangan pada Kamis (08/01), sebagai pembalasan akibat ulahnya yang sering menghina umat Islam dengan memuat kartun Nabi Muhammad. Sebanyak 12 orang tewas dalam serangan itu, termasuk pemimpin redaksi Stephane Charbonnier.

Namun serangan itu tak membuat mereka itu jera. Seusai mendapat serangan mereka kembali memuat kartun Nabi dalam 5 juta eksemplar majalah terbarunya.

Ustadz Bachtiar Nasir mengungkapkan bahwa saat ini negara-negara barat sedang mengalami puncak kegelisahan terhadap perkembangan Islam. Di sejumlah negara seperti Prancis, Inggris, Belgia, dan Jerman diperkirakan Islam akan menjadi mayoritas dalam beberapa tahun mendatang.

Kebangkitan Islam, lanjut Ustadz Bachtiar Nasir, telah nampak dari tumbuh pesatnya masjid-masjid Eropa. Hal itu berbanding terbalik dengan perkembangan gereja, yang dijual murah. “Gereja dijual murah, sementara masjid sedang banyak-banyaknya,” katanya.

Dia melanjutkan bahwa Eropa telah melupakan kondisi pada masyarakatnya sendiri. Masyarakat yang berakal sehat itu tidak mudah dibohongi. “Akan menjadi bom waktu bagi mereka sendiri dan harusnya mereka melek berapa jumlah orang-orang mereka yang masuk Islam,” ungkapnya.(Anwar/kiblat/annajah)