Sepenggal Episode Perang Uhud untuk Ukhti…

Gemercing suara mata pedang beradu, di iring derap langkah kaki kuda nan terengah-engah membelah kepulan debu yang menyisakan perih di hati. Hiruk pikuk suara saling bersahutan, berusaha menjatuhkan mental lawan. Lantang gema takbir “Allahu Akbar” menggema di padang pasir mengangkasa mengungguli bukit di sekitarnya.

Laju anak panah yang meluncur dari busur menyibak segenap jiwa mencoba mengejar sasarannya, dan satu persatu jatuh tersungkur bersimbah darah meregang nyawa. Tampaklah wajah-wajah ceria memancarkan cahaya iman dalam dada saat menyambut kesyahidannya, namun banyak wajah penuh duka karena mati dalam keingkaran terhadap Allah ‘Azza wa Jalla.

Episode demi episode pun berlalu seiring berputarnya roda waktu. Dan gelombang pasukan Keimanan telah berhasil melibas tentara kebatilan, pelan tapi pasti pasukan berhala pun mulai mundur dan lari meninggalkan medan laga dan mencari selamat dan sembunyi, dan semua ditinggal kecuali yang melekat pada diri.

Pasukan Keimanan semakin hebat mendesak lawan mengejar musuh yang ketakutan sambil mengumpulkan harta rampasan, dan kemenangan serasa sudah ada di hadapan. Hingga suatu ketika bencana itu bermula…… saat sejumlah anggota pasukan mulai melupakan tugasnya dan terbuai dengan kemenangan yang ada di depan mata, terpikat harta yang berserakan di mana-mana, melambai dan memanggil untuk diambil.

Yah…. sekelompok pasukan pemanah yang ditugaskan untuk berjaga di sebuah pos di atas bukit turun meninggalkan posisinya tanpa seizin Sang Panglima, walau komandan sudah mengingatkannya agar tetap di posisi semula apa pun yang terjadi, sesuai yang diperintahkan Panglima jangan pernah meninggalkan puncak bukit kecuali setelah dapat perintah, apa pun yang terjadi baik menang ataupun kalah.

Dan angin segar berhembus menghampiri Khalid, sang panglima perang tentara kekafiran waktu itu, melihat puncak bukit ditinggalkan penjaganya. Dan diputarlah arah pergerakan pasukannya untuk merebut bukit yang menjadi benteng pasukan keimanan dan ternyata tak banyak perlawanan karena tidak ada penjaga selain beberapa orang saja.

Dan alur cerita pun berubah,  pasukan Khalid balik menyerang dari belakang hingga pasukan keimanan kaget bukan kepalang hingga shok dan kewalahan. Panglima ( Rasulullah) pun terluka, dan banyak shahabat yang menemukan kesyahidannya. Kemenangan yang sudah ada di pelupuk mata dalam sekejap hilang entah ke mana, berganti luka bertabur lara………….

Saudariku, mari sejenak menyimak peristiwa itu agar kita bisa ambil pelajaran untuk diterapkan dalam kehidupan. Betapa besar bencana yang bisa muncul akibat kita melalaikan amanah dan meninggalkan pos jaga kita masing-masing. Ketika di perang Uhud maka puncak bukit Uhud adalah bentengnya dan pasukan pemanah yang bertugas jaga, namun saat ini, rumah kita adalah benteng terakhir bagi kita agar bisa menyelamatkan keimanan keluarga, anak-anak penerus generasi.

Senjata yang digunakan musuh tidak semua berupa pedang, belati, senapan, rudal ataupun bom, namun banyak senjata mereka yang sudah masuk mendobrak benteng terakhir kaum muslimin, membombardir rumah mereka, dengan berbagai syubhat  dan syahwat menikam generasi umat islam yang tinggal di dalamnya, dan tanpa kita sadari banyak jiwa anak yang mati walau raga masih utuh dan bergerak lagi, hidup layaknya zombi.

Yang lebih tragis lagi ketika sang komandan penjaga benteng asyik larut mencari dan mengejar harta sehingga lupa dengan posnya. Mereka tinggalkan rumahnya untuk keluar bekerja bersaing bersama suami-suami mereka. Mereka rela menukar kehidupan jiwa anak-anak dengan harta yang tiada seberapa.

Saudariku, jangan pernah meninggalkan rumah untuk mengejar dunia dan meninggalkan anak-anak yang telah diamanahkan Allah untuk dijaga.  Allah sudah memberikan tugas yang berbeda, dan menganugerahi bekal yang berbeda pula, jangan dipaksa untuk sama karena yang akan di dapat adalah bencana. wallahu a’lam. (The losing generation)