Sengaja Berbuka Di Bulan Ramadhan Tanpa Uzur Syar’i

Sengaja berbuka
Sengaja berbuka

An-Najah.net – Berpuasa Ramadhan merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. ‎Meninggalkan puasa dengan sengaja adalah perbuatan dosa besar. Kecuali sebagian orang yang ‎tidak dapat melaksanakannya atau banyak menemui kesulitan jika melaksanakannya. ‎

Segala kesulitan yang menghalangi puasa ini disebut uzur Syar’i. Seperti, bersafar, perempuan ‎yang haid, nifas, orang yang sakit dan lain semisalnya. Selama uzur tersebut dibenarkan syari’at ‎Islam.‎

Lantas di sini ada persoalan, seseorang telah berbuka puasa di bulan Ramadhan lima tahun silam, ‎sebanyak empat hari tanpa ada udur syar’i. Dan sekarang sudah berlalu lima tahun, apa yang ‎harus dia lakukan? Apakah meng-qodho’-nya, atau kafarat bagi dia? ‎

Dalam persoalan ini, Syaikh Abdul Azis bin Baz menjelaskan dalam buku fatwanya, ada tiga ‎perkara yang harus dia kerjakan.‎

Pertama: Segera bertaubat kepada Allah Ta’ala dari perbuatan ini dan menyesal atas ‎perbuatannya yang berbuka di bulan Ramadhan tanpa uzur syar’i. Dan wajib bagi dia untuk ‎meng-qodho’-nya sebelum bulan Ramadhan datang kembali. Serta berazam untuk tidak ‎mengulangi perbuatan yang serupa. Karena Allah Ta’ala berfirman:‎

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون

‎“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. ‎An-Nuur :31)‎

Karena berbuka di bulan Ramadhan tanpa uzur syar’i seperti ini adalah termasuk perbuatan ‎maksiat, maka bertaubat kepada Allah Ta’ala adalah wajib.‎

Kedua: Segera mengganti puasanya sebanyak empat hari. Karena Allah Ta’ala berfirman,‎

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“…Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka ‎hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia ‎berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-‎hari yang lain…” (Q.S Al-Baqoroh: 185)‎

Ayat di atas menjelaskan orang sakit dan musafir boleh tidak berpuasa karena ada uzur syar’i. ‎Maka bab yang paling utama bagi seseorang yang sengaja berbuka tanpa uzur syar’i maka dia ‎harus bertaubat dengan segera. ‎

Ketiga: Memberi makan satu orang miskin untuk setiap harinya. Semuanya diberikan meskipun ‎kepada satu orang miskin. Dengan kadar 1,5 kg makanan pokok di daerah itu. Semoga Allah ‎Ta’ala mengampuni kita dan menerima taubat kita semua. Wallahu ‘alam (Syaikh Abdul Azis bin ‎Baz. Majmu Fatawa Ibnu bin Baz, Jilid : 15 hlm: 336-337, versi Maktabah Syamila)‎

Penulis: Ibnu Jihad

Editor: Ibnu Alatas